Penulis: Dinda Ayu Dwi Meylani
KORANKALTIM.COM, PENAJAM – Pemadaman listrik bergilir membuat pelaku usaha ayam potong di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami penambahan beban operasional.
1 menit baca14 kali dibaca

Penulis: Dinda Ayu Dwi Meylani
KORANKALTIM.COM, PENAJAM – Pemadaman listrik bergilir membuat pelaku usaha ayam potong di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami penambahan beban operasional.
Peternak ayam potong di Jalan Jambu RT 07, Kelurahan Gunung Seteleng, Kecamatan Penajam, Ahmad Jais mengaku selama pemadaman listrik harus mengeluarkan biaya tambahan hingga sekitar Rp5 juta dalam sebulan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) genset.
Tambahan biaya diperuntukkan untuk blower dan penerangan kandang. Pasalnya, sirkulasi udara sangat penting untuk menjaga kondisi ayam agar tidak kekurangan udara.
“Yang nyata itu kan kita beli BBM untuk genset. 10 menit blower mati, ayam di dalam kandang bisa stres dan matian,” jelasnya, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, pemadaman listrik tidak selalu menyebabkan gagal panen. Hanya saja, jumlah ayam yang akan dipanen berkurang sehingga hasil panen jauh dari target.
“Panennya terus tetap berjalan. Cuma untuk hasil, sudah sangat minim. Yang biasanya seharusnya dapat sekian, jadi jauh kurangnya,” ujarnya.
Kendati demikian, Jais terpaksa mengurangi penggunaan blower untuk menekan pengeluaran selama pemadaman.
“Blower yang kita hidupkan paling dua kalau posisi lagi mati lampu,” ujarnya.
Diakuinya, selama pemadaman listrik bergilir terjadi di Benuo Taka telah terdapat sekitar ratusan ekor ayam pada mati. Namun, kerugian yang paling besar dirasakan pada tahun 2025 sekitar 1.600 ekor ayam. Hal itu menjadi pelajaran, karena waktu itu dirinya belum mempunyai genset.
Jais berharap persoalan pemadaman listrik dapat perhatian serius agar tidak terus menambah beban pelaku usaha kecil.
“Kami harap pemerintah meninjau kembali masalah mati lampu ini. Karena kita masyarakat kecil ke bawah ini kalau dengan adanya begini terus, sangat merasa dirugikan lah,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Peternak ayam potong di Jalan Jambu RT 07, Kelurahan Gunung Seteleng, Kecamatan Penajam, Ahmad Jais mengaku selama pemadaman listrik harus mengeluarkan biaya tambahan hingga sekitar Rp5 juta dalam sebulan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) genset.
Tambahan biaya diperuntukkan untuk blower dan penerangan kandang. Pasalnya, sirkulasi udara sangat penting untuk menjaga kondisi ayam agar tidak kekurangan udara.
“Yang nyata itu kan kita beli BBM untuk genset. 10 menit blower mati, ayam di dalam kandang bisa stres dan matian,” jelasnya, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, pemadaman listrik tidak selalu menyebabkan gagal panen. Hanya saja, jumlah ayam yang akan dipanen berkurang sehingga hasil panen jauh dari target.

“Panennya terus tetap berjalan. Cuma untuk hasil, sudah sangat minim. Yang biasanya seharusnya dapat sekian, jadi jauh kurangnya,” ujarnya.
Kendati demikian, Jais terpaksa mengurangi penggunaan blower untuk menekan pengeluaran selama pemadaman.
“Blower yang kita hidupkan paling dua kalau posisi lagi mati lampu,” ujarnya.
Diakuinya, selama pemadaman listrik bergilir terjadi di Benuo Taka telah terdapat sekitar ratusan ekor ayam pada mati. Namun, kerugian yang paling besar dirasakan pada tahun 2025 sekitar 1.600 ekor ayam. Hal itu menjadi pelajaran, karena waktu itu dirinya belum mempunyai genset.

Jais berharap persoalan pemadaman listrik dapat perhatian serius agar tidak terus menambah beban pelaku usaha kecil.
“Kami harap pemerintah meninjau kembali masalah mati lampu ini. Karena kita masyarakat kecil ke bawah ini kalau dengan adanya begini terus, sangat merasa dirugikan lah,” pungkasnya.
Editor: Erwin











Pusat gempa berada di laut 30 km timur laut Mbay, Nagekeo
26 Okt 2026, 11:53:42 WIB • Kedalaman 13 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG