Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB – Inovasi pengolahan kain batik berbahan katun dengan memanfaatkan pupuk urea menjadi pembeda kerajinan Batik ZKS asal Kampung Panaan, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau.
2 menit baca2 kali dibaca

Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB – Inovasi pengolahan kain batik berbahan katun dengan memanfaatkan pupuk urea menjadi pembeda kerajinan Batik ZKS asal Kampung Panaan, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau.
Teknik yang dikembangkan Erni Ocnawati itu tidak hanya memperkaya kreativitas membatik, tetapi juga membuka peluang pengembangan keterampilan masyarakat di sejumlah kampung.
Produk Batik ZKS menjadi salah satu kerajinan yang diperkenalkan dalam Berau Expo 2026. Kehadirannya menarik perhatian karena memadukan seni membatik dengan teknik pengolahan yang berbeda dari proses konvensional.
Pengembangan Batik ZKS kini memasuki tahun ketiga. Sementara itu, pembinaan pembuatan batik dengan teknik pemanfaatan pupuk urea telah berlangsung selama dua tahun. Erni terus mengembangkan metode tersebut sekaligus membagikan keterampilannya kepada masyarakat agar dapat menghasilkan produk batik secara mandiri.
“Teknik ini terus kami kembangkan agar semakin banyak masyarakat yang bisa belajar dan menghasilkan produk batik sendiri,” ujar Erni.
Tak hanya berfokus pada produksi, Erni juga memperluas jangkauan pembinaan ke sejumlah wilayah di Berau. Kampung Merapun, Muara Lesan, Sido Bangen, hingga Talisayan menjadi lokasi pengembangan keterampilan membatik yang telah dijalankannya.
Langkah tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mempelajari teknik pengolahan kain sekaligus mengembangkan produk kerajinan dengan karakter dan ciri khas masing-masing kampung.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam proses pembuatan Batik ZKS ialah limbah yang dihasilkan. Ia menyebut limbah tersebut tidak membuat tanaman mati apabila terkena tanaman. Meski demikian, pengelolaan limbah tetap perlu diperhatikan untuk memastikan proses produksi aman bagi lingkungan.
Pengembangan kerajinan ini juga menunjukkan bahwa potensi ekonomi kampung tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi dapat tumbuh melalui kreativitas dan peningkatan keterampilan masyarakat.
Berau Expo 2026 pun menjadi ruang promosi bagi Batik ZKS untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Melalui pameran tersebut, masyarakat dapat mengenal produk kerajinan dari Kampung Panaan yang memiliki teknik pengolahan berbeda.
Camat Kelay, Saleh, mendukung pengembangan Batik ZKS sebagai salah satu potensi usaha lokal yang perlu terus diperkuat. Menurutnya, kerajinan tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kreativitas masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan usaha berbasis kampung.
“Ini menjadi potensi yang perlu terus dikembangkan agar produk lokal Kelay semakin dikenal,” kata Saleh.
Dukungan promosi dan pembinaan berkelanjutan diharapkan dapat mendorong Batik ZKS berkembang menjadi produk kerajinan unggulan Berau. Selain memperluas pasar, pengembangan ini berpotensi membuka peluang usaha baru dan meningkatkan keterampilan masyarakat di berbagai kampung.
Ke depan, keberlanjutan usaha Batik ZKS akan bergantung pada konsistensi pendampingan, kualitas produk, serta kemampuan perajin mengembangkan motif dan menjangkau pasar.
Dengan demikian, inovasi yang berawal dari Kampung Panaan tidak hanya menjadi daya tarik pameran, tetapi juga dapat berkembang sebagai sumber ekonomi masyarakat.
“Harapan kami, potensi kampung tidak hanya dikenal saat pameran, tetapi juga semakin berkembang dan mampu membuka peluang usaha bagi warga kampung,” tutupnya.
Editor: Erwin
Teknik yang dikembangkan Erni Ocnawati itu tidak hanya memperkaya kreativitas membatik, tetapi juga membuka peluang pengembangan keterampilan masyarakat di sejumlah kampung.
Produk Batik ZKS menjadi salah satu kerajinan yang diperkenalkan dalam Berau Expo 2026. Kehadirannya menarik perhatian karena memadukan seni membatik dengan teknik pengolahan yang berbeda dari proses konvensional.
Pengembangan Batik ZKS kini memasuki tahun ketiga. Sementara itu, pembinaan pembuatan batik dengan teknik pemanfaatan pupuk urea telah berlangsung selama dua tahun. Erni terus mengembangkan metode tersebut sekaligus membagikan keterampilannya kepada masyarakat agar dapat menghasilkan produk batik secara mandiri.
“Teknik ini terus kami kembangkan agar semakin banyak masyarakat yang bisa belajar dan menghasilkan produk batik sendiri,” ujar Erni.

Tak hanya berfokus pada produksi, Erni juga memperluas jangkauan pembinaan ke sejumlah wilayah di Berau. Kampung Merapun, Muara Lesan, Sido Bangen, hingga Talisayan menjadi lokasi pengembangan keterampilan membatik yang telah dijalankannya.
Langkah tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mempelajari teknik pengolahan kain sekaligus mengembangkan produk kerajinan dengan karakter dan ciri khas masing-masing kampung.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam proses pembuatan Batik ZKS ialah limbah yang dihasilkan. Ia menyebut limbah tersebut tidak membuat tanaman mati apabila terkena tanaman. Meski demikian, pengelolaan limbah tetap perlu diperhatikan untuk memastikan proses produksi aman bagi lingkungan.
Pengembangan kerajinan ini juga menunjukkan bahwa potensi ekonomi kampung tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi dapat tumbuh melalui kreativitas dan peningkatan keterampilan masyarakat.

Berau Expo 2026 pun menjadi ruang promosi bagi Batik ZKS untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Melalui pameran tersebut, masyarakat dapat mengenal produk kerajinan dari Kampung Panaan yang memiliki teknik pengolahan berbeda.
Camat Kelay, Saleh, mendukung pengembangan Batik ZKS sebagai salah satu potensi usaha lokal yang perlu terus diperkuat. Menurutnya, kerajinan tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kreativitas masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan usaha berbasis kampung.
“Ini menjadi potensi yang perlu terus dikembangkan agar produk lokal Kelay semakin dikenal,” kata Saleh.
Dukungan promosi dan pembinaan berkelanjutan diharapkan dapat mendorong Batik ZKS berkembang menjadi produk kerajinan unggulan Berau. Selain memperluas pasar, pengembangan ini berpotensi membuka peluang usaha baru dan meningkatkan keterampilan masyarakat di berbagai kampung.







Ke depan, keberlanjutan usaha Batik ZKS akan bergantung pada konsistensi pendampingan, kualitas produk, serta kemampuan perajin mengembangkan motif dan menjangkau pasar.
Dengan demikian, inovasi yang berawal dari Kampung Panaan tidak hanya menjadi daya tarik pameran, tetapi juga dapat berkembang sebagai sumber ekonomi masyarakat.
“Harapan kami, potensi kampung tidak hanya dikenal saat pameran, tetapi juga semakin berkembang dan mampu membuka peluang usaha bagi warga kampung,” tutupnya.
Editor: Erwin



62 km TimurLaut MALUKUBRTDAYA
21 Okt 2026, 14:44:15 WIB • Kedalaman 96 km
Tidak berpotensi tsunami
Sumber: BMKG