“Semua harus berhati-hati, protokol kesehatan tetap yang utama, jangan sampai sudah divaksin lalu merasa sudah aman. Vaksin sinovac itu hanya untuk virus corona tipe 1 dan 2, padahal banyak tipe untuk covid ini. Tentu dalam teorinya, sampai 4 tahun ke depan setelah pandemi tetap harus menerapkan protokol kesehatan,” papar Khairul Kamis (29/4/2021) kemarin.
Masyarakat diminta untuk tetap patuh terhadap imbauan-imbauan yang diberikan oleh pemerintah, meskipun sudah ada kelonggaran-kelonggaran tetapi tetap wajib waspada. “Tipe covid ini kan sangat gampang bermutasi, sehingga muncul tipe-tipe baru. Tren di India ini kan memang karena mereka sudah merasa kasusnya sudah turun bahkan zero penambahan kasus konfirmasi positif. Sehingga hura-hura dan pesta di Sungai Gangga, akhirnya terjadi ledakan serangan,” ungkapnya.
Disinggung mengenai antisipasi warga India masuk ke Tarakan, Khairul menegaskan hal tersebut sudah dilakukan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), baik di bandara maupun pelabuhan karena otoritas kedatangan masih di KKP. Tetapi setelah lewati itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, maka harus dilakukan tracing dan treatment.
Selain kedatangan warga India, larangan juga diberikan kepada warga Indonesia untuk tidak melakukan perjalanan mudik. Karena bisa berdampak buruk bagi semuanya. Berkaca pada libur panjang sebelumnya, selalu dibarengi dengan peningkatan kasus positif terjangkit. Sehingga larangan mudik juga upaya pemerintah dalam menekan penyebaran Covid-19.
“Saya kira Bapak Presiden (Joko Widodo) berkaca pada peristiwa-peristiwa selama ini. Saat ada mobilisasi massa besar, akan terjadi lonjakan kasus. Makanya ada larangan mudik. Oleh karena itu harus belajar dari India, yang tidak menerapkan protokol kesehatan hingga akhirnya terjadi ledakan kasus. Makanya pemerintah pusat melakukan larangan mudik,” tutup Khairul.
Editor: Aspian Nur