Alhasil, rumah seorang warga bernama Liman pun terancam sama nasibnya dengan turap tersebut, ambruk.
Struktur pondasi rumah Liman terganggu, penopang utama rumah di RT 13 Jalan Tomat 2 Bontang itu patah sekitar 30 sentimeter akibat tanah di sekitarnya ambles.
“Sudah patah juga ini pondasi, jadi di bawah sudah banyak lubang besar,” kata Liman Rabu (18/8/2021) kemarin.
Padahal, di rumah itu Liman membuka usaha pabrik tahu dan memiliki enam karyawan. Wajar kalau sekarang anak buahnya selalu waswas saat beraktivitas.
“Karyawan takut kalau angkat tahu, khawatir tiba-tiba tanahnya ambruk,” papar Liman.
Ancaman lainnya juga dari satwa liar yakni buaya yang acap kali berjemur di belakang rumahnya. “Jika binatang itu masuk ke rumah, yang terancam kan seluruh karyawan,” sebutnya.
Terpisah, Ketua RT 13 Gunung Elai Agung Harianto mengatakan, ambruknya turap sudah terjadi pada 8 Juli lalu akibat hujan deras dan belum ada tindakan dari pemerintah. Namun ia mengaku sudah memberitahukan kepada pihak Kelurahan Gunung Elai.
“Sempat beberapa kali orang dari kelurahan datang tinjau lokasi, tapi belum ada tindakan sampai sekarang ini,” sebut Agung.
Ada tiga rumah warga yang berdiri di bantaran sungai terancam amblas akibat turap ambruk itu. Dikhawatirkan kondisi ini akan lebih parah jika dibiarkan berlarut-larut.
“Kalau dibiarkan akan terkikis terus tanah yang ada di bawah pondasi rumah warga, jangan sampai nunggu rumah ambruk baru ada tindakan,” ujar Agung.
Penulis: */Muhammad Ridwan
Editor: Aspian Nur