Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan tidak akan kompromi dengan pelaku pembakaran hutan dan lahan (karhutla).
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan tidak akan kompromi dengan pelaku pembakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menegaskan strategi penanganan karhutla kini menggabungkan pemadaman cepat dengan penindakan hukum yang tegas terhadap terduga pelaku pembakar lahan.
Langkah ini diambil untuk penguatan koordinasi antara Pemerintah Daerah (Pemda) dan Aparat Penegak Hukum (APH). Komitmen ini dibuktikan dengan respons cepat aparat saat mendeteksi informasi pembakaran lahan yang beredar di media sosial.
“Kita sudah berkomitmen untuk melakukan penindakan dan sudah berkoordinasi dengan baik antara pemerintah daerah dan aparat penegak hukum,” kata Aulia Rahman, Selasa (27/10/2026).
Berkat sinergi ketat antara petugas Damkar dan Barisan Sukarelawan Kebakaran (Balakar), titik api yang terdeteksi rata-rata berhasil dipadamkan dalam waktu kurang dari 24 jam.
Demi mempertahankan respons cepat ini, Pemkab Kukar berkomitmen untuk terus melengkapi sarana dan prasaran petugas, terutama guna menjangkau lokasi-lokasi yang sulit diakses.
Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar melaporkan adanya tren penurunan luas lahan yang terbakar dalam tiga bulan terakhir.
Meskipun total akumulasi lahan terbakar hingga pekan ketiga Oktober 2026 telah mendekati 2.400 hektare, lonjakan tertinggi sebenarnya sudah terlewati pada Agustus 2026 lalu.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, menjabarkan data fluktuasi karhutla sepanjang semester kedua pada 2026. Sejak Juli, luas lahan terbakar hanya sekitar 21 hektare, namun melesat tajam hingga 1.300 hektare pada Agustus.
Angka tersebut perlahan turun menjadi 722 hektare pada September, dan terus menyusut hingga 312 hektare pada pekan ketiga Oktober.
“Kalau melihat data ini ada penurunan dalam beberapa belan terakhir ini,” ucapnya.
Meski mulai memasuki masa peralihan ke musim penghujan, BPBD Kukar tetap mewaspadai area yang sering mengalami kebakaran yang terus berulang, seperti Kecamatan Muara Badak dan Anggana. Wilayah hulu seperti Muara Wis dan Muara Muntai juga menjadi perhatian khusus karena kendala akses darat yang menyulitkan proses pemantauan.
Aspianur mengingatkan, status titik panas ini masih bersifat indikasi awal yang memerlukan verifikasi visual langsung di lapangan.
“Untuk hotspot itu belum tentu kebakaran. Kita masih perlu klarifikasi terlebih dahulu karena ada beberapa titik yang harus dipastikan kondisi sebenarnya di lapangan,” tutupnya.
Editor: Erwin
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menegaskan strategi penanganan karhutla kini menggabungkan pemadaman cepat dengan penindakan hukum yang tegas terhadap terduga pelaku pembakar lahan.
Langkah ini diambil untuk penguatan koordinasi antara Pemerintah Daerah (Pemda) dan Aparat Penegak Hukum (APH). Komitmen ini dibuktikan dengan respons cepat aparat saat mendeteksi informasi pembakaran lahan yang beredar di media sosial.
“Kita sudah berkomitmen untuk melakukan penindakan dan sudah berkoordinasi dengan baik antara pemerintah daerah dan aparat penegak hukum,” kata Aulia Rahman, Selasa (27/10/2026).
Berkat sinergi ketat antara petugas Damkar dan Barisan Sukarelawan Kebakaran (Balakar), titik api yang terdeteksi rata-rata berhasil dipadamkan dalam waktu kurang dari 24 jam.

Demi mempertahankan respons cepat ini, Pemkab Kukar berkomitmen untuk terus melengkapi sarana dan prasaran petugas, terutama guna menjangkau lokasi-lokasi yang sulit diakses.
Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar melaporkan adanya tren penurunan luas lahan yang terbakar dalam tiga bulan terakhir.
Meskipun total akumulasi lahan terbakar hingga pekan ketiga Oktober 2026 telah mendekati 2.400 hektare, lonjakan tertinggi sebenarnya sudah terlewati pada Agustus 2026 lalu.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, menjabarkan data fluktuasi karhutla sepanjang semester kedua pada 2026. Sejak Juli, luas lahan terbakar hanya sekitar 21 hektare, namun melesat tajam hingga 1.300 hektare pada Agustus.

Angka tersebut perlahan turun menjadi 722 hektare pada September, dan terus menyusut hingga 312 hektare pada pekan ketiga Oktober.
“Kalau melihat data ini ada penurunan dalam beberapa belan terakhir ini,” ucapnya.
Meski mulai memasuki masa peralihan ke musim penghujan, BPBD Kukar tetap mewaspadai area yang sering mengalami kebakaran yang terus berulang, seperti Kecamatan Muara Badak dan Anggana. Wilayah hulu seperti Muara Wis dan Muara Muntai juga menjadi perhatian khusus karena kendala akses darat yang menyulitkan proses pemantauan.
Aspianur mengingatkan, status titik panas ini masih bersifat indikasi awal yang memerlukan verifikasi visual langsung di lapangan.

“Untuk hotspot itu belum tentu kebakaran. Kita masih perlu klarifikasi terlebih dahulu karena ada beberapa titik yang harus dipastikan kondisi sebenarnya di lapangan,” tutupnya.
Editor: Erwin




Kutai Kartanegara



Kutai Kartanegara

428 kali dibaca



Pusat gempa berada di laut 30 km timur laut Mbay, Nagekeo
26 Okt 2026, 11:53:42 WIB • Kedalaman 13 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG
