PT PLN menargetkan perbaikan tersebut dapat memasuki tahap uji coba penyaluran listrik pada 1 November 2026.
Kerusakan yang terjadi pada Minggu (25/10/2026) itu berdampak pada tiga menara transmisi, yakni tower 115, 116, dan 117. Satu menara dilaporkan roboh, sedangkan dua lainnya turut terdampak. Gangguan tersebut memengaruhi penyaluran daya dari sistem interkoneksi Mahakam ke Berau.
Manajer PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Berau, Erwinton Naibaho, mengatakan pihaknya telah memulai tahapan persiapan pembangunan menara darurat untuk mempercepat pemulihan jaringan.
“Tim pembersihan jalur sudah berada di lokasi dan melaksanakan pembersihan serta penyiapan lahan untuk pendirian tower emergency,” ujarnya.
Sebanyak dua unit menara darurat akan dibangun. Material yang dibutuhkan dikirim dari Samarinda dan Balikpapan, dengan estimasi tiba di lokasi pada Selasa malam (27/10/2026).
“Material masih dalam perjalanan, tapi beberapa material lainnya sudah datang,” ungkapnya.
PLN juga mengerahkan sekitar 92 personel untuk mendukung pekerjaan di lapangan. Tahapan pembangunan hingga pengujian akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi dan kelancaran pekerjaan.
“Estimasi kami, jika tidak ada halangan, pada 1 November dilakukan uji coba energize,” katanya.
Di tengah upaya pemulihan jaringan transmisi, sistem kelistrikan Berau masih menghadapi keterbatasan pasokan daya. Erwinton menyebut beban puncak listrik di wilayah tersebut berkisar 46 hingga 50 megawatt (MW), sedangkan kapasitas pembangkit yang beroperasi sekitar 37,5 MW.
Pembangkit tersebut meliputi PLTD Sambaliung, PLTU Teluk, PLTU Lati, serta PLTD Sewatama. Dengan kondisi itu, terdapat selisih antara kebutuhan listrik dan daya yang tersedia, terutama saat konsumsi masyarakat meningkat pada malam hari.
“Pada beban puncak, biasanya pukul 18.00 hingga 22.00 Wita, kekurangan daya menjadi yang terbesar,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pemulihan jalur transmisi menjadi salah satu tahapan penting dalam upaya memperbaiki keandalan pasokan listrik Berau. Namun, pembangunan menara darurat bukan sekadar mendirikan struktur pengganti, melainkan juga harus dilanjutkan dengan pengujian sebelum jaringan kembali dialiri listrik.
PLN berharap seluruh tahapan pekerjaan berjalan sesuai rencana sehingga penyaluran daya dari sistem interkoneksi Mahakam dapat segera dipulihkan. Erwinton juga meminta dukungan masyarakat agar pekerjaan yang dilakukan tim di lapangan berlangsung lancar.
“Kami memohon doa dan dukungan agar seluruh tahapan perbaikan berjalan tanpa kendala hingga proses energize,” pungkasnya.
Editor: Erwin
PT PLN menargetkan perbaikan tersebut dapat memasuki tahap uji coba penyaluran listrik pada 1 November 2026.
Kerusakan yang terjadi pada Minggu (25/10/2026) itu berdampak pada tiga menara transmisi, yakni tower 115, 116, dan 117. Satu menara dilaporkan roboh, sedangkan dua lainnya turut terdampak. Gangguan tersebut memengaruhi penyaluran daya dari sistem interkoneksi Mahakam ke Berau.
Manajer PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Berau, Erwinton Naibaho, mengatakan pihaknya telah memulai tahapan persiapan pembangunan menara darurat untuk mempercepat pemulihan jaringan.
“Tim pembersihan jalur sudah berada di lokasi dan melaksanakan pembersihan serta penyiapan lahan untuk pendirian tower emergency,” ujarnya.
Sebanyak dua unit menara darurat akan dibangun. Material yang dibutuhkan dikirim dari Samarinda dan Balikpapan, dengan estimasi tiba di lokasi pada Selasa malam (27/10/2026).
“Material masih dalam perjalanan, tapi beberapa material lainnya sudah datang,” ungkapnya.
PLN juga mengerahkan sekitar 92 personel untuk mendukung pekerjaan di lapangan. Tahapan pembangunan hingga pengujian akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi dan kelancaran pekerjaan.
“Estimasi kami, jika tidak ada halangan, pada 1 November dilakukan uji coba energize,” katanya.
Di tengah upaya pemulihan jaringan transmisi, sistem kelistrikan Berau masih menghadapi keterbatasan pasokan daya. Erwinton menyebut beban puncak listrik di wilayah tersebut berkisar 46 hingga 50 megawatt (MW), sedangkan kapasitas pembangkit yang beroperasi sekitar 37,5 MW.
Pembangkit tersebut meliputi PLTD Sambaliung, PLTU Teluk, PLTU Lati, serta PLTD Sewatama. Dengan kondisi itu, terdapat selisih antara kebutuhan listrik dan daya yang tersedia, terutama saat konsumsi masyarakat meningkat pada malam hari.
“Pada beban puncak, biasanya pukul 18.00 hingga 22.00 Wita, kekurangan daya menjadi yang terbesar,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pemulihan jalur transmisi menjadi salah satu tahapan penting dalam upaya memperbaiki keandalan pasokan listrik Berau. Namun, pembangunan menara darurat bukan sekadar mendirikan struktur pengganti, melainkan juga harus dilanjutkan dengan pengujian sebelum jaringan kembali dialiri listrik.
PLN berharap seluruh tahapan pekerjaan berjalan sesuai rencana sehingga penyaluran daya dari sistem interkoneksi Mahakam dapat segera dipulihkan. Erwinton juga meminta dukungan masyarakat agar pekerjaan yang dilakukan tim di lapangan berlangsung lancar.
“Kami memohon doa dan dukungan agar seluruh tahapan perbaikan berjalan tanpa kendala hingga proses energize,” pungkasnya.
Editor: Erwin