Para mahasiswa tersebut menuntut keseriusan pemerintah provinsi untuk membenahi infrastruktur jalan di wilayah pedalaman Mahulu yang hingga kini masih memprihatinkan.
Koordinator Lapangan (Koorlap) aksi, Papilus Klaasen, menyampaikan pihaknya datang dari lima kecamatan di Mahulu, dengan membawa aspirasi masyarakat pedalaman yang selama ini merasa terabaikan dalam pembangunan, khususnya terkait akses jalan.
Dia menuturkan, bahwa kondisi jalan di Mahulu, terutama menuju Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai, masih sangat buruk dan tidak layak digunakan.
“Setiap tahun kami hanya bisa berharap, tapi realitanya masyarakat Mahulu masih harus bergantung pada sungai sebagai jalur utama. Mulai dari Long Bagun ke Long Pahangai saja, jalan darat rusak parah, bahkan kendaraan roda empat saja seperti Triton pun sering tak mampu menembus medan tersebut,” ujar Papilus.
Dia menuturkan, hingga saat ini tidak ada akses jalan darat dari Long Pahangai ke Long Apari. Bahkan beberapa jembatan antar kampung juga dilaporkan rusak berat hingga terputus, membuat distribusi barang dan layanan publik sangat terhambat.
“Perjalanan dari Mahulu ke Samarinda bisa sampai 18 jam, tergantung cuaca dan kondisi jalan, kondisi ini bukan hanya menyulitkan, tapi menghambat seluruh aktivitas warga,” ucapnya.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, yang menyambangi para massa aksi menyatakan komitmennya untuk mendorong percepatan pembangunan jalan di Mahulu.
Dalam pertemuan bersama perwakilan mahasiswa, dirinya mengungkapkan bahwa Pemprov Kaltim telah mengalokasikan Rp200 miliar dari APBD untuk pembangunan jalan dari Batas Tering ke Ujoh Bilang serta tambahan Rp300 miliar dari APBN.
“Sementara baru sekitar Rp80 miliar mulai dikucurkan tahun ini dalam skema multiyears, sisanya akan disalurkan hingga 2026, ditambah lagi Rp120 miliar dari APBD dan sisa Rp220 miliar dari APBN,” katanya.
Seno berharap, dengan total anggaran yang cukup besar, pembangunan jalan ke Kabupaten Mahulu dapat segera dirampungkan dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Editor: Erwin