Dengan mengandalkan 4 unit usaha yang secara perlahan dirintis ini, setidaknya sudah menghasilkan laba yang sangat cukup untuk pembangunan didalam kampung dan juga meningkatkan perekonomian masyarakat kampung itu sendiri. Adapun 4 unit usaha tersebut diantaranya adalah digital printing, pengelolaan sampah, pengelolaan pasar dan kios penjualan kerajinan serta hasil pertanian masyarakat.
"Dari bulan Januari hingga Desember 2020 ini, total yang dihasilkan BUMKam Linggang mencapai Rp414 juta, untuk PAKam kami serahkan sekitar 20 persen, Rp77,4 juta setelah dipotong pajak serta biaya operasional dan juga pembangunan kios penjualan hasil pertanian dan kerajinan," tambah Santi.
Petinggi Kampung Linggang Bigung, Bastianus yang menerima hasil PAKam tersebut mengapresiasi hasil yang diperoleh dari BUMKam Linggang. Dimana pendirian BUMKam ini bersumber dari Dana Desa (DD) guna meningkatkan perekonomian masyarakat serta penerimaan kampung sehingga bisa menjadi kampung mandiri dan mensejahterakan masyarakat kampung.
"Sudah sangat bagus selama dua tahun terakhir ini selalu menghasilkan PAKam. Kita berharap bisa semakin lebih ditingkatkan karena masih banyak sektor yang bisa dikelola dan nantinya bisa menambah pendapatan asli kampung. Salah satunya sektor pariwisata yang rencananya akan digarap di tahun mendatang," kata Bastianus.
Camat Linggang Bigung Kristian menilai kinerja BUMKam Linggang sudah sangat baik. Dari 11 BUMKam di kecamatan ini, ada sekitar 3 BUMKam yang selama ini masih aktif, yakni di Kampung Bangun Sari, Linggang Kebut dan Linggang Bigung. Dan BUMKam Linggang adalah satu satunya BUMKam yang sudah melakukan penyerahan PAKam tahun 2020 ke pemerintah kampung yang dilaksanakan secara terbuka serta dihadiri masyarakat serta tokoh adat kampung.
"Dua kampung lainnya masih dalam proses, yakni Bangun Sari dan Linggang Kebut. Semoga ini bisa menjadi contoh yang baik bagi kampung lainnya untuk terus berupaya lebih baik lagi," kata Kristian. (*)
Penulis : M. Yasin Handayan
Editor: Aspian Nur