Selasa, 14/02/2023

Peran Keluarga Dalam Pemulihan Kecanduan Narkoba

Selasa, 14/02/2023

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Peran Keluarga Dalam Pemulihan Kecanduan Narkoba

Selasa, 14/02/2023

logo

Oleh: Ns. Fitri Kasliyani Dewi, S.Kep 

Berdasarkan hasil survey prevalensi penyalahgunaan narkotika yang dilaksanakan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI) di 34 provinsi diketahui prevalensi penyalahgunaan mencapai 1,95 % atau 3,6 juta penduduk Indonesia, dan 1-2 juta di antaranya merupakan pemakai aktif. Ini terjadi pada rentang usia 15 - 64 tahun,

Adiksi,  atau yang biasa disebut dengan kecanduan dari penyalahgunaan zat adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh penggunaan suatu zat secara terus-menerus walaupun pengguna telah menyadari bahwa kebiasaan tersebut telah menimbulkan masalah seperti kesulitan mengontrol penggunaan, timbul masalah kesehatan dan konsekuensi sosial yang negative, dan BUKAN sebuah karakter, gangguan personaliti atau kegagalan moralitas, tentunya diperlukan upaya dalam pengobatan atau rehabilitasi. 

Badan Narkotika Nasional dengan berbagai program yang diluncurkan untuk menangani penyalahgunaan atau pecandu dalam mengikuti proses pemulihan yang dapat didasarkan pada kesadaran sendiri maupun dorongan dari keluarga untuk melakukan rehabilitasi.

Rehabilitasi merupakan bagian yang sangat penting dalam penanganan masalah Narkoba, rehabilutas menolong pecandu pulih dari pengaruh aktif dan membentuk perilaku baru yang lebih positif, namun pecandu sering mengalami kesulitas menyelesaikan rehabilitasi dan harus kembali ke lingkungannya, mereka akan berhadapan dengan masalah penerimaan dan penolakan keluarga serta orang-orang disekitarnya.  Kondisi ini menunjukan bahwa rehabilitasi tidak efektif bila hanya ditujukan untuk pecandu saja, rehabilitasi akan menjadi lebih efektif jika turut melibatkan keluarga dan masyarakat. Rehabilitasi berbasis masyarakat, atau lebih dikenal dengan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) bertujuan untuk membangun masyarakat yang peduli dan terlibat aktif dalam penanganan Narkoba.

Rehabilitasi diartikan sebagai proses pemulihan kapasitas fisik dan mental kepada kondisi sebelum penyalahguna atau pencandu, sebuah proses yang harus dijalankan dalam rangka pemulihan sepenuhnya, untuk hidup normatif, madiri dan produktif. Rehabilitasi berkelanjutan dapat di lakukan melalui layanan terapi medis dan psikiatris, tahap berikutnya adalah rehabilitas sosial yang bertujuan mengintergrasikan kembali pecandu atau penyalah guna dalam kehidupan masyarakat.

Saat awal pemulihan, mereka membutuhkan komitmen dari diri  sendiri dan semua orang (keluarga, pasangan, dan teman) agar  dapat mendukung untuk memulai perjalanan pemulihan.

Dalam masa pemulihan, perlu adanya peran dari keluarga, dimana keluarga sebagai salah satu agent of  change menjadi tempat penting bagi setiap  anggota yang berada di dalamnya. Secara  emosional, dukungan keluarga menjadi  kebutuhan dari setiap anggotanya.

 Selama dalam pemulihan kecanduan narkoba, keluarga sebagai orang terdekat selama proses rehabilitasi, keluarga residen (pasien rehab) perlu mendapatkan edukasi, seperti mengikuti diskusi kelompok terarah, kelompok dukungan keluarga dan beberapa kegiatan lainnya, sehingga keluarga juga mampu menerima kondisi klien setelah kembali kerumah.

Berdasarkan survey studi pendahuluan oleh peneliti pada tanggal 19 Agustus 2022 di Klinik Pratama  BNNP Kalimantan Timur terdapat klien pascarehabilitasi sejumlah 17 orang dan didapatkan 7 orang atau 24,28 %  kembali relaps, hal ini klien mengakui bahwa pada saat bersosialisasi kemasyarakat stigma masyarakat belum sepenuhnya postif terhadap mereka bahkan pada saat bekerjapun terkadang mereka dianggap tidak produktif, padahal mereka sudah mengikuti beberapa pelatihan kompetensi individu berupa pelatihan menjahit, pelatihan otomotif, pelatihan bertani, dan lain-lain yang telah diadakan dari diadakan secara langsung di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Samarinda yang bekerja sama dengan BNNP Kalimantan Timur.

Kasus yang sering dialami oleh klien pascarehabiltasi, seperti merasa malu karena dijauhi, dikucilkan bahkan tidak dianggap ada oleh keluarga karena keluarga merasa malu memiliki anggota keluarga seorang pecandu narkoba. Hal ini meraka dapatkan dari tanggapan-tanggapan orang sekitar, terutama keluarga, bahkan anggota keluarga sendiri mereka dapatkan hal seperti itu. Dari wawancara kepada konselor adiksi di klinik pratama  BNNP Kalimantan Timur, mereka banyak menerima keluh kesah yang dialami oleh klien, pada saat di luar mereka jarang ada orang yang memberikan nasehat kepada mereka terkait tentang kehidupan mereka. Berdasarkan data dari Klinik Pratama BNNP Kalimantan Timur bahwa sejak Januari sampai pertengahan Agustus 2022 jumlah keseluruhan klien yang mengikuti program pascarehabilitasi adalah 17 orang,  complete program sebanyak  10 orang atau 58,82 % sedangkan yang mengalami relaps sebanyak 7 orang atau 41,17 %.

 

Pecandu yang sudah direhabilitasi terkadang masih sering di sebut “individu yang buruk” atau “sampah masyarakat” respon masyarakat seperti ini terkadang membuat mereka merasa tidak nyaman, tidak percaya diri, merasa di kucilkan dan takut untuk bersosialisasi. Situasi menjadi buruk ketika mereka sulit mendapatkan pekerjaan  denagn alasan latar belakang mereka sebagai  recovering addicts. Kurang penerimaan dan dukungan dari keluarga sangat beresiko memunculkan kembali kekambuhan (relapse), mereka cenderung mencari lingkungan pergaulan yang mau menerimanya dan membuatnya nyaman. Yakni pergaulan yang lama dengan sesama pecandu, inilah yang menjadi alasan rehabilitasi tidak memberikan hasil yang optimal bila hanya ditujukan untuk pecandu saja. Rehabilitasi akan menjadi lebih baik  jika turut melibatkan peran serta aktif keluarga.

Salah satu bentuk dukungan sosial yang paling penting adalah dukungan keluarga. Menurut Suradi (2017) keluarga berperan penting dalam proses rehabilitasi serta saat kembali kepada keluarga dan lingkungan sosial. Keluarga berfungsi sebagai sistem sosial yang dapat mendukung kelangsungan hidup serta kesejahteraan setiap para anggotanya (Thoburn & Sexton, 2015). Begitu pentingnya dukungan keluarga yang dapat memberikan penguatan terhadap klien yang menjalani proses rehabilitasi dan paska rehabilitasi serta meningkatkan rasa percaya diri pecandu agar dapat cepat pulih dan siap kembali ke dalam lingkungan masyarakat. Hal tersebut berbanding terbalik dengan hasil penelitian yang dilakukan Agustina (2019) yang menyatakan bahwa dukungan sosial tidak memiliki hubungan signifikan dengan kepercayaan diri pada penyalahguna narkoba yang menjalani masa rehabilitasi. Kepercayaan diri rendah pada pengguna napza dapat menyebabkan seseorang sulit untuk berubah menjadi lebih baik saat menjalani program rehabilitasi, padaha salah satu aspek dari self esteem ialah keberartian atau penerimaan yang diperoleh melalui individu lain. Dalam hal ini, keberartian dapat berupa perhatian, kepedulian, maupun kasih sayang yang diterima oleh suatu individu dari individu lain. Dukungan keluarga sangat dibutuhkan bagi pasien rehabilitasi narkoba yang agar memiliki kualitas hidup yang baik, khususnya dukungan keluarga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga secara keseluruhan, umumnya kurang baik. Berdasarkan aspek dukungan keluarga, aspek emosional dan penilaian, responden mendapat dukungan keluarga yang cukup baik pada sebagian besar responden, namun kurang mendapatkan dukungan keluarga dari aspek instrumental dan informasional. Dukungan keluarga secara secara menyeluruh yang berpengaruh terhadap lama kambuh pasien rehabilitasi narkoba. Pasien rehabilitasi yang mendapat dukungan keluarga keluarga dengan baik mempunyai masa kekambuhan yang lebih lama setelah direhabilitasi dibandingkan pasien yang kurang mendapatkan dukungan dari keluarganya.

 

Dari beberapa kasus di lapangan menunjukkan bahwa dukungan keluarga menjadi salah satu syarat diperolehnya layanan rehabilitasi. Izin dari pihak keluarga atau wali untuk menempatkan klien pada tempat rehabilitasi menjadi salah satu syarat utama pemberian layanan rehabilitasi bagi klien. Yang menjadi salah satu faktor yang paling mempengaruhi keberhasilan proses rehabilitasi klien ialah dukungan sosial yang diberikan kepada klien, baik oleh keluarga atau orang-orang terdekat. Pernyataan tersebut didukung dengan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Noviarini, Dewi, dan Prabowo (2013) yang menyatakan bahwa dukungan sosial berpengaruh terhadap kualitas hidup pecandu narkoba.

Bentuk dukungan sosial yang diberikan dapat keluarga kepada klien antara lain:

Emotional Support yaitu menunjukkan kasih sayang dan sikap empati dengan tepat, dimana keluarga klien menunjukkan rasa kepeduliannya dengan caranya masing-masing seperti bersikap positif di hadapan klien, membantu kesulitan belajar, meluangkan waktu untuk bersama dan memberikan perhatian-perhatian kecil. kesediaan mereka untuk meluangkan waktu untuk sekedar mengobrol atau mendengarkan keluh kesah  satu sama lain atau sekedar bertukar kabar lewat telpon;

Esteem Support yaitu, proses awal menjalani program rehabilitasi tentu tidaklah mudah. Kepercayaan diri serta sikap positif klien akan diri sendiri kerap menurun saat melewati proses awal rehabilitasi. keluarga klien dapat meningkatkan perasaan positif klien tentang dirinya sendiri dengan memberikan beberapa saran positif kepada klien, Diskusiringan tentang tanggung  jawab dan tugas di antara anggota keluarga dengan  mendengarkan satu sama lain;

Nurturant Support yaitu, perasaan nyaman serta kontrol emosi yang baik dapat menjadi faktor penunjang keberhasilan program rehabilitasi.  Oleh karena itu, keluarga berusaha untuk terus memberikan semangat, saran, dan dorongan terhadap klien sehingga tumbuh perasaan nyaman dan kontrol emosi yang baik pada diri klien, memberikan perhatian dan pujian yang positif dan konsisten.

Ada hubungan antara peran keluarga dengan upaya  pencegahan narkoba.  Keluarga memberi nasihat tentang hal-hal positif,  memberi masukan dan membantu dalam pemecahan  masalah anak-anak mereka.  Komunikasi yang baik antara  orang tua dan anak akan menghasilkan rasa percaya, rasa  hormat, sehingga keharmonisan tercipta dan akan  mempengaruhi anak untuk terbuka mengungkapkan  perasaan dan pikirannya (Wa Ode et al, 2020 The Family  Roles to Prevention of Drug Abuse in Adolescents).

Begitu besar peran keluarga dalam memulihkan klien yang kecanduan narkoba, keluarga, mau tidak mau, harus mensupport anggota keluarganya yang telah selesai menjalani rehabilitasi secara keseluruhan setelah  pada saat telah kembali di tengah-tengah masyarakat, butuh peran dan dukungan keluarga dan masyarakat sekitar agar klien tidak merasa di kucilkan atau bahkan dijadikan warga “kelas dua di lingkungannya”. Cinta, dukungan dan keterlibatan keluarga selama pemulihan  akan mengurangi kemungkinan untuk kambuh setelah perawatan.  Keluarga perlu berpartisipasi dan mendapat edukasi tentang  kecanduan, penyebabnya, pemicunya, dan faktor penting lainnya  yang dapat membantu mengarahkan proses pemulihan.

#Keluarga

#Pemulihan

#KecanduanNarkoba

#WarOnDrug

Peran Keluarga Dalam Pemulihan Kecanduan Narkoba

Selasa, 14/02/2023

Share

Berita Terkait