Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda berdampak langsung pada ketersediaan sumber pakan ternak.
1 menit baca1 kali dibaca

Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda berdampak langsung pada ketersediaan sumber pakan ternak.
Para peternak harus menjangkau lokasi yang lebih jauh serta mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan rumput untuk sapi dan kambing yang dipeliharanya.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Distapangtani) Samarinda Maskuri mengatakan, kebakaran lahan tersebut diperkirakan telah mengurangi sekitar 30 hingga 35 persen sumber pakan ternak.
Akibatnya, peternak yang sebelumnya bisa mencari rumput di sekitar lokasi pemeliharaan kini harus memperluas wilayah pencarian.
“Harusnya dia (peternak) bisa ngarit, dan cari. Sekarang lahannya terbakar, mereka harus beli dan jauh jaraknya. Itu mengganggu dalam proses pemeliharaannya,” kata Maskuri, Senin (2/11/2026).
Peternak di kawasan Lempake dan Tanah Merah, misalnya, terpaksa mencari rumput hingga ke Tanah Datar dan Sungai Siring.
Selain jarak yang semakin jauh, harga pakan yang dijual secara borongan turut mengalami lonjakan. Biaya yang sebelumnya berkisar Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per satu mobil bak terbuka (pick-up) kini dapat mencapai sekitar Rp750 ribu.
“Karena penjual rumput juga mengamankan ketersediaan rumput,” ucapnya.
Meski biaya pemeliharaan meningkat akibat mahalnya pakan, kondisi tersebut belum berdampak langsung terhadap harga jual sapi.
Peternak umumnya masih mempertahankan ternaknya hingga mencapai bobot hidup sesuai target sebelum dijual, mengingat sapi kerap diposisikan sebagai bentuk tabungan keluarga.
Maskuri berharap ketersediaan lahan pakan dapat segera pulih agar beban biaya tambahan bagi peternak dapat berkurang dan proses pemeliharaan ternak berjalan lebih optimal.
“Untuk sementara (harga) kita masih dominan, tapi tidak tahu ketika Iduladha. Tapi penjualan sapi kita masih didominasi import seperti dari NTT, NTB, artinya dari Sulawesi,” tandasnya.
Editor: Erwin
Para peternak harus menjangkau lokasi yang lebih jauh serta mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan rumput untuk sapi dan kambing yang dipeliharanya.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Distapangtani) Samarinda Maskuri mengatakan, kebakaran lahan tersebut diperkirakan telah mengurangi sekitar 30 hingga 35 persen sumber pakan ternak.
Akibatnya, peternak yang sebelumnya bisa mencari rumput di sekitar lokasi pemeliharaan kini harus memperluas wilayah pencarian.
“Harusnya dia (peternak) bisa ngarit, dan cari. Sekarang lahannya terbakar, mereka harus beli dan jauh jaraknya. Itu mengganggu dalam proses pemeliharaannya,” kata Maskuri, Senin (2/11/2026).

Peternak di kawasan Lempake dan Tanah Merah, misalnya, terpaksa mencari rumput hingga ke Tanah Datar dan Sungai Siring.
Selain jarak yang semakin jauh, harga pakan yang dijual secara borongan turut mengalami lonjakan. Biaya yang sebelumnya berkisar Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per satu mobil bak terbuka (pick-up) kini dapat mencapai sekitar Rp750 ribu.
“Karena penjual rumput juga mengamankan ketersediaan rumput,” ucapnya.
Meski biaya pemeliharaan meningkat akibat mahalnya pakan, kondisi tersebut belum berdampak langsung terhadap harga jual sapi.
Peternak umumnya masih mempertahankan ternaknya hingga mencapai bobot hidup sesuai target sebelum dijual, mengingat sapi kerap diposisikan sebagai bentuk tabungan keluarga.
Maskuri berharap ketersediaan lahan pakan dapat segera pulih agar beban biaya tambahan bagi peternak dapat berkurang dan proses pemeliharaan ternak berjalan lebih optimal.
“Untuk sementara (harga) kita masih dominan, tapi tidak tahu ketika Iduladha. Tapi penjualan sapi kita masih didominasi import seperti dari NTT, NTB, artinya dari Sulawesi,” tandasnya.
Editor: Erwin







Pusat gempa berada di darat 1 km Barat Daya Tomohon
02 Nov 2026, 15:13:10 WIB • Kedalaman 148 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG