Anjungan Kaltim di TMII, menurut Wagub Seno, berfungsi sebagai etalase budaya, pariwisata dan program pembangunan Provinsi Kalimantan Timur di Jakarta.
“Anjungan ini kan lebih mempromosikan Kaltim yang saat ini sudah menjadi pintu gerbang ibu kota negara,” katanya.
Promosi dan informasi terkait anjungan pun ungkap Wagub, harus lebih intensif dan melibatkan semua pihak dan stakeholder terkait.
“Keberadaan anjungan ini sendiri harus sudah tersampaikan ke masyarakat umum,” pintanya.
Diakuinya, anjungan menjadi garda penyampai informasi bahwa Kaltim bukan hanya kaya sumber daya alam. “Tetapi kaya akan khasanah seni dan budaya, bahkan sejarah bangsa ada di Benua Etam,” jelasnya.
Wagub Seno sangat berharap pengelola anjungan Kaltim mampu menampilkan berbagai informasi dan potensi seni budaya Kaltim. Di antaranya, baju adat atau pakaian khas dari kulit kayu, anyaman rotan, juga kursi dan perlengkapan adat lainnya.
“Kita harus terus menggali kekayaan khasanah budaya Kaltim dan ditampilkan dalam bentuk koleksi di sini, sehingga orang semakin tertarik untuk datang berkunjung langsung ke daerah Kaltim,” terangnya.
Saat acara, Wagub Kaltim meminta pengelola anjungan menyuguhkan berbagai kuliner khas dari 10 kabupaten dan kota.
“Selain soto dan nasi kuning, juga ada masakan khas Kutai dan Dayak yang bisa dinikmati segala kalangan,” harapnya.
Kreativitas dan inovasi pengelola anjungan menjadi faktor utama meningkatkan angka kunjungan ke anjungan Kaltim. “Kita ingin orang tahu di mana itu Kaltim, suku dan budaya apa saja di sana, sehingga masyarakat Indonesia teredukasi,” pesannya.
Kepala Seksi Promosi dan Informasi Endang Sri Wahyuni menyebutkan kunjungan ke Anjungan Kaltim cukup banyak setiap bulannya.
“Kunjungan di anjungan kita mencapai 2.000 sampai 3.000 orang setiap bulan, termasuk wisatawan mancanegara,” sebut Endang Sri Wahyuni didampingi Kasi Hubungan Antarlembaga Yuli Mustika Sari dan Mahdaleny.
Untuk menambah tingkat kunjungan, pihak pengelola Anjungan Kaltim rutin menggelar ajang seni dan budaya dari kabupaten dan kota se-Kaltim.
“Setiap event yang kita gelar, banyak pelajar dan masyarakat di Jakarta juga daerah lainnya yang teredukasi terkait seni dan budaya Kaltim,” bebernya. (*/yans/sul/ky)