Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono mengatakan, evaluasi tersebut dilakukan menyusul kondisi kabut asap yang masih memengaruhi sejumlah wilayah di Kutim. Pemerintah daerah ingin memastikan kualitas udara cukup membaik sebelum siswa kembali menjalani aktivitas belajar di sekolah.
Pihaknya terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Hasil evaluasi akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan kelanjutan kebijakan pembelajaran.
“Mudah-mudahan kondisi semakin membaik sehingga kita bisa menyelenggarakan pembelajaran tatap muka,” ujar Mulyono.
Evaluasi dalam waktu dekat tidak serta-merta menjadi tanda PTM akan langsung diberlakukan kembali. Kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah tetap menjadi pertimbangan utama sebelum kebijakan pembelajaran diubah.
Meksi tren kualitas udara mulai membaik. Hujan yang turun diharapkan dapat membantu mengurangi polusi akibat kabut asap sehingga kondisi lingkungan menjadi lebih baik bagi aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan.
"Kondisi udara di setiap kecamatan dapat berbeda sehingga penerapan PTM harus mempertimbangkan situasi di wilayah masing-masing," jelasnya.
Pelaksanaan PJJ masih menjadi pilihan untuk menjaga kegiatan belajar tetap berjalan. Kebijakan ini sekaligus menjadi upaya mengutamakan kesehatan dan keselamatan siswa selama kondisi udara belum sepenuhnya kondusif.
"PJJ bukan sesuatu yang baru bagi dunia pendidikan. Tentu sudah paham apa yang harus dilaksanakan oleh guru, sekolah dan orang tua,” jelasnya.
Meski demikian, tetap membutuhkan dukungan semua pihak agar proses pembelajaran berjalan efektif. Guru harus memastikan materi tetap tersampaikan, sementara orang tua berperan mendampingi anak selama belajar di rumah.
"Kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan faktor kesehatan dan keselamatan peserta didik," pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono mengatakan, evaluasi tersebut dilakukan menyusul kondisi kabut asap yang masih memengaruhi sejumlah wilayah di Kutim. Pemerintah daerah ingin memastikan kualitas udara cukup membaik sebelum siswa kembali menjalani aktivitas belajar di sekolah.
Pihaknya terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Hasil evaluasi akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan kelanjutan kebijakan pembelajaran.
“Mudah-mudahan kondisi semakin membaik sehingga kita bisa menyelenggarakan pembelajaran tatap muka,” ujar Mulyono.
Evaluasi dalam waktu dekat tidak serta-merta menjadi tanda PTM akan langsung diberlakukan kembali. Kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah tetap menjadi pertimbangan utama sebelum kebijakan pembelajaran diubah.
Meksi tren kualitas udara mulai membaik. Hujan yang turun diharapkan dapat membantu mengurangi polusi akibat kabut asap sehingga kondisi lingkungan menjadi lebih baik bagi aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan.
"Kondisi udara di setiap kecamatan dapat berbeda sehingga penerapan PTM harus mempertimbangkan situasi di wilayah masing-masing," jelasnya.
Pelaksanaan PJJ masih menjadi pilihan untuk menjaga kegiatan belajar tetap berjalan. Kebijakan ini sekaligus menjadi upaya mengutamakan kesehatan dan keselamatan siswa selama kondisi udara belum sepenuhnya kondusif.
"PJJ bukan sesuatu yang baru bagi dunia pendidikan. Tentu sudah paham apa yang harus dilaksanakan oleh guru, sekolah dan orang tua,” jelasnya.
Meski demikian, tetap membutuhkan dukungan semua pihak agar proses pembelajaran berjalan efektif. Guru harus memastikan materi tetap tersampaikan, sementara orang tua berperan mendampingi anak selama belajar di rumah.
"Kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan faktor kesehatan dan keselamatan peserta didik," pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin