“Misalnya sekolah memiliki 7 kelas, artinya bisa menerima 252 siswa,” kata Andi, Kamis (9/6).
Hal itu, lanjut dia, akan berimbas terhadap penerimaan sekolah swasta. Ditambah lagi, kondisi pandemi yang melanda hampir tiga tahun terakhir. Menurutnya, target jumlah siswa baru selalu tidak tercapai, penyebabnya bukan cuma karena pandemi, tetapi penyebab utamanya yaitu kebijakan pemaksimalan kelas tersebut.
“Jadi siswa-siswi punya banyak peluang untuk mendaftarkan diri ke SMA/SMK negeri sebelum memilih pilihan akhir mereka yaitu SMA/SMK swasta yang ada di Kota Bontang,” keluhnya.
Jika sudah begitu, pihaknya harus memutar otak. Misalnya dengan memberikan beasiswa untuk menarik minat pelajar. Misalnya di SMA Bahrul Ulum (BU) pihak sekolah memberlakukan beasiswa, bebas biaya selama tiga tahun. Syaratnya siswa harus bisa menghafal Alquran minimal tiga juz.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kaltim, Anwar Sanusi mengatakan sekolah swasta harus bisa menjamin kualitas agar menarik minat pelajar. Ia meyakini jika kualitas bagus pasti siswa datang dengan sendirinya. Anwar menegaskan pembinaan sekolah negeri dan swasta tidak ada perbedaan.
“Sekolah swasta ibarat pasar, kalau bagus ya orang mau datang, kalau tidak ya mana orang mau. Buktinya ada sekolah swasta di Bontang yang jadi rebutan, “ paparnya.
Ditanya tentang kuota maksimal di sekolah negeri, Anwar tidak berlebihan, karena memang jatahnya 36 siswa per kelas. “Memang pengaturannya segitu,” tambahnya.
Penulis: */Romi
Editor: Supiansyah