“Total desa yang terdampak ada tujuh. Hanya satu desa yang tidak terdampak. Bahkan ada satu desa semua kepala keluarga (KK) yang telah melakukan pengungsian di balai pertemuan,” sebutnya.
Pihaknya mengharapkan agar Badan Penanggujangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim memfasilitasi peralatan berupa perahu karet untuk mempermudah melakukan monitoring di setiap desa, mengantisipasi ketika warga ada keluhan.
“Kami minta agar BPBD segera turun ke lapangan untuk memberikan peralatan seperti speedboat. Karena kami tidak memiliki perahu ketinting sehingga akses terbatas,” sebutnya.
Terkait masalah logistik, untuk sementara ini, pihaknya belum ada keluhan. Pihaknya berharap agar banjir segera surut sebab aktivitas terhenti karena debit air masih tinggi.
Banjir yang melanda mengakibatkan akses jalan antar kecamatan dan desa sulit dilalui. Musibah terjadi tepatnya di beberapa kecamatan di daerah hulu Kutim.
Salah satu wilayah yang paling berdampak ialah Kecamatan Muara Ancalong, pasalnya hampir seluruh akses jalan antar desa di Muara Ancalong terendam oleh banjir yang terjadi ini.
Camat Muara Ancalong, Sabran menuturkan bahwa ada sekitar delapan desa yang terdampak bencana banjir.
“Ya, untuk kondisi sementara, semua jalan utama di Muara Ancalong masih terdampak banjir,” ungkap Sabran.
“Desa yang terdampak, dari arah hulu itu Desa Long Tesak, Gemar Baru, Long Nah, Muara Dun, Teluk Baru, Kelinjau Ilir, Kelinjau Ulu, dan Desa Senyiur,” lanjutnya.
Sabran juga mengatakan, hingga saat ini akses transportasi keluar masuk masyarakat jalur darat terpaksa beralih menggunakan perahu.
“Ya, untuk saat ini akses yang dipakai warga keluar masuk daerah, beralih menggunakan perahu,” kata Sabran.
Terpisah, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengatakan bahwa akibat banjir yang telah merendam ratusan rumah warga beberapa hari terakhir. Aridansyah menyebut sebagai siklus musiman yang biasa terjadi tiap 10 tahun sekali.
Sebab, dirinya telah mengetahui hal itu sudah cukup lama, mengingat ia juga berasal dari daerah yang terdampak banjir tersebut.
Diakuinya, banjir kali ini memang berdampak lebih besar dari kejadian sebelumnya. Hal ini pun menurutnya bertambah parah dengan curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah utara Kaltim sebulan terakhir.
“Kalau yang saya ketahui, karena saya juga orang sana, itu yang musiman siklus 10 tahunan itu sudah biasa. Apalagi curah hujan di wilayah utara sebulan belakangan ini cukup tinggi,” beber Ardianysah.
Sejumlah upaya pun telah dilakukan untuk menangani dampak banjir. “Sudah ada alokasi kucuran dananya untuk dilakukan upaya penanggulangan terhadap bencana banjir. Baik saat evakuasi warga maupun pemberian berbagai bantuan seperti sembako,” tandasnya.[]
Penulis : */Zulhamri
Editor : Redaksi Koran Kaltim