Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - SMP Negeri 3 Tenggarong memperkuat pengawasan dan pendampingan terhadap peserta didik melalui penerapan inovasi redesign Kurikulum Merdeka.
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - SMP Negeri 3 Tenggarong memperkuat pengawasan dan pendampingan terhadap peserta didik melalui penerapan inovasi redesign Kurikulum Merdeka.
Langkah tersebut difokuskan pada deteksi dini perubahan perilaku siswa yang mulai diterapkan pada tahun ajaran baru 2026.
Kepala SMPN 3 Tenggarong, Sariyani, mengatakan penerapan inovasi kurikulum tersebut menjadi salah satu upaya sekolah memetakan kebutuhan pendampingan siswa yang duduk dibangku kelas tujuh.
Peserta didik yang membutuhkan perhatian lebih akan mendapatkan bimbingan secara intensif melalui pendekatan khusus.
“Kami sudah jalankan itu, di SMPN 3 memang ada perhatian khusus, apalagi redesign kurikulum 2026 yang dilakukan khusus untuk kelas tujuh. Kami memisahkan siswa-siswa yang mulai ada indikasi ke sana untuk bimbingan dan perlakuan khusus,” ujar Sariyani kepada KoranKaltim.com, Jumat (30/10/2026).
Untuk siswa di kelas delapan dan sembilan, pengawasan dilakukan secara melekat sejak awal masuk sekolah. Sariyani menegaskan, jika ditemukan indikasi kedekatan atau perilaku yang mengarah pada penyimpangan sosial maupun seksual, Guru Bimbingan Konseling (BK) akan langsung melakukan intervensi.
“Ada beberapa indikasi awal yang dipantau oleh pihak sekolah seperti perubahan pola pertemanan yang tidak wajar seperti siswa laki-laki yang menutup diri dari temannya hingga perubahan gestur tubuh sehari-hari, itu sudah kita deteksi,” bebernya.
Sariyani mengungkapkan, pada tahun lalu, sekolah sempat mendapatkan satu kasus penyimpangan di luar sekolah yang melibatkan salah satu siswanya. Karena perilaku siswa tersebut tidak menunjukkan gejala berbeda selama di sekolah.
Pihak sekolah dinilai baru mengetahui kejadian tersebut setelah menerima panggilan dari kepolisian. Kasus tersebut pun langsung diserahkan dan ditangani bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta aparat penegak hukum.
“Untuk kasus ini sudah selesai, kami juga telah menindak tegas siswa itu,” tegasnya.
Belajar dari evaluasi tersebut, SMPN 3 Tenggarong kini memperketat benteng pengawasan. Selain mendesain ulang kurikulum, mereka juga melibatkan tenaga psikolog profesional melalui berbagai rangkaian tes untuk membaca kondisi psikologis siswa secara akurat.
“Selain intervensi di sekolah, kami juga gencar mengedukasi para orang tua murid melalui program parenting yang digelar dua kali dalam satu tahun ajaran,” ungkapnya.
Ia mengimbau sekaligus mengingatkan para orang tua, peran terbesar dalam mengawasi anak berada di lingkungan rumah, tidak hanya di sekolah.
“Imbauan kami kepada orang tua, tolong deteksi secara dini anak-anak kita. Lihat bagaimana pergaulannya dan bagaimana perlakuannya terhadap sesama temannya. Yang paling bisa mendeteksi pertama kali adalah orang tua, karena sekolah ini kan waktunya hanya beberapa jam saja. Meski begitu, dari pihak sekolah kami akan tetap terus mendeteksi dan mengawasi,” tutupnya.
Editor: Erwin
Langkah tersebut difokuskan pada deteksi dini perubahan perilaku siswa yang mulai diterapkan pada tahun ajaran baru 2026.
Kepala SMPN 3 Tenggarong, Sariyani, mengatakan penerapan inovasi kurikulum tersebut menjadi salah satu upaya sekolah memetakan kebutuhan pendampingan siswa yang duduk dibangku kelas tujuh.
Peserta didik yang membutuhkan perhatian lebih akan mendapatkan bimbingan secara intensif melalui pendekatan khusus.
“Kami sudah jalankan itu, di SMPN 3 memang ada perhatian khusus, apalagi redesign kurikulum 2026 yang dilakukan khusus untuk kelas tujuh. Kami memisahkan siswa-siswa yang mulai ada indikasi ke sana untuk bimbingan dan perlakuan khusus,” ujar Sariyani kepada KoranKaltim.com, Jumat (30/10/2026).

Untuk siswa di kelas delapan dan sembilan, pengawasan dilakukan secara melekat sejak awal masuk sekolah. Sariyani menegaskan, jika ditemukan indikasi kedekatan atau perilaku yang mengarah pada penyimpangan sosial maupun seksual, Guru Bimbingan Konseling (BK) akan langsung melakukan intervensi.
“Ada beberapa indikasi awal yang dipantau oleh pihak sekolah seperti perubahan pola pertemanan yang tidak wajar seperti siswa laki-laki yang menutup diri dari temannya hingga perubahan gestur tubuh sehari-hari, itu sudah kita deteksi,” bebernya.
Sariyani mengungkapkan, pada tahun lalu, sekolah sempat mendapatkan satu kasus penyimpangan di luar sekolah yang melibatkan salah satu siswanya. Karena perilaku siswa tersebut tidak menunjukkan gejala berbeda selama di sekolah.
Pihak sekolah dinilai baru mengetahui kejadian tersebut setelah menerima panggilan dari kepolisian. Kasus tersebut pun langsung diserahkan dan ditangani bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta aparat penegak hukum.

“Untuk kasus ini sudah selesai, kami juga telah menindak tegas siswa itu,” tegasnya.
Belajar dari evaluasi tersebut, SMPN 3 Tenggarong kini memperketat benteng pengawasan. Selain mendesain ulang kurikulum, mereka juga melibatkan tenaga psikolog profesional melalui berbagai rangkaian tes untuk membaca kondisi psikologis siswa secara akurat.
“Selain intervensi di sekolah, kami juga gencar mengedukasi para orang tua murid melalui program parenting yang digelar dua kali dalam satu tahun ajaran,” ungkapnya.
Ia mengimbau sekaligus mengingatkan para orang tua, peran terbesar dalam mengawasi anak berada di lingkungan rumah, tidak hanya di sekolah.







“Imbauan kami kepada orang tua, tolong deteksi secara dini anak-anak kita. Lihat bagaimana pergaulannya dan bagaimana perlakuannya terhadap sesama temannya. Yang paling bisa mendeteksi pertama kali adalah orang tua, karena sekolah ini kan waktunya hanya beberapa jam saja. Meski begitu, dari pihak sekolah kami akan tetap terus mendeteksi dan mengawasi,” tutupnya.
Editor: Erwin





Pusat gempa berada di darat 7 km barat daya Samosir
30 Okt 2026, 17:29:39 WIB • Kedalaman 3 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG
