Manajer PT PLN ULP Melak Dhudik Arief Hadiyanto kepada
Korankaltim.com Senin (12/8/2024) hari ini menjelaskan, mesin tersebut
merupakan mesin relokasi dari beberapa PLTD Kalteng dan Kalsel. Dari total 7
unit, 5 diantaranya untuk tahun 2024 ini dan dua unit untuk tahun 2025
mendatang.
"Mesin pembangkit tersebut memang bukan mesin baru, tapi
mesin tersebut masih prima dan tidak digunakan di daerah lain karena surplus
daya," jelas Dhudik.
Kutai Barat mengalami defisit daya dikarenakan daya mampu mesin
yang beroperasi saat ini hanya 19 MW dari total 19 mesin yang beroperasi,
sementara daya listrik yang dimanfaatkan masyarakat saat ini sudah mencapai
18,5 MW atau bertambah 2,5 MW, sekitar 15,6 persen dari awal tahun 2023
yang hanya sebesar 16 MW.
Pertumbuhan listrik ini merupakan dampak positif dari 30 desa
baru yang telah rampung pebangunan jaringan listriknya dan natural growth
pemakaian listrik di masyarakat Kutai Barat .
"Idealnya harus ada cadangan 1 sampai 2 MW untuk spare
pemeliharaan periodik, saat ini kondisi nya defisit, untuk itu dilakukan
pemadaman listrik bergiliran sejak Juni kemarin" papar Dhudik lagi.
Untuk pemasangannya nanti sampai bisa beroperasi diestimasikan
satu bulan sudah bisa berjalan bertahap. "Dari 5 unit yang datang,
pihak kami mengupayakan segera paling tidak satu atau dua unit mesin bisa di
operasikan segera, sisanya nanti untuk spare maintenance." jelasnya.
Diharapkan nantinya dari total 24 unit mesin yang beroperasi
yang menghasilkan daya sebesar 24 MW mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang
pemakaian listrik sudah mencapai 18.5 MW sehingga tidak akan terjadi lagi
pemadaman listrik bergilir di Kutai Barat.
Editor: Aspian Nur