“Unikarta ini semenjak 2014, ya Allah. Zaman ada Pak Kaning (Syaukani HR) rektornya, bisa sampai 6.000-an mahasiswa yang daftar. Mahasiswa masuk Unikarta zaman itu karena beasiswa, ketika Pak Kaning tidak ada, kita berkompetisi dan menurun, sekarang jumlah penerimaan mahasiswa hanya 400 orang dari 1.200 kuota penerimaan,” kata Erwinsyah kepada korankaltim.com.
Pada satu sisi, kata Erwin, kampusnya juga sedang menghadapi persiapan peningkatan akreditasi pada 2020 mendatang.
Melihat kondisi ini, dia mengaku sedih. Di tengah menununya peminat, alternatif yang diambil agar Unikarta tetap survive adalah dengan menaikan biaya kuliah secara proporsional mengingat tingginya inflasi.
Kampus mempergunakan dana tersebut sebaik mungkin. Kendati begitu, kenaikan biaya tersebut tidak begitu signifikan.
“Kenaikannya jangan terlalu tinggi mengingat zaman krisis sekarang dan pasti berdampak pada penerimaan, kalau kenaikannya Rp 100 ribu siapa yang mau daftar di Unikarta, kalau kenaikannya 20 ribu saja artinya sebungkus rokok aja kan,” paparnya.
“Tapi, unikarta ini universitas termurah di Indonesia. Coba cek saja, dengan akreditasi B dan biaya yang sekarang ini tiap SKS-nya Rp100 ribu sudah lah, kampus ungu yang baru aja sudah Rp200 ribu waktu masih (akreditasi) C. Tapi saya menganggap begini, bagus saja jadi universitas yang tidak begitu mahal karena ini memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Kukar mendapatkan kuliah. Negara bertanggung jawab terhadap pendidikan masyarakat,” tutupnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Muh.Huldi
“Unikarta ini semenjak 2014, ya Allah. Zaman ada Pak Kaning (Syaukani HR) rektornya, bisa sampai 6.000-an mahasiswa yang daftar. Mahasiswa masuk Unikarta zaman itu karena beasiswa, ketika Pak Kaning tidak ada, kita berkompetisi dan menurun, sekarang jumlah penerimaan mahasiswa hanya 400 orang dari 1.200 kuota penerimaan,” kata Erwinsyah kepada korankaltim.com.
Pada satu sisi, kata Erwin, kampusnya juga sedang menghadapi persiapan peningkatan akreditasi pada 2020 mendatang.
Melihat kondisi ini, dia mengaku sedih. Di tengah menununya peminat, alternatif yang diambil agar Unikarta tetap survive adalah dengan menaikan biaya kuliah secara proporsional mengingat tingginya inflasi.
Kampus mempergunakan dana tersebut sebaik mungkin. Kendati begitu, kenaikan biaya tersebut tidak begitu signifikan.
“Kenaikannya jangan terlalu tinggi mengingat zaman krisis sekarang dan pasti berdampak pada penerimaan, kalau kenaikannya Rp 100 ribu siapa yang mau daftar di Unikarta, kalau kenaikannya 20 ribu saja artinya sebungkus rokok aja kan,” paparnya.
“Tapi, unikarta ini universitas termurah di Indonesia. Coba cek saja, dengan akreditasi B dan biaya yang sekarang ini tiap SKS-nya Rp100 ribu sudah lah, kampus ungu yang baru aja sudah Rp200 ribu waktu masih (akreditasi) C. Tapi saya menganggap begini, bagus saja jadi universitas yang tidak begitu mahal karena ini memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Kukar mendapatkan kuliah. Negara bertanggung jawab terhadap pendidikan masyarakat,” tutupnya.
Penulis: Reza Fahlevi