Penulis: Dinda Ayu Dwi Meylani
KORANKALTIM.COM, PENAJAM - Pemadaman listrik bergilir di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyebabkan pelaku usaha ikan hias di Kelurahan Gunung Seteleng, Kecamatan Penajam, mengalami kerugian hingga 50 persen.
1 menit baca7 kali dibaca

Penulis: Dinda Ayu Dwi Meylani
KORANKALTIM.COM, PENAJAM - Pemadaman listrik bergilir di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyebabkan pelaku usaha ikan hias di Kelurahan Gunung Seteleng, Kecamatan Penajam, mengalami kerugian hingga 50 persen.
Penjual Ikan hias, Budiono mengeluhkan banyak ikan hiasnya mati karena kekurangan oksigen. Pasalnya, usaha yang dijalankannya bergantung pada aerator listrik untuk menjaga ketersediaan oksigen di dalam air.
“Kalau listrik padam empat sampai lima jam, pasti ada saja ikan yang mati, bisa sekitar lima sampai 10 ekor,” keluhnya, Minggu (25/10/2026).
Kerugian yang dialami bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Lantaran, ikan yang mati tidak hanya berasal dari harga jual murah, tapi ada yang harga ratusan ribu rupiah. Kerugian tersebut selalu dirasakan ketika terjadi pemadaman listrik dalam waktu lama.
Sehingga, untuk mengurangi risiko kematian ikan, Budiono terpaksa melakukan penanganan secara manual dengan membuat gelembung udara. Hanya saja, cara tersebut tidak efektif belum mampu menjamin kondisi air dan kesehatan ikan tetap terjaga selama listrik padam.
“Paling kita bantu-bantu manual, supaya ada gelembung udara. Ya, sedikit sengsara,” akunya.
Ia berharap ULP PLN Petung segera melakukan pembenahan agar pasokan listrik bagi masyarakat atau pelaku usaha lebih baik lagi.
“Saya kecewa sangat dengan pelayanannya. Harapannya diperbarui pelayanan PLN ini. Apalagi kita ini mau menuju IKN, harusnya ada introspeksi diri mengenai apa yang kurang agar bisa diperbaiki ke depannya,” tandasnya.
Editor: Erwin
Penjual Ikan hias, Budiono mengeluhkan banyak ikan hiasnya mati karena kekurangan oksigen. Pasalnya, usaha yang dijalankannya bergantung pada aerator listrik untuk menjaga ketersediaan oksigen di dalam air.
“Kalau listrik padam empat sampai lima jam, pasti ada saja ikan yang mati, bisa sekitar lima sampai 10 ekor,” keluhnya, Minggu (25/10/2026).
Kerugian yang dialami bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Lantaran, ikan yang mati tidak hanya berasal dari harga jual murah, tapi ada yang harga ratusan ribu rupiah. Kerugian tersebut selalu dirasakan ketika terjadi pemadaman listrik dalam waktu lama.
Sehingga, untuk mengurangi risiko kematian ikan, Budiono terpaksa melakukan penanganan secara manual dengan membuat gelembung udara. Hanya saja, cara tersebut tidak efektif belum mampu menjamin kondisi air dan kesehatan ikan tetap terjaga selama listrik padam.

“Paling kita bantu-bantu manual, supaya ada gelembung udara. Ya, sedikit sengsara,” akunya.
Ia berharap ULP PLN Petung segera melakukan pembenahan agar pasokan listrik bagi masyarakat atau pelaku usaha lebih baik lagi.
“Saya kecewa sangat dengan pelayanannya. Harapannya diperbarui pelayanan PLN ini. Apalagi kita ini mau menuju IKN, harusnya ada introspeksi diri mengenai apa yang kurang agar bisa diperbaiki ke depannya,” tandasnya.
Editor: Erwin





Pusat gempa berada di darat 44 km barat Kab. Aceh Tamiang
25 Okt 2026, 14:40:01 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG