Kamis, 25/06/2026
Kamis, 25/06/2026
Tim formatur KONI Kaltim, yang diminta selektif untuk penyusunan kepengurusan.(Ainur/Korankaltim.com)
Kamis, 25/06/2026

Tim formatur KONI Kaltim, yang diminta selektif untuk penyusunan kepengurusan.(Ainur/Korankaltim.com)
Penulis: Ainur Rofiah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, Rasman Rading, menegaskan pentingnya kehati-hatian Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim dalam menerima cabang olahraga (cabor) baru sebagai anggota.
Dia meminta proses seleksi dilakukan lebih ketat agar setiap organisasi yang bergabung benar-benar memenuhi standar pembinaan olahraga.
Cabor yang ingin menjadi bagian dari KONI wajib mematuhi ketentuan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
Aturan tersebut, kata dia, bukan sekadar formalitas, melainkan dasar penting untuk memastikan organisasi memiliki sistem pembinaan yang jelas dan berkelanjutan.
“Seluruh cabang olahraga harus memperhatikan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga KONI. Jangan sampai sudah menjadi anggota KONI, tetapi kemudian justru membebani keuangan daerah,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).
Rasman menekankan, proses verifikasi keanggotaan tidak boleh hanya berhenti pada kelengkapan administrasi.
Ia menyebut, organisasi olahraga juga harus benar-benar memiliki unsur pendukung yang nyata seperti atlet aktif, pelatih, klub, hingga program pembinaan yang berjalan.
Ia bahkan menyoroti masih adanya federasi yang mengalami kesulitan dalam pembinaan, termasuk dalam mencari atlet putri. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi bukti keberadaan organisasi tidak cukup hanya dibuktikan dengan surat keputusan (SK) kepengurusan.
“Misalnya Savate memiliki lima SK dari kabupaten dan kota, lalu disahkan di provinsi. Itu silakan saja. Tetapi yang harus dicek, apakah di masing-masing daerah itu benar-benar memiliki klub. Harus punya AD/ART, atlet, pelatih dan program pembinaan. Jangan hanya bermodalkan SK,” terangnya.
Lebih lanjut, Rasman menilai keberadaan atlet merupakan indikator paling penting untuk mengukur hidup atau tidaknya sebuah cabang olahraga.
Tanpa atlet, menurutnya, organisasi hanya akan menjadi struktur administratif tanpa aktivitas pembinaan yang nyata.
“Jangan sampai ada cabang olahraga yang ternyata tidak memiliki atlet,” katanya.
Rasman juga mengingatkan agar KONI Kaltim tidak sembarangan menerima keanggotaan baru tanpa melakukan verifikasi mendalam hingga tingkat kabupaten dan kota.
Semua persyaratan, kata dia, harus dipastikan terpenuhi sebelum organisasi tersebut ditetapkan sebagai anggota resmi.
“KONI jangan terima-terima begitu saja. Harus diverifikasi sampai di tingkat kabupaten dan kota. Apakah dia punya syarat mutlak? Kalau tidak, berarti KONI yang salah,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Kamis, 25/06/2026
Tim formatur KONI Kaltim, yang diminta selektif untuk penyusunan kepengurusan.(Ainur/Korankaltim.com)
TERPOPULER