Guru yang juga gemar bersepeda ini, memiliki nama pena Sriningsih Hutomo. Kini, karya-karyanya sudah melanglang buana, baik dalam bentuk buku, novel, cerpen atau puisi sering muncul di rubrik media cetak di Kaltim. Tak hanya bentuk konvensional, kini Novelnya di salah satu platform novel digital, laris. Bahkan menyentuh 2.300 pembaca, hingga November 2021 ini.
Sebagai seorang ibu serta sebagai abdi negara, jemarinya tak kaku melahirkan karya.
Saat ditemui di salah satu cafe remaja di Jalan Parkesit Bontang Baru, Ibu guru yang akrab disapa Mba Nining ini bercerita, kalau kegiatan menulisnya itu, sudah ada sejak lama.
Kira-kira saat dirinya menjadi mahasiswa di salah satu universitas di Malang. Di usianya sekitar 19 tahun itu sedang gemarnya menulis puisi dan cerita pendek.
"Surat kabar kampus dan media lokal di Malang, sudah akrab dengan puisinya. Berhasil dimuat," ujar Nining.
Meskipun begitu, setelah lulus aktivitas menulisnya sempat terhenti. Setelah lulus menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di tahun 2009, ia mulai sibuk dengan tugas-tugasnya, namun minatnya untuk menulis akhirnya bisa kembali digelutinya sejak bertemu platform digital menulis online, bahkan lebih serius mengembangkan karir menulisnya.
Tahun 2019, sayap Sriningsih semakin berkembang. Ia masuk dalam kategori Penyair Perempuan Indonesia (PPI), menimbah ilmu melalui Jaring Penulis Kaltim. Salah satu komunitas menulis pertama di Kalimantan Timur. Pun saat itu, mulai merambah ke platform novel digital.
Ia menyebutkan, royaltinya bahkan sudah mencapai Rp 7 Juta pada 2021. Tak hanya itu, karya-karya nya juga mulai di bukukan, selain buku ada sekitar 4-5 novel yang telah tayang diplatform digital dan tahap cetak.
Selain genre prosa, ia pun menggeluti puisi, bahkan salah satu surat kabar dengan jangkauan Kalimantan Timur, pun tertarik memuat puisinya di salah satu rubrik khusus sastra.
Sriningsih sendiri, bisa disebut merupakan penulis perempuan pertama yang berani berkompetisi diplatform digital novel online, sebagai salah satu anggota Penyair Perempuan Pindonesia (PPI), ia memiliki sumbangsih mengharumkan nama PPI di kancah Kaltim. Bahkan lewat PPI tulisannya kerap satu frame dengan penulis nasional dan satu frame dengan Gubenur DKI Anis Baswedan dalam buku Antologi Jakarta Betawi.
Untuk penulisannya, ia mengakui banyak terinspirasi dari Sutardji Calzoum Bachri, sastrawan Indonesia dengan gelar Datuk Seri Pujangga Utama.
"Banyak gayanya dia itu kebawa ke karya aku. Jadi banyak gaya satire beliau ke ikut ditulisanku, " kata dia.
Namun belakangan, ia konsen menulis novel bergenre romance dan inspiratif Journey pada novel-novelnya. Ia menyebut terinspirasi pengalaman pribadi, yang dituangkan dalam tulisannya itu.
Menurutnya, hal itu banyak disukai kalangan pembaca. Ia berpendapat, untuk membuat karya yang dimengerti dirinya sendiri, ia yakini sudah banyak tercipta. Namun, karya yang dinikmati banyak orang, kini sudah menjadi prioritasnya.
Pun hal itu yang membuat, ia kini mampu menembus dunia Platform Novel Digital, dan menghasilkan pundi yang lebih. Ia bercerita, pertemuannya dengan platform digital ini memang memerlukan perjuangan panjang, beberapa kali ajukan kontrak namun belum lolos, dan pada akhirnya mampu menjadi novel kontrak dan tamat pada 2021 disalah satu platform digital dan di susul novel-novel barunya yang on going saat ini.
"Di novel digital itu, gak semudah dapat model kontrak. Jadi harus ada beberapa step yang dilewati, minimal harus 20.000 kata terlebih dahulu, cover novel yang menarik, bahasa dan ejaan yang tepat serta alur yang menarik pada setiap episodenya. Kalau di Bontang, sepertinya baru saya sendiri, guru yang merambah platform digital dan tembus jadi novel kontrak," katanya.
Salah satu karyanya yang laris manis, yaitu Malam Bungkam, yang bisa di baca di platform Novel Toon. (https://noveltoon.mobi/id/watch/347645/1141812)
Selain itu ada dibeberapa platform digital lainnya, Selamat Tinggal Ana, Menunggu Hamka, Janji Praya, dan Catatan Harian.
Ada juga karyanya yang berjudul Plang, menjadi salah satu yang tertinggi perolehan pembacanya di Plaza Novel Toon. Cerpen plang ini juga pernah dimuat di Majalah Semesta Seni Jakarta , edisi 8 Desember 2020. Juga Puisinya berjudul Molekul, pernah di muat disalah satu media ternama di Kalimantan Timur.
Kecintaannya sebagai penulis, rupanya ingin ia teruskan ke generasi mendatang. Saat ini, ia juga tercatat sebagai founder Ayo Kaltim Menulis, yang lahir di tahun 2018. Organisasi itu diinisiasi oleh guru bahasa Indonesia SMA/SMK/MA sekota Bontang. Mereka ingin agar ada komunitas penulis muda di kota Bontang. Isinya adalah para penulis, jurnalis dan bahkan dulunya diinisiasi oleh salah satu media di Bontang yaitu Student Journalis Bontang Pos. Melalui itu, ia ingin semangatnya di dunia menulis, menular ke pemuda-pemuda di Bontang khususnya dan Kaltim pada umumnya.
"Sekarang banyak yang nulis, cuma dia ragu untuk terjun ke yang lebih serius. Ini yang harus kita tanamkan ke generasi selanjutnya, apalagi ada platform digital, ini adalah masanya kita harus memilih konten yang tepat dan saya memilih konten saya pada platform digital menulis novel," kata Nining.
Hingga kini ia pun masih aktif menulis, bahkan di sela-sela kesibukannya. Ia mengaku sering mengambil kesempatan saat tengah malam untuk menulis. Setelah anak-anaknya sudah tidur. Selain itu, ia tidak ingin main-main menggeluti sastra. Ia pun kini menempuh Magister Bahasa dan Sastra di Universitas Mulawarman. Belakangan ia juga aktif mengisi seminar-seminar terkait penulisan digital, pembuatan buku, dan seminar keprofesian lainnya.
"Ini wujud keinginan kita agar di Bontang khususnya , punya generasi yang mampu melahirkan karya-karya yang berkualitas dan mampu menempuh dunia digital." tutupnya.
Penulis : Romi Ali Darmawan
Editor : Bambang Irawan
Guru yang juga gemar bersepeda ini, memiliki nama pena Sriningsih Hutomo. Kini, karya-karyanya sudah melanglang buana, baik dalam bentuk buku, novel, cerpen atau puisi sering muncul di rubrik media cetak di Kaltim. Tak hanya bentuk konvensional, kini Novelnya di salah satu platform novel digital, laris. Bahkan menyentuh 2.300 pembaca, hingga November 2021 ini.
Sebagai seorang ibu serta sebagai abdi negara, jemarinya tak kaku melahirkan karya.
Saat ditemui di salah satu cafe remaja di Jalan Parkesit Bontang Baru, Ibu guru yang akrab disapa Mba Nining ini bercerita, kalau kegiatan menulisnya itu, sudah ada sejak lama.
Kira-kira saat dirinya menjadi mahasiswa di salah satu universitas di Malang. Di usianya sekitar 19 tahun itu sedang gemarnya menulis puisi dan cerita pendek.
"Surat kabar kampus dan media lokal di Malang, sudah akrab dengan puisinya. Berhasil dimuat," ujar Nining.
Meskipun begitu, setelah lulus aktivitas menulisnya sempat terhenti. Setelah lulus menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di tahun 2009, ia mulai sibuk dengan tugas-tugasnya, namun minatnya untuk menulis akhirnya bisa kembali digelutinya sejak bertemu platform digital menulis online, bahkan lebih serius mengembangkan karir menulisnya.
Tahun 2019, sayap Sriningsih semakin berkembang. Ia masuk dalam kategori Penyair Perempuan Indonesia (PPI), menimbah ilmu melalui Jaring Penulis Kaltim. Salah satu komunitas menulis pertama di Kalimantan Timur. Pun saat itu, mulai merambah ke platform novel digital.
Ia menyebutkan, royaltinya bahkan sudah mencapai Rp 7 Juta pada 2021. Tak hanya itu, karya-karya nya juga mulai di bukukan, selain buku ada sekitar 4-5 novel yang telah tayang diplatform digital dan tahap cetak.
Selain genre prosa, ia pun menggeluti puisi, bahkan salah satu surat kabar dengan jangkauan Kalimantan Timur, pun tertarik memuat puisinya di salah satu rubrik khusus sastra.
Sriningsih sendiri, bisa disebut merupakan penulis perempuan pertama yang berani berkompetisi diplatform digital novel online, sebagai salah satu anggota Penyair Perempuan Pindonesia (PPI), ia memiliki sumbangsih mengharumkan nama PPI di kancah Kaltim. Bahkan lewat PPI tulisannya kerap satu frame dengan penulis nasional dan satu frame dengan Gubenur DKI Anis Baswedan dalam buku Antologi Jakarta Betawi.
Untuk penulisannya, ia mengakui banyak terinspirasi dari Sutardji Calzoum Bachri, sastrawan Indonesia dengan gelar Datuk Seri Pujangga Utama.
"Banyak gayanya dia itu kebawa ke karya aku. Jadi banyak gaya satire beliau ke ikut ditulisanku, " kata dia.