“Sekarang slotnya sudah ditentukan dari pusat. Misalnya berapa persen untuk ketahanan pangan, kemudian penanganan Covid-19 dan lainnya. Jadi tidak seperti dulu lagi,” kata Syahril membuka pembicaraan.
Meskipun sudah memiliki beberapa slot, namun untuk pembangunan yang menjadi kebutuhan kampung tetap diprioritaskan agar bisa menghasilkan Pendapatan Asli Kampung (PAK).
“Diantaranya untuk pengembangan objek wisata Kampung Jambuk sendiri. Anggarannya tetap ada, sekitar Rp80 juta,” jelas Syahril.
Anggaran untuk pengembangan objek wisata ini memang dirasa sangat penting bagi kampung tersebut. Apalagi untuk program pengembangan objek wisata tersebut disambut penuh semangat penduduk setempat. Prioritas utama adalah pembangunan wisata alam seperti tempat wisata alam, kolam renang dan wisata taman.
“Program pengembangan objek wisata ini memang sudah dicanangkan sejak dua tahun lalu. Namun karena pandemi Covid-19 maka pengerjaannya sedikit terhambat sehingga ini tetap diprioritaskan berdasarkan hasil dari musyawarah kampung,” tambahnya.
Slot penggunaan anggaran DD yang telah ditetapkan dari pusat tetap akan dijalankan oleh pemerintah desa. Dimana beberapa rincian slot dari DD tersebut diantaranya sekitar 30 persen untuk program ketahanan pangan, 40 persen untuk BLT Covid-19, kemudian 8 persen untuk penanganan Covid-19. Dan sisanya untuk sektor-sektor lainnya seperti pendidikan, kesehatan dan juga pembangunan fisik dalam kampung.
Penulis: */ M Yasin Handayan
Editor: Aspian Nur