Kepala Perusahaam Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Samarinda Adi Yanuar yang hadir pada kegiatan panen padi menyebut badan usaha milik negara tersebut siap menampung hasil panen jagung petani di seluruh wilayah Kaltim, termasuk dari program ketahanan pangan Polri yang turut menanam di sejumlah lahan produktif.
“Bulog sangat mendukung hasil panen jagung dari Polda Kaltim dan para petani lokal. Kami siap menyerap sesuai standar kualitas yang ditetapkan,” ujar Adi kepada Korankaltim.com disela kegiatan panen.
Bulog melakukan penyerapan dalam dua kategori harga, tergantung kadar air dan kandungan alfa toksin. Jagung dengan kadar air maksimal 14 persen dibeli seharga Rp6.400 per kilogram sementara jagung dengan kadar air 15–20 persen dihargai Rp5.500 per kilogram.
“Harga kami tetapkan berdasarkan kualitas. Karena itu semakin kering dan bersih jagungnya semakin tinggi nilai yang diterima petani,” papar Adi lagi.
Produktivitas jagung di Benua Etam disebutnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun persoalan geografis masih menjadi tantangan dalam distribusi ke gudang Bulog. Banyak sentra produksi berada cukup jauh dari fasilitas penyimpanan. “Perlu upaya ekstra untuk menjemput hasil panen di lapangan. Jarak gudang yang jauh membuat biaya logistik meningkat,” jelasnya.
Meski begitu, yang paling dikeluhkan petani saat ini adalah minimnya sarana pengeringan modern. Sebagian besar petani masih mengandalkan lantai jemur sebagai metode utama, hal mana yang rentan terganggu cuaca dan bisa menurunkan kualitas jagung.
“Kendalanya memang di pengeringan. Kalau hanya mengandalkan panas matahari, butuh waktu lama dan resiko rusak juga besar. Harapan kami ada tambahan infrastruktur berupa dryer atau bed dryer agar pengeringan lebih cepat dan stabil,” ungkap Adi.
Kehadiran teknologi pengeringan modern bukan sekadar mempersingkat waktu, tapi juga menjamin mutu hasil panen yang lebih konsisten. Jagung yang dikeringkan dengan baik akan memiliki kadar air ideal dan tahan disimpan lebih lama — faktor penting untuk menjaga pasokan nasional.
“Dengan dukungan infrastruktur dan sinergi semua pihak, saya optimistis jagung Kaltim bisa menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional,” pungkas Adi.
Editor: Aspian Nur