Dikonfirmasi terkait hal ini, pengelola SPBU APT Pranoto Ardy mengklarifikasi penyebab dari mogoknya beberapa kendaraan milik konsumen tersebut.
Ia mengaku pengisian Pertalite dengan kualitas dengan kualitas minyaknya mengalami penurunan. “Memang terjadi hanya sebentar dan baru beberapa kendaraan yang sempat diisi oleh petugas,” kata Ardy.
Namun sesaat kemudian pihaknya kembali melayani konsumen dengan meggunakan bahan bakar yang kualitasnya baik. “Memang ada dua tangki yang digunakan untuk mendistribusikan bahan bakar ke konsumen,” jelasnya.
SPBU siap melakukan penggantian bahan bakar dengan cara disedot kemudian mengisi kembali dengan bahan bakar yang baru. “Kendaraan yang mogok akan mendapat penggantian bahan bakar,” tegas Ardy.
Terpisah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur sudah melakukan pemeriksaan ke SPBU. Diduga ada kelalaian oleh pihak SPBU yang menyebabkan tercampurnya bahan bakar jenis pertalite dengan solar.
Kadisperindag Kutim Zaini menuturkan penyebab mogoknya sejumlah kendaraan saat mengisi BBM jenis pertalite di SPBU APT Pranoto pada saat pengisian Pertalite mereka lupa menutup panelnya.
Hal itu membuat proses pengisian ulang tangki SPBU, mobil distribusi BBM yang memuat 16 ribu liter terbagi menjadi dua jenis bahan bakar, yakni Pertalite 8.000 liter dan Solar 8.000 liter.
“Saat pertalite sudah diisi full sekitar 8.000 liter atau 8 ton, petugas akan memindahkan nozzle (alat penyemprot bahan bakar) ke tangki solar. Akhirnya nozzle yang di bawah tangki pertalite lupa ditutup. sementara pengisian dipindah ke Solar. Akhirnya sempat masuk kurang lebih 300 liter solar ke penampungan Pertalite,” jelas Zaini.
Usai masuknya solar ke dalam pertalite, bahan bakar Pertalite di tangki pengisian menjadi tercampur. Sehingga pada saat konsumen membeli, bahan bakar yang tadinya sudah tercampur ini menyebabkan kendaraan mogok dan tidak bisa dihidupkan.
Persoalan ini sudah diselesaikan dan pihak SPBU dan langsung melakukan pembersihan tangki dan mengganti pertalite yang tadinya tercampur dengan bahan bakar pertalite yang baru.
“Karena kesalahan pihak SPBU sehingga konsumen yang merasa dirugikan akan diganti dengan bahan bakar baru,” jelas Zaini.
Penulis: */Zulhamri
Editor: Aspian Nur