Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan, pengembangan sektor kelautan dan perikanan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi. Hasil laut Berau juga harus diolah menjadi produk bernilai tambah dengan kualitas dan standar yang mampu bersaing di pasar global.
Menurutnya, sistem pengemasan menjadi salah satu tantangan yang perlu segera dibenahi. Sebab, proses pengemasan yang masih dilakukan secara manual dinilai belum sepenuhnya memenuhi standar ekspor internasional.
“Fokus utama kita adalah transformasi pengemasan agar produk memenuhi standar ekspor,” ujarnya, Minggu (25/10/2026).
Ia menyebut, Kampung Tanjung Batu memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai pusat produksi olahan perikanan, termasuk produk makanan laut dalam kemasan kaleng. Namun, potensi tersebut perlu didukung pembenahan proses produksi, pengemasan, serta pemenuhan standar mutu dan sertifikasi yang dipersyaratkan pasar tujuan.
Peluang pemasaran ke luar negeri juga mulai terbuka melalui koordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Berdasarkan komunikasi yang dilakukan, KKP menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi pemasaran produk olahan kaleng asal Berau ke pasar internasional.
Salah satu pasar yang dibidik ialah kawasan Timur Tengah, khususnya Jeddah, Arab Saudi. Pemkab Berau melihat keberadaan hotel-hotel milik Indonesia di kota tersebut sebagai peluang untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk perikanan lokal.
“Dengan adanya hotel milik Indonesia di Jeddah, kita memiliki peluang pasar tetap untuk menyerap produk olahan kita,” katanya.
Sehingga, lanjut Sri Juniarsih, diperlukan kolaborasi Swasta untuk merealisasikan peluang ekspor tersebut. Untuk itu, ia meminta Dinas Perikanan (Diskan) Berau memperkuat koordinasi dan menjajaki kerja sama dengan pihak swasta.
Kolaborasi dinilai penting untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi, memperbaiki teknologi pengolahan, serta memastikan konsistensi kualitas produk. Dengan demikian, produk olahan perikanan Berau tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga dapat bersaing di pasar internasional.
Selain kapasitas produksi, kesiapan industri dalam memenuhi persyaratan ekspor menjadi faktor penting. Standar keamanan pangan, mutu produk, dan sertifikasi harus diperhatikan agar peluang pemasaran yang telah terbuka dapat ditindaklanjuti secara konkret.
Pemkab Berau berharap pengembangan industri pengolahan hasil laut dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat pesisir. Peningkatan nilai tambah diharapkan membuka peluang usaha, memperluas penyerapan tenaga kerja, serta meningkatkan pendapatan pelaku usaha perikanan.
Dengan penguatan industri pengolahan dan akses pasar yang lebih luas, sektor kelautan dan perikanan diharapkan tidak lagi hanya menjadi penopang ekonomi daerah melalui penjualan hasil tangkapan, tetapi juga berkembang sebagai industri yang menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing global.
“Peluang kita sangat terbuka lebar. Tinggal bagaimana kita menyiapkan produk agar memenuhi kebutuhan pasar dan mampu bersaing,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan, pengembangan sektor kelautan dan perikanan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi. Hasil laut Berau juga harus diolah menjadi produk bernilai tambah dengan kualitas dan standar yang mampu bersaing di pasar global.
Menurutnya, sistem pengemasan menjadi salah satu tantangan yang perlu segera dibenahi. Sebab, proses pengemasan yang masih dilakukan secara manual dinilai belum sepenuhnya memenuhi standar ekspor internasional.
“Fokus utama kita adalah transformasi pengemasan agar produk memenuhi standar ekspor,” ujarnya, Minggu (25/10/2026).
Ia menyebut, Kampung Tanjung Batu memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai pusat produksi olahan perikanan, termasuk produk makanan laut dalam kemasan kaleng. Namun, potensi tersebut perlu didukung pembenahan proses produksi, pengemasan, serta pemenuhan standar mutu dan sertifikasi yang dipersyaratkan pasar tujuan.
Peluang pemasaran ke luar negeri juga mulai terbuka melalui koordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Berdasarkan komunikasi yang dilakukan, KKP menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi pemasaran produk olahan kaleng asal Berau ke pasar internasional.
Salah satu pasar yang dibidik ialah kawasan Timur Tengah, khususnya Jeddah, Arab Saudi. Pemkab Berau melihat keberadaan hotel-hotel milik Indonesia di kota tersebut sebagai peluang untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk perikanan lokal.
“Dengan adanya hotel milik Indonesia di Jeddah, kita memiliki peluang pasar tetap untuk menyerap produk olahan kita,” katanya.
Sehingga, lanjut Sri Juniarsih, diperlukan kolaborasi Swasta untuk merealisasikan peluang ekspor tersebut. Untuk itu, ia meminta Dinas Perikanan (Diskan) Berau memperkuat koordinasi dan menjajaki kerja sama dengan pihak swasta.