Senin, 16/05/2022

Nutuk Beham, Ritual Kutai Adat Lawas yang Masih Lestari

Senin, 16/05/2022

Warga sedang menumbuk padi hasil panen di kawasan Balai Adat Desa Kedang Ipil. ( Foto: Dok.Korankaltim)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Nutuk Beham, Ritual Kutai Adat Lawas yang Masih Lestari

Senin, 16/05/2022

logo

Warga sedang menumbuk padi hasil panen di kawasan Balai Adat Desa Kedang Ipil. ( Foto: Dok.Korankaltim)

KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Suara lesung kayu yang ditumbuk terdengar menggema hampir ke seluruh desa, menciptakan ritme yang meninggalkan kesan kentalnya budaya Kutai adat lawas Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat.

Suara itu menggema sejak Jumat (13/5/2022) dini hari. Warga setempat beramai-ramai menumbuk hasil panen berupa padi gunung di kawasan balai adat, berlangsung tiada henti hingga gabah hasil panen itu selesai ditumbuk semuanya. Sementara kaum perempuannya menampi, memisahkan padi dari sekam hasil tumbukan tadi.

Ini sudah menjadi tradisi turun temurun dilestarikan warga setempat yang kini bahkan dijadikan semacam even festival oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara (Kukar) sejak 2017 lalu, yang dinamai dengan Nutuk Beham.

Kepala Ada Kedang Ipil, Murat menyebut acara puncak Nutul Beham dihelat pada Minggu (15/5/2022). Acara ini diawali dengan proses sakral yang dilakukan tetua desa, dimana mereka melakukan komunikasi dengan ruh yang disebut dengan penunggu benua untuk memberitahukan bahwa kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari.

“Kalau tidak dikasih tahu nanti kita menerima akibatnya,” kata Murat. Di hari pertama, lanjutnya, warga sekitar sudah menumbuk 1.050 kilogram padi. Itu merupakan satu perempat dari total padi yang dipanen.

Para warga pemilik beras ini akan membuat sebagian kecil beras hasil panen menjadi sesajen yang bagi leluhur masing-masing. Murad membeberkan, ritual tersebut disebut dengan bememang. Semacam merapal doa menyampaikan keinginan kepada roh leluhur dengan menyajikan ketan dari hasil panen warga setempat. Di Tenggarong, lanjut Murad, ritual ini hampir sama dengan upacara besawai.

Salah satu tujuan ritual ini agar mendapatkan keberkahan dari hasil panen warga. “Kedua, ya kita mau nanam lagi biar dapat rejeki yang lebih besar lagi,” jelasnya.

Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan makan beseprah. Juga ada pentas dan pawai seni tradisional, dan olahraga tradisional yang menjadi rangkaian dari even ini. 

Kegiatan ini sempat ditiadakan dua tahun lalu akibat maraknya Pandemi Covid-19. Tahun ini diadakan kembali seiring meredanya virus corona.


Penulis: */Reza Fahlevi

Editor: Supiansyah

Nutuk Beham, Ritual Kutai Adat Lawas yang Masih Lestari

Senin, 16/05/2022

Warga sedang menumbuk padi hasil panen di kawasan Balai Adat Desa Kedang Ipil. ( Foto: Dok.Korankaltim)

Share

Berita Terkait