Penulis : Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN — Aroma segar tanah basah bercampur wangi dedaunan menyambut siapa saja yang melangkahkan kaki ke satu sudut perbukitan di Kelurahan Baru Ilir, Balikpapan Barat, Kota Balikpapan.
Penulis : Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN — Aroma segar tanah basah bercampur wangi dedaunan menyambut siapa saja yang melangkahkan kaki ke satu sudut perbukitan di Kelurahan Baru Ilir, Balikpapan Barat, Kota Balikpapan.
Dibalik padatnya pemukiman yang berdiri di lereng-lereng curam, sebuah harmoni hijau sedang bertumbuh subur. Warga mengenal kawasan ini sebagai Kampung Baru Ilir Mandiri, Indah dan Sejahtera (Kaliandra), sebuah inisiatif swadaya warga yang didorong oleh kebutuhan mendesak untuk menata lingkungan sekaligus mendapat dukungan pendampingan dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU V dan Pertamina Patra Niaga.
Program ini sudah mengubah lorong jalan semen yang semula gersang menjadi area yang asri dan tertata. Hamparan tanah gersang disulap menjadi instalasi hidroponik vertikal yang rapi. Sayur sawi, selada, tomat, dan bayam tumbuh gemuk memamerkan warna hijau menggugah selera.
Namun pemandangan asri tak terjadi begitu saja. Kawasan yang kerap disebut Asrama Bukit (Askit) ini dulunya seringkali membuat warga merasa gelisah. Sebab wilayah itu sebelumnya diidentikkan dengan lahan rawan longsor hingga tumpukan sampah.
Hijau dan asrinya perbukitan di RT 12 ini tak lepas dari kepedulian warga setempat yang tulus merawat lingkungan mereka. Di antara barisan tanaman itu, ada sosok Israni. Pada usianya yang menginjak 63 tahun, ia bukan sekadar anggota kelompok hidroponik biasa, melainkan motor penggerak bagi warga sekitar.
Pria yang dulunya bekerja di bidang elektrikal dan mekanikal ini berkisah seluruh perjalanan urban farming-nya ini sebenarnya berawal dari hal sederhana, yakni hobi mengulik tanaman di pekarangan rumah sendiri. "Karena hobi, memang saya dari rumah itu suka menanam, saya taruh di polybag, akhirnya di sini ada tanah kosong, saya cobalah di sini tanam-tanam itu, diajakin sama Bu RT," ujar Israni pada Rabu, (4/11/2026).
Semangat warga untuk bercocok tanam kini membuahkan hasil. Perkembangan pesat ini bermula sejak mereka mendapatkan pembekalan keterampilan dari Balai Latihan Kerja (BLK).
Mereka bergotong royong mendirikan instalasi hidroponik baru, membangun bank sampah, posyandu Mawar Harum, Apotek Hidup, hingga melengkapi berbagai fasilitas penunjang lainnya. “Kami mendapat bantuan berupa uang, lalu kami gunakan untuk membangun semua fasilitas yang ada,” jelasnya.
Sebagai satu-satunya pria diantara 16 kader PKK yang mengurus kebun, keahlian teknik masa lalu Israni sangat diandalkan. Merawat hidroponik di daerah perbukitan Balikpapan bukan tanpa tantangan. Israni harus rajin memeriksa kadar Total Padatan Terlarut (TDS) air dua hari sekali, menjaga PPM nutrisi di angka 900 hingga 1.200, dan memutar otak saat musim kemarau tiba.
Ketika pasokan air Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTDM) tersendat, warga harus patungan membeli air seharga Rp100 ribu per tangki agar tanaman tidak mati kekeringan.
Tantangan lain datang dari hama kutu hijau atau walang sangit. "Saya tidak mau semprot pestisida karena untuk makan sendiri, kasihan. Biar aja kalau dia kena penyakit, kita buang aja," ucap Asrani lagi.
Berdiri di ujung lapangan dekat posyandu, Israni tersenyum melihat tomat dan lombok eksperimennya mulai berbuah. Dari sebuah pekarangan rumah dan ketulusan hati seorang pensiunan swasta, sebuah bukit yang dulunya dihindari kini telah menjadi paru-paru hijau yang mandiri dan menyejahterakan.
Di tangan Israni, kreativitas memang tidak ada matinya. Mantan pekerja teknik ini juga pandai memutar otak untuk menyulap sisa makanan dan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik cair (POC) yang padat nutrisi.
Pria dengan senyuman hangat itu meracik formula khusus dengan memanfaatkan sampah organik yang mudah ditemukan di sekitar. Satu kilogram ikan busuk, segenggam beras, larutan gula merah, serta cairan mikroorganisme EM4 yang bertugas sebagai pengurai alami untuk mempercepat pembusukan pun dicampurkannya.
Ramuan hasil fermentasi juga tidak bisa langsung disiramkan begitu saja. Israni mengencerkannya dengan takaran yang pas, yaitu satu gelas air mineral untuk setiap 20 liter air agar media tanam tidak menjadi panas dan merusak akar. Bukan cuma pupuk cair, kotoran ayam harus difermentasi bersama gula merah dan EM4 untuk diolah menjadi pupuk kompos.
Setelah didiamkan selama 10 hingga 15 hari, pupuk alami yang ramah lingkungan ini pun siap ditaburkan untuk menyuburkan tanah di permukiman Askit.
Peran Israni sebagai peracik formula dan perawat instalasi ibarat mesin utama dalam ekosistem hijau ini. Tetapi, mesin terbaik pun tidak akan bisa berjalan jauh tanpa roda penggerak yang mengantarkannya ke tujuan. Di sinilah peran penting para ibu tangguh di Askit, salah satunya adalah Damyati.
Di usianya yang menginjak 47 tahun, Damyati bersama belasan kader PKK lainnya menjadi jembatan yang menghubungkan kebun vertikal ini dengan dapur-dapur warga. Berbeda dengan pasar modern di mana sayur-mayur sudah terbungkus rapi di dalam lemari pendingin, di lereng Askit ini, berbelanja sayur berubah menjadi sebuah pengalaman sosial yang hangat."Orang-orang di sini senang sekali kalau beli, karena mereka bisa petik sendiri, bisa langsung pilih sayur mana yang paling disukai dari batangnya," ujar Damyati dengan mata berbinar.
Harga yang murah dan jaminan kesegaran tanpa pestisida membuat lapak hidroponik ini selalu riuh. Begitu sayur memasuki usia matang, mereka harus bergerak cepat Pembagian tugas di dalam kelompok tani Asrama Bukit ini pun berjalan sangat alami dan didasari rasa saling percaya.
Sementara Israni fokus memikirkan urusan teknis seperti mengukur TDS air, mengawetkan sisa makanan menjadi pupuk organik cair, hingga mencatat arus keuangan kelompok, Damyati dan ibu-ibu lainnya menjadi garda depan dalam pemasaran.
Dibalik rimbunnya daun selada, ada kecemasan tersendiri yang mereka rasakan saat pemadaman listrik melanda perbukitan Balikpapan. Sistem hidroponik sangat bergantung pada pompa elektrik yang mengalirkan nutrisi secara terus-menerus. Saat arus listrik PLN terputus, aliran air otomatis berhenti. Dibawah terik matahari perbukitan yang menyengat, air di dalam pipa bisa memanas dengan cepat dan mengancam kelangsungan hidup tanaman.
Lebih dari sekadar hitung-hitungan rupiah yang saat ini baru cukup untuk membeli gorengan pengganjal lapar saat bergotong royong, kebun ini telah melahirkan sesuatu yang jauh lebih bernilai, sebuah ruang komunal di mana warga lereng bisa saling menyapa, berbagi senyum, dan memetik sendiri harapan hijau dari tanah mereka sendiri.
Pada balik barisan pipa paralon yang hijau dan deretan timbangan bank sampah, ada mata yang terus mengamati dengan penuh rasa bangga.
Ia adalah Muntiyati, seorang perempuan muda yang bertugas sebagai Pendamping Program di Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan.
Wanita dengan pembawaan ceria itu mengisahkan, langkah ini sengaja dipilih sebagai lokasi replikasi dari kesuksesan Program Kaliandra 1 yang sebelumnya telah berjalan di belakang apartemen Pertamina.
Pilihan lahir dari sebuah proses penilaian mendalam (assessment) sekitar delapan bulan yang lalu, ketika tim CSR Pertamina turun langsung memetakan wilayah Kelurahan Baru Ilir. "Saat pertama kali ke sini, kami melihat ada dua hal yang kontras, sebuah ancaman bencana, namun di sisi lain ada potensi manusia yang luar biasa," kenang Muntiyati.
Sebagai wilayah perbukitan curam di Balikpapan, Askit memiliki bayang-bayang risiko tanah longsor yang tinggi. Lahan lerengnya sempat terbengkalai dan menjadi tempat pembuangan sampah liar.
Di situlah justru ditemukan bara semangat yang menyala dari warga lansia seperti Pak Israni dan ibu-ibu kader PKK yang memiliki kecintaan mendalam pada dunia bercocok tanam. "Mereka seperti diberi pancingan sekali, tapi umpan itu langsung dijaga dan dilanjutkan dengan sangat konsisten. Itulah yang mengetuk hati kami di Pertamina untuk hadir mendukung semangat mereka secara jangka panjang," tandasnya.
Editor: Aspian Nur
Dibalik padatnya pemukiman yang berdiri di lereng-lereng curam, sebuah harmoni hijau sedang bertumbuh subur. Warga mengenal kawasan ini sebagai Kampung Baru Ilir Mandiri, Indah dan Sejahtera (Kaliandra), sebuah inisiatif swadaya warga yang didorong oleh kebutuhan mendesak untuk menata lingkungan sekaligus mendapat dukungan pendampingan dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU V dan Pertamina Patra Niaga.
Program ini sudah mengubah lorong jalan semen yang semula gersang menjadi area yang asri dan tertata. Hamparan tanah gersang disulap menjadi instalasi hidroponik vertikal yang rapi. Sayur sawi, selada, tomat, dan bayam tumbuh gemuk memamerkan warna hijau menggugah selera.
Namun pemandangan asri tak terjadi begitu saja. Kawasan yang kerap disebut Asrama Bukit (Askit) ini dulunya seringkali membuat warga merasa gelisah. Sebab wilayah itu sebelumnya diidentikkan dengan lahan rawan longsor hingga tumpukan sampah.
Hijau dan asrinya perbukitan di RT 12 ini tak lepas dari kepedulian warga setempat yang tulus merawat lingkungan mereka. Di antara barisan tanaman itu, ada sosok Israni. Pada usianya yang menginjak 63 tahun, ia bukan sekadar anggota kelompok hidroponik biasa, melainkan motor penggerak bagi warga sekitar.

Pria yang dulunya bekerja di bidang elektrikal dan mekanikal ini berkisah seluruh perjalanan urban farming-nya ini sebenarnya berawal dari hal sederhana, yakni hobi mengulik tanaman di pekarangan rumah sendiri. "Karena hobi, memang saya dari rumah itu suka menanam, saya taruh di polybag, akhirnya di sini ada tanah kosong, saya cobalah di sini tanam-tanam itu, diajakin sama Bu RT," ujar Israni pada Rabu, (4/11/2026).
Semangat warga untuk bercocok tanam kini membuahkan hasil. Perkembangan pesat ini bermula sejak mereka mendapatkan pembekalan keterampilan dari Balai Latihan Kerja (BLK).
Mereka bergotong royong mendirikan instalasi hidroponik baru, membangun bank sampah, posyandu Mawar Harum, Apotek Hidup, hingga melengkapi berbagai fasilitas penunjang lainnya. “Kami mendapat bantuan berupa uang, lalu kami gunakan untuk membangun semua fasilitas yang ada,” jelasnya.
Sebagai satu-satunya pria diantara 16 kader PKK yang mengurus kebun, keahlian teknik masa lalu Israni sangat diandalkan. Merawat hidroponik di daerah perbukitan Balikpapan bukan tanpa tantangan. Israni harus rajin memeriksa kadar Total Padatan Terlarut (TDS) air dua hari sekali, menjaga PPM nutrisi di angka 900 hingga 1.200, dan memutar otak saat musim kemarau tiba.






Ketika pasokan air Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTDM) tersendat, warga harus patungan membeli air seharga Rp100 ribu per tangki agar tanaman tidak mati kekeringan.
Tantangan lain datang dari hama kutu hijau atau walang sangit. "Saya tidak mau semprot pestisida karena untuk makan sendiri, kasihan. Biar aja kalau dia kena penyakit, kita buang aja," ucap Asrani lagi.
Berdiri di ujung lapangan dekat posyandu, Israni tersenyum melihat tomat dan lombok eksperimennya mulai berbuah. Dari sebuah pekarangan rumah dan ketulusan hati seorang pensiunan swasta, sebuah bukit yang dulunya dihindari kini telah menjadi paru-paru hijau yang mandiri dan menyejahterakan.
Di tangan Israni, kreativitas memang tidak ada matinya. Mantan pekerja teknik ini juga pandai memutar otak untuk menyulap sisa makanan dan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik cair (POC) yang padat nutrisi.
Pria dengan senyuman hangat itu meracik formula khusus dengan memanfaatkan sampah organik yang mudah ditemukan di sekitar. Satu kilogram ikan busuk, segenggam beras, larutan gula merah, serta cairan mikroorganisme EM4 yang bertugas sebagai pengurai alami untuk mempercepat pembusukan pun dicampurkannya.
Ramuan hasil fermentasi juga tidak bisa langsung disiramkan begitu saja. Israni mengencerkannya dengan takaran yang pas, yaitu satu gelas air mineral untuk setiap 20 liter air agar media tanam tidak menjadi panas dan merusak akar. Bukan cuma pupuk cair, kotoran ayam harus difermentasi bersama gula merah dan EM4 untuk diolah menjadi pupuk kompos.
Setelah didiamkan selama 10 hingga 15 hari, pupuk alami yang ramah lingkungan ini pun siap ditaburkan untuk menyuburkan tanah di permukiman Askit.
Peran Israni sebagai peracik formula dan perawat instalasi ibarat mesin utama dalam ekosistem hijau ini. Tetapi, mesin terbaik pun tidak akan bisa berjalan jauh tanpa roda penggerak yang mengantarkannya ke tujuan. Di sinilah peran penting para ibu tangguh di Askit, salah satunya adalah Damyati.
Di usianya yang menginjak 47 tahun, Damyati bersama belasan kader PKK lainnya menjadi jembatan yang menghubungkan kebun vertikal ini dengan dapur-dapur warga. Berbeda dengan pasar modern di mana sayur-mayur sudah terbungkus rapi di dalam lemari pendingin, di lereng Askit ini, berbelanja sayur berubah menjadi sebuah pengalaman sosial yang hangat."Orang-orang di sini senang sekali kalau beli, karena mereka bisa petik sendiri, bisa langsung pilih sayur mana yang paling disukai dari batangnya," ujar Damyati dengan mata berbinar.
Harga yang murah dan jaminan kesegaran tanpa pestisida membuat lapak hidroponik ini selalu riuh. Begitu sayur memasuki usia matang, mereka harus bergerak cepat Pembagian tugas di dalam kelompok tani Asrama Bukit ini pun berjalan sangat alami dan didasari rasa saling percaya.
Sementara Israni fokus memikirkan urusan teknis seperti mengukur TDS air, mengawetkan sisa makanan menjadi pupuk organik cair, hingga mencatat arus keuangan kelompok, Damyati dan ibu-ibu lainnya menjadi garda depan dalam pemasaran.
Dibalik rimbunnya daun selada, ada kecemasan tersendiri yang mereka rasakan saat pemadaman listrik melanda perbukitan Balikpapan. Sistem hidroponik sangat bergantung pada pompa elektrik yang mengalirkan nutrisi secara terus-menerus. Saat arus listrik PLN terputus, aliran air otomatis berhenti. Dibawah terik matahari perbukitan yang menyengat, air di dalam pipa bisa memanas dengan cepat dan mengancam kelangsungan hidup tanaman.
Lebih dari sekadar hitung-hitungan rupiah yang saat ini baru cukup untuk membeli gorengan pengganjal lapar saat bergotong royong, kebun ini telah melahirkan sesuatu yang jauh lebih bernilai, sebuah ruang komunal di mana warga lereng bisa saling menyapa, berbagi senyum, dan memetik sendiri harapan hijau dari tanah mereka sendiri.
Pada balik barisan pipa paralon yang hijau dan deretan timbangan bank sampah, ada mata yang terus mengamati dengan penuh rasa bangga.
Ia adalah Muntiyati, seorang perempuan muda yang bertugas sebagai Pendamping Program di Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan.
Wanita dengan pembawaan ceria itu mengisahkan, langkah ini sengaja dipilih sebagai lokasi replikasi dari kesuksesan Program Kaliandra 1 yang sebelumnya telah berjalan di belakang apartemen Pertamina.
Pilihan lahir dari sebuah proses penilaian mendalam (assessment) sekitar delapan bulan yang lalu, ketika tim CSR Pertamina turun langsung memetakan wilayah Kelurahan Baru Ilir. "Saat pertama kali ke sini, kami melihat ada dua hal yang kontras, sebuah ancaman bencana, namun di sisi lain ada potensi manusia yang luar biasa," kenang Muntiyati.
Sebagai wilayah perbukitan curam di Balikpapan, Askit memiliki bayang-bayang risiko tanah longsor yang tinggi. Lahan lerengnya sempat terbengkalai dan menjadi tempat pembuangan sampah liar.
Di situlah justru ditemukan bara semangat yang menyala dari warga lansia seperti Pak Israni dan ibu-ibu kader PKK yang memiliki kecintaan mendalam pada dunia bercocok tanam. "Mereka seperti diberi pancingan sekali, tapi umpan itu langsung dijaga dan dilanjutkan dengan sangat konsisten. Itulah yang mengetuk hati kami di Pertamina untuk hadir mendukung semangat mereka secara jangka panjang," tandasnya.
Editor: Aspian Nur
1.226 kali dibaca

Pusat gempa berada di darat 40 km timur laut Sigi
04 Nov 2026, 14:56:34 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG