Padahal objek wisata yang ada ini, bila dapat di kembangkan secara maksimal bisa menjadi salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kutai Barat, sebagai contoh melalui tiket retribusi masuk.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Kutai Barat, Seki mengatakan ada beberapa objek pariwisata yang vakum.
“Kendala belum di kelola dan tidak dapat sentuhan dari Dinas Pariwisata, karena legalitas lahan belum ada kejelasan, ini terkait pertanggung jawaban keuangannya nanti,” terang Seki, Minggu (18/12/2022).
Jika memang lahan objek destinasi wisata itu di hibahkan ke Dinas Pariwisata, maka Dinas bisa menganggarkan jika kondisi keuangan memungkinkan.
Di tambahkannya selain hal tersebut diatas kendala yang di hadapi dalam mengembangkan pariwisata adalah tergantung dari anggaran keuangan yang ada.
Masih menurut Seki, Dinas Pariwisata juga sampaikan terima kasih kepada World Wide Found for Nature (WWF), Karena WWF bersama Dinas Pariwisata melakukan pembinaan kepada Kelompok Sadar wisata (Pokdarwis) salah satunya di Kampung Melapeh Lama, Kecamatan Linggang Bigung.
Belum maksimalnya potensi wisata bisa di kembangkan, padahal perhotelan, penginapan dan homestay serta transportasi sebagai faktor mendukung cukup banyak di Kutai Barat.
Destinasi wisata di Kutai Barat tersebar di 16 Kecamatan, dengan beragam obyek wisata, misalnya wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner, wisata ziarah, wisata cagar alam, wisata pertanian( Agrowisata) misalnya yang ada di Kampung Melapeh Lama yang di kenal dengan Kopi Linggang. (*/Sunardi)
Editor : Rusdi