Pernyataan tersebut disampaikan Erwinton saat menemui massa aksi demonstrasi di Kantor PLN Tanjung Redeb, Senin (26/10/2026) malam tadi. Pertemuan itu berlangsung di tengah kekecewaan masyarakat yang terdampak pemadaman listrik berulang dengan durasi berjam-jam.
Erwinton menjelaskan, kondisi kelistrikan Berau saat ini masih bergantung pada sejumlah pembangkit lokal dan pasokan listrik dari sistem interkoneksi Mahakam. Namun, gangguan pada infrastruktur transmisi membuat upaya menjaga kestabilan pasokan menjadi semakin sulit.
“Ini risiko yang harus kami terima,” ujarnya di hadapan massa aksi.
Diungkapkannya, PLTD Sambaliung sebesar 9 MW, PLTU Berau 10 MW, Excess PLTU Lati 9,5 MW, PLTD Sewatama 7 MW. Meski seluruh pembangkit tersebut masih dapat dioperasikan, kapasitasnya belum mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat secara keseluruhan. Itu artinya kebutuhan daya saat beban puncak mencapai sekitar 50 megawatt (MW), sedangkan kemampuan sistem yang tersedia hanya sekitar 37 MW, artinya terdapat kekurangan pasokan sekitar 13 MW yang harus diatasi agar kebutuhan listrik masyarakat dapat terpenuhi.
“Beban puncak kita 50 MW, sementara sistem kita hanya mampu 37 MW,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat Berau membutuhkan pasokan tambahan melalui interkoneksi dari sistem Mahakam. Namun, kerusakan struktur menara transmisi 150 kilovolt (kV) pada jalur yang menghubungkan Gardu Induk (GI) Maloy dan GI Talisayan mengganggu penyaluran listrik ke wilayah Berau.
Gangguan itu membuat sistem kelistrikan semakin terbatas. Proses pemulihan juga tidak selalu berjalan mulus karena sistem harus disatukan kembali secara bertahap. Ketika terjadi gangguan pada salah satu pembangkit atau mesin saat proses pemulihan, pasokan listrik dapat kembali terputus.
“Kalau ada gangguan satu saja di pembangkit, semuanya bisa padam. Saat mau normal, ada gangguan lagi, kami harus mengulang prosesnya,” ungkap Erwinton.
Untuk mengatasi kekurangan daya tersebut, Erwinton menyebut telah berkoordinasi dengan tim di Tanjung Selor guna meminta bantuan pasokan listrik. Tambahan daya yang diupayakan berkisar 5–10 MW. Apabila bantuan maksimal sebesar 10 MW dapat disalurkan, kekurangan daya Berau diperkirakan menyusut dari 13 MW menjadi sekitar 3 MW.
Karena itu PLN berharap beban pemadaman dapat dikurangi. Meski begitu, apabila kekurangan pasokan masih terjadi, pemadaman bergilir tetap menjadi salah satu opsi untuk menjaga keseimbangan sistem kelistrikan.
“Kalau bisa mendapat tambahan 10 MW, kekurangannya tinggal 3 MW. Untuk itu, kami terpaksa melakukan pemadaman bergilir,” ucap Erwinton.
Editor: Aspian Nur
Pernyataan tersebut disampaikan Erwinton saat menemui massa aksi demonstrasi di Kantor PLN Tanjung Redeb, Senin (26/10/2026) malam tadi. Pertemuan itu berlangsung di tengah kekecewaan masyarakat yang terdampak pemadaman listrik berulang dengan durasi berjam-jam.
Erwinton menjelaskan, kondisi kelistrikan Berau saat ini masih bergantung pada sejumlah pembangkit lokal dan pasokan listrik dari sistem interkoneksi Mahakam. Namun, gangguan pada infrastruktur transmisi membuat upaya menjaga kestabilan pasokan menjadi semakin sulit.
“Ini risiko yang harus kami terima,” ujarnya di hadapan massa aksi.
Diungkapkannya, PLTD Sambaliung sebesar 9 MW, PLTU Berau 10 MW, Excess PLTU Lati 9,5 MW, PLTD Sewatama 7 MW. Meski seluruh pembangkit tersebut masih dapat dioperasikan, kapasitasnya belum mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat secara keseluruhan. Itu artinya kebutuhan daya saat beban puncak mencapai sekitar 50 megawatt (MW), sedangkan kemampuan sistem yang tersedia hanya sekitar 37 MW, artinya terdapat kekurangan pasokan sekitar 13 MW yang harus diatasi agar kebutuhan listrik masyarakat dapat terpenuhi.
“Beban puncak kita 50 MW, sementara sistem kita hanya mampu 37 MW,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat Berau membutuhkan pasokan tambahan melalui interkoneksi dari sistem Mahakam. Namun, kerusakan struktur menara transmisi 150 kilovolt (kV) pada jalur yang menghubungkan Gardu Induk (GI) Maloy dan GI Talisayan mengganggu penyaluran listrik ke wilayah Berau.
Gangguan itu membuat sistem kelistrikan semakin terbatas. Proses pemulihan juga tidak selalu berjalan mulus karena sistem harus disatukan kembali secara bertahap. Ketika terjadi gangguan pada salah satu pembangkit atau mesin saat proses pemulihan, pasokan listrik dapat kembali terputus.
“Kalau ada gangguan satu saja di pembangkit, semuanya bisa padam. Saat mau normal, ada gangguan lagi, kami harus mengulang prosesnya,” ungkap Erwinton.
Untuk mengatasi kekurangan daya tersebut, Erwinton menyebut telah berkoordinasi dengan tim di Tanjung Selor guna meminta bantuan pasokan listrik. Tambahan daya yang diupayakan berkisar 5–10 MW. Apabila bantuan maksimal sebesar 10 MW dapat disalurkan, kekurangan daya Berau diperkirakan menyusut dari 13 MW menjadi sekitar 3 MW.
Karena itu PLN berharap beban pemadaman dapat dikurangi. Meski begitu, apabila kekurangan pasokan masih terjadi, pemadaman bergilir tetap menjadi salah satu opsi untuk menjaga keseimbangan sistem kelistrikan.
“Kalau bisa mendapat tambahan 10 MW, kekurangannya tinggal 3 MW. Untuk itu, kami terpaksa melakukan pemadaman bergilir,” ucap Erwinton.
Editor: Aspian Nur