Penulis : Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Kabut asap semakin pekat menyelimuti Sendawar, Kabupaten Kutai Barat (Kubar) Sabtu (24/10/2026) hari ini.
2 menit baca9 kali dibaca

Penulis : Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Kabut asap semakin pekat menyelimuti Sendawar, Kabupaten Kutai Barat (Kubar) Sabtu (24/10/2026) hari ini.
Kualitas udara mencapai kategori berbahaya dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sebesar 562, sementara langit tampak menguning dan jarak pandang terbatas.
Pada pukul 15.00 WITA tadi, ISPU Sendawar tercatat mencapai 562 dengan PM2.5 sebagai parameter kritis. Partikel halus ini dapat masuk ke saluran pernapasan sehingga paparannya perlu diwaspadai.
Dampak kabut asap juga dirasakan dalam aktivitas penerbangan. Jarak pandang di Bandara Melalan dilaporkan hanya sekitar 50 meter, sehingga sejumlah penerbangan dibatalkan. Kondisi ini turut mengganggu mobilitas masyarakat yang mengandalkan transportasi udara.
Di Sekolaq Darat, kabut asap juga mengganggu aktivitas warga. Seorang warga bernama Vian mengatakan, asap mulai terasa sejak malam dan terlihat semakin pekat pada pagi hari, disertai langit menguning, bau pembakaran serta mata yang terasa perih.
“Pagi-pagi bangun buka pintu halaman sudah menguning dan pekat. Mata terasa perih, dihirup pun tercium bau asap pembakaran,” ujar Vian kepada Korankaltim.com.
Kabut asap kali ini terasa lebih pekat dibandingkan kejadian sebelumnya. Ia mulai membatasi aktivitas keluarga di luar rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Jarak pandang saat berkendara juga menjadi kekhawatiran karena pengendara harus lebih berhati-hati ketika melintasi jalan yang tertutup asap.
Sementara Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan (plt Kadinkes) Kubar Barnabas mengatakan, memburuknya kualitas udara dapat memicu berbagai keluhan kesehatan, mulai dari batuk dan pilek hingga sesak napas serta mata perih.
“Di antaranya batuk, pilek, sesak napas, dan mata perih. Itu yang sering ditemukan,” kata Barnabas.
Paparan asap dan partikel pencemar dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Paparan tersebut juga dapat memicu kekambuhan asma dan memperburuk kondisi penderita penyakit jantung.
Bayi, balita, anak-anak dan lanjut usia termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Karena itu Dinkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama ketika asap sedang tebal.
“Kami mengimbau masyarakat, terutama bayi, balita, lanjut usia, serta orang-orang yang memiliki penyakit seperti asma dan jantung, agar tidak keluar rumah ketika kondisi asap sedang tebal seperti sekarang ini,” ujarnya.
Bagi mereka yang terpaksa beraktivitas diluar ruangan, penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus dianjurkan untuk mengurangi paparan. Masyarakat juga perlu menghindari aktivitas fisik berat diluar ruangan selama kualitas udara masih buruk.
Jika mengalami sesak napas, batuk yang semakin berat, atau keluhan kesehatan lain setelah terpapar asap, warga diimbau segera mencari pertolongan medis.
Editor: Aspian Nur
Kualitas udara mencapai kategori berbahaya dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sebesar 562, sementara langit tampak menguning dan jarak pandang terbatas.
Pada pukul 15.00 WITA tadi, ISPU Sendawar tercatat mencapai 562 dengan PM2.5 sebagai parameter kritis. Partikel halus ini dapat masuk ke saluran pernapasan sehingga paparannya perlu diwaspadai.
Dampak kabut asap juga dirasakan dalam aktivitas penerbangan. Jarak pandang di Bandara Melalan dilaporkan hanya sekitar 50 meter, sehingga sejumlah penerbangan dibatalkan. Kondisi ini turut mengganggu mobilitas masyarakat yang mengandalkan transportasi udara.
Di Sekolaq Darat, kabut asap juga mengganggu aktivitas warga. Seorang warga bernama Vian mengatakan, asap mulai terasa sejak malam dan terlihat semakin pekat pada pagi hari, disertai langit menguning, bau pembakaran serta mata yang terasa perih.

“Pagi-pagi bangun buka pintu halaman sudah menguning dan pekat. Mata terasa perih, dihirup pun tercium bau asap pembakaran,” ujar Vian kepada Korankaltim.com.
Kabut asap kali ini terasa lebih pekat dibandingkan kejadian sebelumnya. Ia mulai membatasi aktivitas keluarga di luar rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Jarak pandang saat berkendara juga menjadi kekhawatiran karena pengendara harus lebih berhati-hati ketika melintasi jalan yang tertutup asap.
Sementara Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan (plt Kadinkes) Kubar Barnabas mengatakan, memburuknya kualitas udara dapat memicu berbagai keluhan kesehatan, mulai dari batuk dan pilek hingga sesak napas serta mata perih.
“Di antaranya batuk, pilek, sesak napas, dan mata perih. Itu yang sering ditemukan,” kata Barnabas.

Paparan asap dan partikel pencemar dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Paparan tersebut juga dapat memicu kekambuhan asma dan memperburuk kondisi penderita penyakit jantung.
Bayi, balita, anak-anak dan lanjut usia termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Karena itu Dinkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama ketika asap sedang tebal.
“Kami mengimbau masyarakat, terutama bayi, balita, lanjut usia, serta orang-orang yang memiliki penyakit seperti asma dan jantung, agar tidak keluar rumah ketika kondisi asap sedang tebal seperti sekarang ini,” ujarnya.
Bagi mereka yang terpaksa beraktivitas diluar ruangan, penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus dianjurkan untuk mengurangi paparan. Masyarakat juga perlu menghindari aktivitas fisik berat diluar ruangan selama kualitas udara masih buruk.







Jika mengalami sesak napas, batuk yang semakin berat, atau keluhan kesehatan lain setelah terpapar asap, warga diimbau segera mencari pertolongan medis.
Editor: Aspian Nur



Pusat gempa berada di darat 6 km BaratLaut Lebong
22 Okt 2026, 17:57:49 WIB • Kedalaman 120 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG