Orang nomor satu di Samarinda itu menyebutkan bahwa berbagai opsi sudah mulai dibicarakan, seperti wacana jalan layang hingga terowongan, akan tetapi sepertinya ia lebih tertarik pada pembangunan terowongan berdasarkan pertimbangan finansial namun dampaknya sangat baik. “Jalan di Sungai Dama kita mau lebarkan biayanya sangat tinggi, kita juga pernah ingin mengambil metode dengan fly over dan terowongan walaupun biayanya kurang lebih sama, tapi ada nilai tersendiri jika kita memakai terowongan,” ucapnya saat ditemui, Senin (7/6).
Meskipun dari segi anggaran kurang lebih sama, namun bebernya terdapat perbedaan signifikan, di antaranya biaya penanganan dampak sosial yang bisa diminimalisir. Mantan Wakil Ketua DPRD Kaltim itu juga mengakui bahwa dalam waktu dekat ini kajian teknis untuk lebih memastikan bahwa hadirnya terowongan itu tidak membahayakan bagi lingkungan sekitar. “Sekarang kita sedang melakukan perencanaan teknis bahkan timnya mungkin sudah sampai merencanakan studi lalu lintasnya,” beber AH sapaan akrabnya.
Lantaran perencanaan tersebut juga masih membutuhkan anggaran yang sangat besar maka Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda juga tengah merencanakan dengan skema anggaran Multi Years Contrak (MYC). “Kita juga berharap dari Bantuan Keuangan (Bankeu) Provinsi Kaltim bahkan Pemerintah Pusat,” harapnya
Ia membeberkan juga estimasi anggaran untuk pembangunan tersebut mencapai angka estimasi Rp 456 miliar belum termasuk dampak sosial sedangkan untuk pembangunan jalan layang memakan estimasi anggaran sekitar Rp 550 miliar juga belum termasuk dampak sosial.
Penulis : */ Vico
Editor : Bambang Irawan