Penulis: Muhammad Heriansyah
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – MAN 2 Kutai Kartanegara (Kukar) karena berhasil mengukir prestasi membanggakan di tingkat nasional dengan menembus 30 besar Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Riset 2026.
Penulis: Muhammad Heriansyah
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – MAN 2 Kutai Kartanegara (Kukar) karena berhasil mengukir prestasi membanggakan di tingkat nasional dengan menembus 30 besar Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Riset 2026.
Capaian ini sekaligus menempatkan MAN 2 Kukar sebagai satu-satunya madrasah dari Kalimantan Timur yang berhasil melaju hingga tahap tersebut.
Tak ingin berhenti sampai di sini, tim riset MAN 2 Kukar kini semakin mematangkan persiapan untuk merebut tiket menuju enam besar nasional.
Kepala MAN 2 Kukar Ummi Puji Astutik mengatakan berbagai penguatan dilakukan, mulai dari penyempurnaan substansi penelitian, validasi akademis hingga pemantapan presentasi inovasi.
Prestasi tersebut diraih melalui penelitian bertajuk “AKAR CIKAL: Smart Monitoring Berbasis Gamifikasi dan Ekoteologi untuk Karakter Peduli Lingkungan di Madrasah”. Sebuah inovasi yang memadukan teknologi digital dengan nilai-nilai ekoteologi Islam untuk membangun karakter peduli lingkungan di kalangan peserta didik.
“Tim kebanggaan MAN 2 Kukar ini diperkuat tiga siswi berprestasi, yakni Khessa Astina Maharani dari kelas XII-9, Humaira Salpina Ramadhani dari XI-6, dan Salsabila Chyntia Calista dari XI-7. Ketiganya dibimbing Rofi Indrawan, S.Kom,” katanya Ummi kepada Korankaltim.com, Jumat (30/10/2026).
Sebagai upaya meningkatkan kualitas penelitian, tim mengikuti Bimbingan dan Penguatan OMI Riset yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam melalui Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada 7–9 Oktober 2026 di Pusat Pendidikan Pancasila dan Konstitusi, Mahkamah Konstitusi RI, Cisarua, Bogor.
Dalam kegiatan tersebut, tim memperoleh pendampingan sekaligus validasi dari tiga akademisi sesuai bidang keahlian masing-masing. Yakni Muhammad Fajri dari UINSI Samarinda sebagai ahli materi ekoteologi Islam, Riezdqhy Amalina Farahiyah Al Husna dari Universitas Mulawarman sebagai ahli pendidikan karakter, serta Muhammad Bambang Firdaus dari Universitas Mulawarman sebagai ahli media dan teknologi informasi.
Dukungan juga datang dari Kepala Bidang Pendidikan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, H. Sabransyah. Ia memberikan arahan agar capaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga menjadi momentum bagi madrasah untuk menunjukkan kualitas riset dan inovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Sabransyah menekankan pentingnya memanfaatkan pendampingan para ahli untuk memperkuat argumentasi ilmiah, menyempurnakan metodologi penelitian, serta memastikan inovasi yang dihasilkan benar-benar memiliki manfaat dan dapat diterapkan.
“Keberhasilan MAN 2 Kutai Kartanegara menjadi satu-satunya madrasah dari Kalimantan Timur yang menembus 30 besar OMI Riset nasional merupakan capaian yang patut diapresiasi. Kami berharap prestasi ini menjadi penyemangat bagi tim untuk terus bekerja keras, terbuka terhadap masukan para validator, dan menyempurnakan hasil penelitian,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar para peserta mempersiapkan presentasi secara maksimal, sehingga keunggulan penelitian dapat disampaikan secara sistematis, meyakinkan, dan didukung data yang kuat.
Kepala MAN 2 Kukar Ummi Puji Astutik menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas perjuangan ketiga siswinya. Menurutnya, keberhasilan menembus 30 besar nasional merupakan buah dari kerja keras peserta didik, pembimbing, serta dukungan orang tua dan seluruh keluarga besar madrasah.
“Alhamdulillah, kami sangat bangga atas pencapaian Tim Riset MAN 2 Kukar yang berhasil masuk 30 besar OMI Riset tingkat nasional. Terlebih, MAN 2 Kukar menjadi satu-satunya madrasah dari Kalimantan Timur yang berhasil mencapai tahap ini. Kami berharap capaian tersebut menjadi motivasi bagi seluruh warga madrasah untuk terus berinovasi dan berprestasi,” ungkap Ummi.
Ia menjelaskan, inovasi AKAR CIKAL memiliki nilai lebih karena tidak sekadar mengembangkan teknologi, tetapi juga membawa misi pendidikan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui sistem smart monitoring yang dipadukan dengan gamifikasi dan ekoteologi Islam, penelitian tersebut diharapkan mampu menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih menarik sekaligus mendorong kebiasaan positif dalam menjaga lingkungan madrasah.
“Inovasi AKAR CIKAL memadukan teknologi smart monitoring, gamifikasi, dan nilai-nilai ekoteologi Islam untuk menumbuhkan karakter peduli lingkungan di madrasah. Kami berharap penelitian ini tidak hanya mengantarkan tim meraih prestasi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi penguatan pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan,” tambahnya.
Ummi menegaskan, pihak madrasah akan terus memberikan dukungan agar tim dapat memanfaatkan setiap masukan dari para validator untuk menyempurnakan penelitian sebelum menghadapi tahapan selanjutnya.
Dengan bekal prestasi nasional, pendampingan akademisi, serta dukungan Kanwil Kemenag Kaltim dan keluarga besar madrasah, MAN 2 Kukar kini menatap persaingan enam besar OMI Riset nasional.
“Lebih dari sekadar mengejar gelar juara, capaian ini menjadi bukti bahwa madrasah di daerah mampu melahirkan gagasan riset berbasis teknologi, ilmu pengetahuan, dan nilai keislaman yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tutupnya.
Editor: Erwin
Capaian ini sekaligus menempatkan MAN 2 Kukar sebagai satu-satunya madrasah dari Kalimantan Timur yang berhasil melaju hingga tahap tersebut.
Tak ingin berhenti sampai di sini, tim riset MAN 2 Kukar kini semakin mematangkan persiapan untuk merebut tiket menuju enam besar nasional.
Kepala MAN 2 Kukar Ummi Puji Astutik mengatakan berbagai penguatan dilakukan, mulai dari penyempurnaan substansi penelitian, validasi akademis hingga pemantapan presentasi inovasi.
Prestasi tersebut diraih melalui penelitian bertajuk “AKAR CIKAL: Smart Monitoring Berbasis Gamifikasi dan Ekoteologi untuk Karakter Peduli Lingkungan di Madrasah”. Sebuah inovasi yang memadukan teknologi digital dengan nilai-nilai ekoteologi Islam untuk membangun karakter peduli lingkungan di kalangan peserta didik.

“Tim kebanggaan MAN 2 Kukar ini diperkuat tiga siswi berprestasi, yakni Khessa Astina Maharani dari kelas XII-9, Humaira Salpina Ramadhani dari XI-6, dan Salsabila Chyntia Calista dari XI-7. Ketiganya dibimbing Rofi Indrawan, S.Kom,” katanya Ummi kepada Korankaltim.com, Jumat (30/10/2026).
Sebagai upaya meningkatkan kualitas penelitian, tim mengikuti Bimbingan dan Penguatan OMI Riset yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam melalui Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada 7–9 Oktober 2026 di Pusat Pendidikan Pancasila dan Konstitusi, Mahkamah Konstitusi RI, Cisarua, Bogor.
Dalam kegiatan tersebut, tim memperoleh pendampingan sekaligus validasi dari tiga akademisi sesuai bidang keahlian masing-masing. Yakni Muhammad Fajri dari UINSI Samarinda sebagai ahli materi ekoteologi Islam, Riezdqhy Amalina Farahiyah Al Husna dari Universitas Mulawarman sebagai ahli pendidikan karakter, serta Muhammad Bambang Firdaus dari Universitas Mulawarman sebagai ahli media dan teknologi informasi.
Dukungan juga datang dari Kepala Bidang Pendidikan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, H. Sabransyah. Ia memberikan arahan agar capaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga menjadi momentum bagi madrasah untuk menunjukkan kualitas riset dan inovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional.







Sabransyah menekankan pentingnya memanfaatkan pendampingan para ahli untuk memperkuat argumentasi ilmiah, menyempurnakan metodologi penelitian, serta memastikan inovasi yang dihasilkan benar-benar memiliki manfaat dan dapat diterapkan.
“Keberhasilan MAN 2 Kutai Kartanegara menjadi satu-satunya madrasah dari Kalimantan Timur yang menembus 30 besar OMI Riset nasional merupakan capaian yang patut diapresiasi. Kami berharap prestasi ini menjadi penyemangat bagi tim untuk terus bekerja keras, terbuka terhadap masukan para validator, dan menyempurnakan hasil penelitian,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar para peserta mempersiapkan presentasi secara maksimal, sehingga keunggulan penelitian dapat disampaikan secara sistematis, meyakinkan, dan didukung data yang kuat.
Kepala MAN 2 Kukar Ummi Puji Astutik menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas perjuangan ketiga siswinya. Menurutnya, keberhasilan menembus 30 besar nasional merupakan buah dari kerja keras peserta didik, pembimbing, serta dukungan orang tua dan seluruh keluarga besar madrasah.

“Alhamdulillah, kami sangat bangga atas pencapaian Tim Riset MAN 2 Kukar yang berhasil masuk 30 besar OMI Riset tingkat nasional. Terlebih, MAN 2 Kukar menjadi satu-satunya madrasah dari Kalimantan Timur yang berhasil mencapai tahap ini. Kami berharap capaian tersebut menjadi motivasi bagi seluruh warga madrasah untuk terus berinovasi dan berprestasi,” ungkap Ummi.
Ia menjelaskan, inovasi AKAR CIKAL memiliki nilai lebih karena tidak sekadar mengembangkan teknologi, tetapi juga membawa misi pendidikan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui sistem smart monitoring yang dipadukan dengan gamifikasi dan ekoteologi Islam, penelitian tersebut diharapkan mampu menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih menarik sekaligus mendorong kebiasaan positif dalam menjaga lingkungan madrasah.
“Inovasi AKAR CIKAL memadukan teknologi smart monitoring, gamifikasi, dan nilai-nilai ekoteologi Islam untuk menumbuhkan karakter peduli lingkungan di madrasah. Kami berharap penelitian ini tidak hanya mengantarkan tim meraih prestasi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi penguatan pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan,” tambahnya.

Ummi menegaskan, pihak madrasah akan terus memberikan dukungan agar tim dapat memanfaatkan setiap masukan dari para validator untuk menyempurnakan penelitian sebelum menghadapi tahapan selanjutnya.
Dengan bekal prestasi nasional, pendampingan akademisi, serta dukungan Kanwil Kemenag Kaltim dan keluarga besar madrasah, MAN 2 Kukar kini menatap persaingan enam besar OMI Riset nasional.
“Lebih dari sekadar mengejar gelar juara, capaian ini menjadi bukti bahwa madrasah di daerah mampu melahirkan gagasan riset berbasis teknologi, ilmu pengetahuan, dan nilai keislaman yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tutupnya.
Editor: Erwin




Pusat gempa berada di 20 km Timur Laut Kota Sorong
30 Okt 2026, 13:03:45 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG
