“Binalatoeng ini ejaan lama dan kita tidak merubah dari keasliannya, berdasarkan peta yang dibuat Belanda pada 1836 juga memiliki nama seperti ini. Dan menjadi nama salah satu sungai yang ada di Tarakan, jaraknya 300 meter dari sini ke sebelah barat,” terang Sofian usai meresmikan bumi perkemahan Binalatoeng, Sabtu lalu.
Lahan ini memiliki luas 38 hektare dan berada di area hutan kota sehingga lokasinya dikelilingi oleh yang masih asli, belum ada berubahan dan vegetasinya masih asli dan dihuni oleh berbagai macam flora dan fauna khas Tarakan.
“Ada pasak bumi, kantung semar, serta berbagai macam anggrek, kayu, ungags, dan hewan melata. Makanya bumi perkemahan ini harus ada pembinaan untuk pengenalan lebih dekat lagi, dan akan kita tembok biar tidak seperti gado-gado, serta pemanfaatanya benar-benar maksimal. Ini international, kalau sudah kita benahi, kita mengundang pramuka dari Philipina, Brunei Darussalam, dan Malaysia untuk jambore di sini,” bebernya.
Lebih lanjut dikatakan Sofian, alasan pemasangan tembok agar lokasi tidak diserobot dan disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggungjawab. Selain itu, peserta pramuka tidak akan tersesat karena mereka hanya akan berputar-putar di dalam lokasi, tetapi kalau dibiarkan tanpa pembatas bisa masuk hutan.
“Di sini sudah lengkap dan mendukung, ada hutan, sungai, pantai, flora dan fauna. Tinggal kita beri beberapa fasilitas pendukung, di sini juga sudah ada panggung hiburan yang dapat dimanfaatkan untuk unjuk kreativitas anak-anak pramuka, sekaligus bisa lihat laut dan kapal yang lewat,” bebernya. (yan)