Salah seorang penggagas dapur rakyat, Eko Sugiarto menuturkan bahwa awalnya gerakan ini muncul dari diskusi terkait pandemi Covid-19 serta pemberlakukan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Kutim.
“Di dalam grub WA terjalin diskusi kemudian memunculkan ide dalam membantu Pemerintah dalam upaya meringankan beban warga yang sedang isolasi mandiri lewat dapur rakyat,” sebutnya.
Meskipun diakui, pihaknya tidak memiliki kemampuan lebih secara materi namun berkat dukungan seluruh masyarakat dan seluruh stakeholder yang ada hingga mampu untuk mendirikan dapur rakyat tersebut.
“Dapur ini digagas dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Termasuk para relawan yang sukarela untuk membantu dalam penyajian makanan,” sebutnya.
Sementara Kepala Dapur, Saddam Husein menuturkan bahwa persediaan dapur rakyat masih tersedia meskipun beberapa kebutuhan mulai menipis.
Porsi makanan yang dimasak terus bertambah. Pada tiga hari beroperasi dapur rakyat menyiapkan 300 porsi untuk pada siang dan malam hari.Kemudian meningkat menjadi 350 porsi pada hari ke-4 sampai ke-7, serta meningkat lagi menjadi 400 porsi hingga saat ini.
“Stok yang ada masih cukup ditaksir hingga tujuh hari ke depan sembari menunggu adanya tambahan bantuan logistik utamanya untuk kebutuhan lauk pauk maupun bumbu masak,” sebutnya.
Penyediaan nasi bungkus seiring bertambahnya pasien yang menjalani isoman. Bahkan porsi yang disiapkan belum mencakup keseluruhan warga, namun setidaknya cukup membantu bagi warga yang sangat terdampak.
Sementara untuk bahan pokok seperti beras, minyak goreng, telur dan mie instan masih tersedia cukup banyak. Sehingga berharap agar sumbangan terus mengalir agar dapat membantu memenuhi kebutuhan logistik.
“Kami tim dapur berjumlah kurang lebih 40 orang yang bertugas memasak dan membungkus nasi kemudian dia antar ke rumah-rumah pasien yang sedang Isoman. Selama ini berjalan dengan lancar dengan tim yang ada,” tandasnya.
penulis : */Zulhamri
Editor : Bambang Irawan