Di Ponoragan banyak warga yang mempunyai sawah dan ladang yang mereka garap sendiri. Buah itu juga berasal dari pekarangan rumah.
“Panoragan ini juga dikenal dengan penghasil bibit ikan, per tahun jumlah bibit ikan untuk dijual mencapai 3,5 juta ekor per tahun,” ucapnya
Diperkirakan perputaran uang dari bibit ikan ini mencapai Rp750 juta per tahun. “Pembeli bibit ikan dari Ponoragan ini, datang dari berbagai daerah seperti Kutim, Kubar, Balikpapan, Samarinda dan Bontang,” ucapnya.
Setelah melakukan doa bersama, gunungan pun diserbu ratusan warga. Warga berebutan mengambil buah dan sayur yang ada di gunungan. Pria wanita, tua muda, dewasa dan anak kecil menjulurkan tangannya berusaha mengambil apa yang bisa diambil.
Sekkab Marli mengaku, sangat bangga acara desa ini, sebagai salah satu wadah bersilaturahmi antar suku, kendati bersih desa ini adat suku Jawa, namun juga mengundang Kesultanan Kartanegara Ing Martadipura. “Jika Suku Kutai dengan acara yang sama bernama Bepelas dan Tempong Tawar, sebelumnya kami mengira undangan bersih desa ini membawa sapu, sekop dan cangkul,”ucap Marli.
Ia mengatakan, tradisi bersih desa ini mengajarkan kepada generasi muda tentang pentingnya menghormati alam yang diwujudkan dalam gunungan yang berisi hasil bumi. Generasi sekarang yang jauh dari profesi petani banyak yang tidak tahu bahwa mereka sebenarnya hidup dan dibesarkan alam. “Tradisi turun temurun dalam kebudayaan masyarakat Jawa ini telah dilakukan berabad-abad lamanya. Ritual bersih desa ini wujud bersatunya manusia dengan alam, serta wujud syukur baik hasil panen, kesehatan dan kesejahteraan yang peroleh selama setahun,” tuturnya. (Adv/ran)
Di Ponoragan banyak warga yang mempunyai sawah dan ladang yang mereka garap sendiri. Buah itu juga berasal dari pekarangan rumah.
“Panoragan ini juga dikenal dengan penghasil bibit ikan, per tahun jumlah bibit ikan untuk dijual mencapai 3,5 juta ekor per tahun,” ucapnya
Diperkirakan perputaran uang dari bibit ikan ini mencapai Rp750 juta per tahun. “Pembeli bibit ikan dari Ponoragan ini, datang dari berbagai daerah seperti Kutim, Kubar, Balikpapan, Samarinda dan Bontang,” ucapnya.
Setelah melakukan doa bersama, gunungan pun diserbu ratusan warga. Warga berebutan mengambil buah dan sayur yang ada di gunungan. Pria wanita, tua muda, dewasa dan anak kecil menjulurkan tangannya berusaha mengambil apa yang bisa diambil.
Sekkab Marli mengaku, sangat bangga acara desa ini, sebagai salah satu wadah bersilaturahmi antar suku, kendati bersih desa ini adat suku Jawa, namun juga mengundang Kesultanan Kartanegara Ing Martadipura. “Jika Suku Kutai dengan acara yang sama bernama Bepelas dan Tempong Tawar, sebelumnya kami mengira undangan bersih desa ini membawa sapu, sekop dan cangkul,”ucap Marli.
Ia mengatakan, tradisi bersih desa ini mengajarkan kepada generasi muda tentang pentingnya menghormati alam yang diwujudkan dalam gunungan yang berisi hasil bumi. Generasi sekarang yang jauh dari profesi petani banyak yang tidak tahu bahwa mereka sebenarnya hidup dan dibesarkan alam. “Tradisi turun temurun dalam kebudayaan masyarakat Jawa ini telah dilakukan berabad-abad lamanya. Ritual bersih desa ini wujud bersatunya manusia dengan alam, serta wujud syukur baik hasil panen, kesehatan dan kesejahteraan yang peroleh selama setahun,” tuturnya. (Adv/ran)