Jumat, 18/09/2026
Jumat, 18/09/2026
Kunjungan kerja tim Kemenkes dan perwakilan UNICEF di Kota Samarinda. (Dok.Dinkes Samarinda)
Jumat, 18/09/2026

Kunjungan kerja tim Kemenkes dan perwakilan UNICEF di Kota Samarinda. (Dok.Dinkes Samarinda)
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Penanganan balita dengan gangguan gizi di Kota Samarinda tidak hanya mengandalkan pemberian makanan tambahan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda menerapkan sejumlah inovasi, mulai dari suplementasi protein hingga kelas khusus bagi balita dengan gangguan gizi. Model penanganan tersebut menjadi perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) setelah melihat pelaksanaan program di Samarinda. Salah satu yang menjadi perhatian yakni penerapan tatalaksana gangguan gizi di Puskesmas Harapan Baru.
Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih mengatakan, Puskesmas Harapan Baru memiliki inovasi peduli stunting. Program ini menyasar ibu hamil untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi hingga gizi buruk. “Kenapa Puskesmas Harapan Baru, karena dia punya inovasi yang baik yaitu inovasi SIPeSSUT (Sistem Informasi Penyelenggaraan Statistik Sektoral Universal Terintegrasi). Jadi Sipesut itu peduli stunting,” kata Ismed, Jumat (18/9/2026).
Selain mitu, sejumlah inovasi penanganan gangguan gizi yang telah diterapkan di Samarinda juga mendapat perhatian Kemenkes dan UNICEF. Di antaranya suplementasi protein kapsul, pemberian Pangan Kebutuhan Gizi Khusus (PKGK), serta kelas ibu balita khusus balita dengan gangguan gizi di Puskesmas Harapan Baru. Penanganan tersebut juga mencakup pemberian pangan terapeutik siap santap atau Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF) bagi balita dengan gangguan gizi. Sementara pada ibu hamil diterapkan pemberian Multiple Micronutrient Supplementation (MMS) atau suplementasi mikronutrien ganda.
Samarinda menjadi salah satu dari dua lokus di Kalimantan Timur (Kaltim) yang dipantau Kemenkes dan UNICEF. Pemilihan lokus tersebut berdasarkan pemantauan selama setahun terakhir terhadap pelaksanaan pemberian makanan tambahan dan mikronutrien. “Mereka memandang dua lokus ini yang sepanjang pemantauan mereka dalam setahun terakhir ini tepat melakukan pemberian makanan tambahan, termasuk mikronutrien,” ujarnya.
Disebutnya mikronutrien juga menjadi bagian dari program yang disalurkan melalui Kemenkes untuk didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia. Pelaksanaan program di Kota Tepian kemudian menjadi salah satu pola yang dilihat untuk pengembangan penanganan gangguan gizi. Penanganan gangguan gizi ini sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap persoalan stunting dan pemenuhan gizi, yang juga masuk dalam agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
“Mereka akan melakukan kunjungan yang kedua dan seterusnya. Karena mungkin bisa menjadi contoh dalam bagaimana cara pemberian makanan tambahan, mikronutrien,” tandasnya. (adv)
Editor: Erwin
Jumat, 18/09/2026
Kunjungan kerja tim Kemenkes dan perwakilan UNICEF di Kota Samarinda. (Dok.Dinkes Samarinda)
TERPOPULER