Rabu, 24/05/2023

Nonton Konser Denny Caknan dan Pelajaran Maha Penting Soal Pelestarian Bahasa

Rabu, 24/05/2023

Denny Caknan berjongkok demi melayani ajakan swafoto di tengah konser di GOR Kadrie Oening, Samarinda Senin (15/5/2023) lalu. (Foto: Cony/Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Nonton Konser Denny Caknan dan Pelajaran Maha Penting Soal Pelestarian Bahasa

Rabu, 24/05/2023

logo

Denny Caknan berjongkok demi melayani ajakan swafoto di tengah konser di GOR Kadrie Oening, Samarinda Senin (15/5/2023) lalu. (Foto: Cony/Korankaltim.com)

Tak pernah sekalipun dalam pikiran saya, terlintas untuk datang dan menonton konser musik Jawa. Entah apakah ini sebutan yang tepat atau bukan untuk jenis musik yang belakangan menjejali platform-platform musik digital itu. Tapi setidaknya, itu yang saya tahu tentang pertunjukan musik yang digelar di Halaman Parkir GOR Madya Kadrie Oening Kota Samarinda, Senin 15 Mei 2023 lalu.

Acara yang berlangsung malam hari itu, menghadirkan penyanyi kenamaan asal Madiun, Jawa Timur yang tengah digandrungi para penikmat musik, Denny Setiawan alias Denny Caknan. Rasanya, itu adalah pertama kalinya selama saya hidup hampir 28 tahun, saya berdiri di sebuah pertunjukan musik bernuansa dangdut, koplo dan Jawa.

Kombinasi hal-hal tadi, membikin saya yang berdiri di persis di sound system raksasa di sisi kanan panggung sempat merasakan suasana kebatinan yang sulit diceritakan. Ada perasaan bersalah, karena untuk sekian lama, saya dengan arogan merasa harus menjaga diri dari mengonsumsi musik jenis ini. Tapi rupanya, itu mungkin saja adalah hal paling sia-sia yang kukuh saya pegang selama ini.

Karena faktanya, kini paparan kepada musik-musik Deny Caknan, Happy Asmara, atau Yeny Inka sungguhlah sulit untuk dihindari. Kalau Presiden Joko Widodo yang jelas-jelas metalhead (sebutan untuk pecinta musik keras) dengan sadar mengundang Farel Prayoga ke Istana Negara, demi mendendangkan "Dibanding-bandingke," yang tak lain nomor andalan milik Deny Caknan, yang juga beraliran dangdut koplo Jawa.

Lalu siapakah saya, yang cuma poser metalhead kemarin sore. Meski baru pertamakali menjejakkan kaki di pertunjukan musik Jawa semacam ini, yang secara spontan membikin tubuh saya berkeringat dingin lantaran merinding mendengar alunan  musiknya, tapi sejatinya hits-hits Deny Caknan bukan sesuatu yang asing di telinga.

Jujur saja, saya yang malam itu datang bersama Cony, ' si Mbak HRD' yang juga mungkin enggak paham-paham amat dengan sajian apa di depan matanya itu sengaja pakai masker hitam. Saya mengenakannya hingga akhir acara. Tujuan utama kami datang ke konser itu sejatinya adalah untuk kebutuhan konten. Mengingat Koran Kaltim terdaftar sebagai salah satu mitra media partner konser yang dipadati ribuan warga Samarinda itu.

Saya harus berterima kasih kepada masker lima belas ribuan yang saya beli di swalayan berjaringan warna biru itu. Musababnya, ia berhasil menutupi gerak bibir saya, yang secara reflek turut ber-sing along (menyanyi bersama) ketika beberapa hits andalan Denny yang familiar, dimainkan di panggung. Di tengah dentuman sound (yang dalam standar saya sangat kurang bulat itu) beberapa Cony berbisik.

"Ikam tahu aja kah, lagunya?," Jika diucapkan sembari menambahkan sedikit sunggingan senyum di tepi bibir, ini bisa diterjemahkan sebagai kalimat yang agak menyakitkan. Ini seperti bocah edgy indie, yang terpaksa nonton konser band pop. Tapi ucapan Cony dalam bahasa Banjar itu, rasanya memang lolos saja dari mulutnya murni demi mendapatkan informasi untuk memastikan apakah saya tahu atau tidak, lagu-lagu yang dimainkan Denny Caknan bersama DC Music di atas panggung.

Di luar fakta bahwa saya yang (mengaku) metalhead juga Cony yang rasanya sulit untuk bisa disebut pecinta lagu Jawa, adalah lokasi tempat konser digelar. Ya, Samarinda. Kota ini memang heterogen. Tapi, dalam banyak kesempatan. Sejarawan Kalimantan Timur Muhammad Sarip, seringkali bilang bahwa lingua franca alias bahasa yang paling dominan digunakan di kota ini adalah bahasa Banjar Samarinda. Tapi malam itu, mata saya sulit berbohong.

Ada ratusan orang di barisan depan, yang dengan mudah saya tangkap sedang ikut melantunkan lirik-lirik berbahasa Jawa dengan sangat lancar. Seolah-olah itu adalah bahasa sehari-hari mereka. Jadi, jika di mata saya, juga barangkali Cony. Konser malam itu tak ubahnya kami berada di tengah pertunjukan musik di luar negeri yang tak kami pahami bahasanya, maka sudut pandang sangat berbeda barangkali dimiliki ribuan orang-orang itu.

Tidak cuma sing-along. Bubuhan Samarinda ini tampak begitu menghayati tiap kata dari lirik lagu-lagu Denny Caknan yang kebanyakan bertema cinta dan hubungan asmara itu. Wah, sesuatu yang benar-benar di luar bayangan saya, tentang konser lagu Jawa.

Yang lebih wah lagi, adalah bahwa konser malam itu adalah event yang diselenggarakan oleh promotor musik, yang memungut tiket masuk. Harganya pun, tidak bisa dibilang murah. Artinya, mereka ini benar-benar pengin datang ke Sempaja untuk menikmati aksi Denny Caknan. Bukan orang gabut yang tak sengaja lewat lalu menonton.

Tapi di luar urusan musik. Rasanya, ada pelajaran maha penting dari fenomena ini. Saat ini, pemerintah sedang sekuat tenaga berusaha merevitalisasi bahasa daerah, melalui program-program di sekolah. Bahasa lokal Kalimantan Timur seperti Kutai, Banjar, Dayak (dengan segala sub kulturnya) serta bahasa lainnya tengah diupayakan agar kembali dipelajari di sekolah.

Ya, ini tentu bukan usaha yang serta-merta sia-sia. Tapi, marilah kita belajar dari Denny Caknan, yang jelas tidak pernah datang ke sekolah demi mengajarkan bahasa Jawa. Tapi lihat. Anak-anak Sambutan, Karang Paci, Sungai Dama dan Sungai Kunjang yang sehari-hari berbicara dalam bahasa Banjar Samarinda, bisa dengan fasih melantunkan lirik-lirik lagu Jawa sembari menghayati bait demi baitnya.

Rasanya kita sepakat, kalau cara ini akan lebih efektif. Jadi, apakah saya sedang mengusulkan agar pemerintah merilis album bahasa Jawa? Ya tentu tidak. Usaha-usaha secara formal, tetap harus didukung.

Tapi pengabadian bahasa lewat jalur-jalur non formal macam pengarusutamaan penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa dalam penyampaian budaya pop semacam lirik lagu cinta, amat sangat perlu dilakukan. Dan asal tahu saja.

Sudah ada loh, lagu-lagu seperti milik Denny Caknan yang berbahasa Kutai. Tentu tidak sama persis kemasan musiknya. Jadi mari kita dukung saja, dengan mulia menontonnya dan menyebarkannya. Sepakat? Baiklah, kalau sudah sepakat. Saya mau lanjut mendengarkan lagu Kalih Welasku dulu. Salam.

Samarinda, Rabu 24 Mei 2023

Rusdianto
Jurnalis Koran Kaltim

Nonton Konser Denny Caknan dan Pelajaran Maha Penting Soal Pelestarian Bahasa

Rabu, 24/05/2023

Denny Caknan berjongkok demi melayani ajakan swafoto di tengah konser di GOR Kadrie Oening, Samarinda Senin (15/5/2023) lalu. (Foto: Cony/Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait