Salah satu sekolah yang mengimplemntasikan Program Presisi adalah SMPN 2 Tenggarong.
Tim Perumus dari Direktorat Kementerian Kebudayaan, Wahyudi yang menjadi narasumber pada program Presisi yang dilaksanakan SMPN 2 Tenggarong mengatakan, sejak 2020 lalu banyak sekali yang diperbincangkan terkait model-model pembelajaran menyikapi di era pandemi. “Presisi ini dari Direktorat Kementerian Kebudayaan juga menawarkan sebuah pola pembelajaran, sehingga saya mewakili Gudskul, Erudio Indonesia, Sanggar Anak Akar (Komunitas Pendidikan, red) yang tidak menggunakan kurikulum nasional, ketiga model pembelajaran ini menjadikan satu dan dinamakan Presisi. Dari direktorat jenderal silahkan saja diujicobakan, masalah kegagalan dan keberhasilan sama saja yang penting ada temuan-temuan baru nanti,” kata Wahyudi kepada korankaltim.com, Rabu (13/10/2021).
Wahyudi menyebutkan pada tahun 2020, Presisi ini diuji cobakan di tiga sekolah. Presisi ini adalah metode pembelajaran berbasis kontekstual, yakni bahwa sekolah dan guru bukan satu-satunya sumber belajar bagi anak, tapi masyarakat lingkungan juga bisa menjadi narasumber pembelajaran untuk anak di era pandemi ini.
“Karena dia tidak ke sekolah, tidak berjumpa dengan gurunya dan untuk mencari materi pembelajaran silakan saja yang dekat dengan lingkungannya, tinggal bagaimana peranan guru di era pandemi ini, yakni bisa jadi fasilitator mentor dan pendamping bagi pembelajaran anaknya, dibimbing dan diarahkan,” sebutnya.
Presisi ini memberikan kebebasan belajar kepada peserta didik, sehingga menjadikan pembelajaran yang konteksnya mampu memberdayakan kreatifitas anak dan pembelajaran yang menarik serta mampu menghasilkan karya seni, supaya anak tidak bosan.
“Misalnya ada yang suka menari dia bisa mengembangkan, jadi peran guru bagaimana dia bisa menghadirkan narasumber melalui jaringannya. Dan seharusnya memang alangkah lebih baiknya penyelenggara pendidikan sekolah sudah memetakan potensi sumber belajar yang ada disekitarnya, jadi ketika ada anak ingin belajar ini, maka sudah tahu diarahkan kemana karena sudah di maping,” terangnya.
Hal senada disampaikan Kepala SMPN 2 Tenggarong H Abdur Rasyid menyambut baik program presisi ini. Para guru-guru sebagai pendamping siswa juga diarahkan agar semaksimal mungkin merealisasikan karya seni apa yang ingin dihasilkan oleh anak didiknya.
“Bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis, kalau kami kemarin itu membuat kursi sofa dari ban bekas, kemarin juga ada usulan membuat minyak jelantah menjadi sabun menjadi barang ekonomis lainnya, namun karena anak-anak dan para guru pendamping kemarin melihat potensinya di ban bekas ya makanya diarahkan kesitu,” jelas Rasyid.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan
Salah satu sekolah yang mengimplemntasikan Program Presisi adalah SMPN 2 Tenggarong.
Tim Perumus dari Direktorat Kementerian Kebudayaan, Wahyudi yang menjadi narasumber pada program Presisi yang dilaksanakan SMPN 2 Tenggarong mengatakan, sejak 2020 lalu banyak sekali yang diperbincangkan terkait model-model pembelajaran menyikapi di era pandemi. “Presisi ini dari Direktorat Kementerian Kebudayaan juga menawarkan sebuah pola pembelajaran, sehingga saya mewakili Gudskul, Erudio Indonesia, Sanggar Anak Akar (Komunitas Pendidikan, red) yang tidak menggunakan kurikulum nasional, ketiga model pembelajaran ini menjadikan satu dan dinamakan Presisi. Dari direktorat jenderal silahkan saja diujicobakan, masalah kegagalan dan keberhasilan sama saja yang penting ada temuan-temuan baru nanti,” kata Wahyudi kepada korankaltim.com, Rabu (13/10/2021).
Wahyudi menyebutkan pada tahun 2020, Presisi ini diuji cobakan di tiga sekolah. Presisi ini adalah metode pembelajaran berbasis kontekstual, yakni bahwa sekolah dan guru bukan satu-satunya sumber belajar bagi anak, tapi masyarakat lingkungan juga bisa menjadi narasumber pembelajaran untuk anak di era pandemi ini.
“Karena dia tidak ke sekolah, tidak berjumpa dengan gurunya dan untuk mencari materi pembelajaran silakan saja yang dekat dengan lingkungannya, tinggal bagaimana peranan guru di era pandemi ini, yakni bisa jadi fasilitator mentor dan pendamping bagi pembelajaran anaknya, dibimbing dan diarahkan,” sebutnya.
Presisi ini memberikan kebebasan belajar kepada peserta didik, sehingga menjadikan pembelajaran yang konteksnya mampu memberdayakan kreatifitas anak dan pembelajaran yang menarik serta mampu menghasilkan karya seni, supaya anak tidak bosan.
“Misalnya ada yang suka menari dia bisa mengembangkan, jadi peran guru bagaimana dia bisa menghadirkan narasumber melalui jaringannya. Dan seharusnya memang alangkah lebih baiknya penyelenggara pendidikan sekolah sudah memetakan potensi sumber belajar yang ada disekitarnya, jadi ketika ada anak ingin belajar ini, maka sudah tahu diarahkan kemana karena sudah di maping,” terangnya.
Hal senada disampaikan Kepala SMPN 2 Tenggarong H Abdur Rasyid menyambut baik program presisi ini. Para guru-guru sebagai pendamping siswa juga diarahkan agar semaksimal mungkin merealisasikan karya seni apa yang ingin dihasilkan oleh anak didiknya.
“Bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis, kalau kami kemarin itu membuat kursi sofa dari ban bekas, kemarin juga ada usulan membuat minyak jelantah menjadi sabun menjadi barang ekonomis lainnya, namun karena anak-anak dan para guru pendamping kemarin melihat potensinya di ban bekas ya makanya diarahkan kesitu,” jelas Rasyid.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan