Minggu, 23/08/2026

Bara Kayu Lapuk Jadi Kendala, Karhutla 10,65 Hektare di Sepan Berhasil Dipadamkan

Minggu, 23/08/2026

Karhutla yang terjadi di Sepan pada hari pertama Rabu (19/8/2026) dan kini resmi ditutup. (Foto: Dok.PusdalopsPPU)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Bara Kayu Lapuk Jadi Kendala, Karhutla 10,65 Hektare di Sepan Berhasil Dipadamkan

Minggu, 23/08/2026

logo

Karhutla yang terjadi di Sepan pada hari pertama Rabu (19/8/2026) dan kini resmi ditutup. (Foto: Dok.PusdalopsPPU)

Penulis: Dinda Ayu Dwi Meylani

KORANKALTIM.COM, PENAJAM – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di RT 03, Kelurahan Sepan, Kecamatan Penajam, resmi dihentikan tim gabungan pada Sabtu (22/8/2026) pukul 18.00 Wita.

Karhutla yang menghanguskan lahan seluas 10,65 hektare tersebut terjadi sejak Rabu (19/8/2026) pukul 13.15 Wita. Setelah empat hari penanganan, petugas memastikan tidak lagi menemukan titik asap di lokasi.

Proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Bara api sempat terperangkap di dalam tumpukan kayu berukuran besar dan kayu lapuk sehingga petugas harus melakukan pemadaman secara berulang untuk memastikan api tidak kembali menyala.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, mengatakan pada hari terakhir penanganan, petugas masih memusatkan upaya pada titik-titik asap yang berpotensi kembali menjadi api.

“Upaya penanganan hari keempat masih difokuskan pada pemadaman titik-titik asap yang berpotensi menjadi titik api baru. Alhamdulillah telah selesai, tim gabungan kembali ke pos masing-masing dan penanganan resmi ditutup,” ujarnya kepada Korankaltim.com, Minggu (23/8/2026).

Menurutnya, lokasi kebakaran merupakan eks PT GSA milik Ayong Antony. Material yang terbakar didominasi semak belukar, pepohonan, serta tumpukan kayu lapuk dan kayu berukuran besar.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak mudah. Selain material yang menyimpan bara, petugas juga menghadapi keterbatasan sumber air di sekitar lokasi.

“Kendala di lapangan memang sumber airnya tidak ada. Kalau mau pakai mobil tangki, itu membutuhkan waktu, tenaga, dan energi yang ekstra. Lahan yang dipadamkan ini bara-bara kayu dan tumpukan kayu lapuk, sehingga sedikit lebih sulit jika dibandingkan dengan lahan gambut sekalipun,” jelasnya.

Untuk mengatasi kendala tersebut, petugas menggunakan mesin portable dengan memanfaatkan air danau yang berada di dekat lokasi karhutla. 

Pengerahan alat berat backhoe loader milik PT BFI juga membantu membuka akses menuju lokasi sekaligus mengurai tumpukan kayu agar proses pemadaman lebih efektif.

“Konsekuensinya, mesin-mesin portable yang menggunakan air danau yang asin perlu perawatan ekstra setelah digunakan di lokasi,” tambah Nurlaila.

Setelah operasi gabungan ditutup, pemantauan berkala tetap dilakukan oleh pihak Kelurahan Sepan bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Sementara itu, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian.

Editor: Erwin

Bara Kayu Lapuk Jadi Kendala, Karhutla 10,65 Hektare di Sepan Berhasil Dipadamkan

Minggu, 23/08/2026

Karhutla yang terjadi di Sepan pada hari pertama Rabu (19/8/2026) dan kini resmi ditutup. (Foto: Dok.PusdalopsPPU)

Share

Berita Terkait