Ketua DPRD Mahulu Devung Paran mengatakan, pencapaian tersebut menjadi hal yang patut disyukuri menjelang usia ke-12 Kabupaten Mahulu. Salah satu desa yang terakhir mendapat suplai listrik adalah Kampung Long Pahangai.
“Untuk Kecamatan Long Pahangai kita bersyukur karena di usia yang ke-12 tahun ini kita sudah dialiri listrik di 13 desa,” kata Devung.
Namun, menurutnya, persoalan belum sepenuhnya selesai setelah seluruh desa mendapatkan akses listrik. Kendala berikutnya berkaitan dengan ketersediaan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan untuk mendukung operasional kelistrikan.
“Cuma yang jadi permasalahannya sekarang adalah BBM. Sehingga ada mungkin kendala di jam operasional. Susahnya distribusi BBM sampai sekarang akhirnya tetap kendala,” ujarnya.
Devung mengatakan, keterlambatan atau keterbatasan distribusi BBM dapat berdampak terhadap jam operasional layanan kelistrikan.
Karena itu, ketersediaan pasokan BBM menjadi perhatian yang perlu ditangani agar akses listrik yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Ia menyebut, DPRD melalui Komisi III telah melakukan kunjungan dan komunikasi dengan pihak Pertamina, baik di Samarinda maupun Balikpapan.
Langkah tersebut dilakukan untuk membahas kebutuhan tambahan pasokan BBM ke Mahulu.
“Dari Komisi III juga sudah melakukan kunjungan ke Pertamina, baik itu yang di Samarinda maupun di Balikpapan. Mereka sudah melakukan kunjungan terkait permohonan tambahan jumlah suplai BBM ke Mahulu,” katanya.
Menurut Devung, penambahan pasokan BBM menjadi salah satu upaya yang perlu didorong untuk mengatasi kendala operasional kelistrikan di wilayah yang telah terjangkau jaringan listrik.
Dengan seluruh desa di Kecamatan Long Pahangai yang telah dialiri listrik, DPRD berharap persoalan pasokan energi berikutnya dapat ditangani sehingga pelayanan listrik kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal.
Editor: Erwin
Ketua DPRD Mahulu Devung Paran mengatakan, pencapaian tersebut menjadi hal yang patut disyukuri menjelang usia ke-12 Kabupaten Mahulu. Salah satu desa yang terakhir mendapat suplai listrik adalah Kampung Long Pahangai.
“Untuk Kecamatan Long Pahangai kita bersyukur karena di usia yang ke-12 tahun ini kita sudah dialiri listrik di 13 desa,” kata Devung.
Namun, menurutnya, persoalan belum sepenuhnya selesai setelah seluruh desa mendapatkan akses listrik. Kendala berikutnya berkaitan dengan ketersediaan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan untuk mendukung operasional kelistrikan.
“Cuma yang jadi permasalahannya sekarang adalah BBM. Sehingga ada mungkin kendala di jam operasional. Susahnya distribusi BBM sampai sekarang akhirnya tetap kendala,” ujarnya.
Devung mengatakan, keterlambatan atau keterbatasan distribusi BBM dapat berdampak terhadap jam operasional layanan kelistrikan.
Karena itu, ketersediaan pasokan BBM menjadi perhatian yang perlu ditangani agar akses listrik yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Ia menyebut, DPRD melalui Komisi III telah melakukan kunjungan dan komunikasi dengan pihak Pertamina, baik di Samarinda maupun Balikpapan.
Langkah tersebut dilakukan untuk membahas kebutuhan tambahan pasokan BBM ke Mahulu.
“Dari Komisi III juga sudah melakukan kunjungan ke Pertamina, baik itu yang di Samarinda maupun di Balikpapan. Mereka sudah melakukan kunjungan terkait permohonan tambahan jumlah suplai BBM ke Mahulu,” katanya.
Menurut Devung, penambahan pasokan BBM menjadi salah satu upaya yang perlu didorong untuk mengatasi kendala operasional kelistrikan di wilayah yang telah terjangkau jaringan listrik.
Dengan seluruh desa di Kecamatan Long Pahangai yang telah dialiri listrik, DPRD berharap persoalan pasokan energi berikutnya dapat ditangani sehingga pelayanan listrik kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal.
Editor: Erwin