Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur 2026 itu diikuti 15 peserta. Mereka beradu keterampilan mengolah hidangan tradisional dengan tetap mempertahankan cita rasa dan karakter kuliner warisan leluhur.
Kepala Dispar Kutim, Mahriadi mengatakan, lomba tersebut menjadi salah satu sarana memperkenalkan kuliner khas Kutai kepada masyarakat sekaligus menjaga agar warisan gastronomi daerah tetap lestari.
“Kami ingin kuliner khas Kutai semakin dikenal masyarakat luas," ujarnya.
Kuliner tradisional bukan hanya soal makanan, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya yang perlu dijaga. Menurutnya, kekayaan kuliner lokal memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata budaya.
"Pengenalan makanan tradisional melalui kegiatan festival diharapkan dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap budaya Kutai," ujarnya.
Dalam perlombaan tersebut, penilaian dilakukan oleh tiga juri, yakni Chef Joko Utoro dari Hotel Royal Victoria Sangatta, Mahriadi, serta Sekretaris Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kutim, Yuni. Aspek yang dinilai meliputi keautentikan rasa, kebersihan, estetika penyajian, serta nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam hidangan.
"Penilaian tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan makanan yang ditampilkan tetap mencerminkan karakter kuliner khas Kutai," tutupnya. (adv)
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur 2026 itu diikuti 15 peserta. Mereka beradu keterampilan mengolah hidangan tradisional dengan tetap mempertahankan cita rasa dan karakter kuliner warisan leluhur.
Kepala Dispar Kutim, Mahriadi mengatakan, lomba tersebut menjadi salah satu sarana memperkenalkan kuliner khas Kutai kepada masyarakat sekaligus menjaga agar warisan gastronomi daerah tetap lestari.
“Kami ingin kuliner khas Kutai semakin dikenal masyarakat luas," ujarnya.
Kuliner tradisional bukan hanya soal makanan, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya yang perlu dijaga. Menurutnya, kekayaan kuliner lokal memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata budaya.
"Pengenalan makanan tradisional melalui kegiatan festival diharapkan dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap budaya Kutai," ujarnya.
Dalam perlombaan tersebut, penilaian dilakukan oleh tiga juri, yakni Chef Joko Utoro dari Hotel Royal Victoria Sangatta, Mahriadi, serta Sekretaris Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kutim, Yuni. Aspek yang dinilai meliputi keautentikan rasa, kebersihan, estetika penyajian, serta nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam hidangan.
"Penilaian tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan makanan yang ditampilkan tetap mencerminkan karakter kuliner khas Kutai," tutupnya. (adv)