Penulis: La Eko
KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispustakar) Kota Balikpapan mendorong pengembangan budaya literasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Penulis: La Eko
KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispustakar) Kota Balikpapan mendorong pengembangan budaya literasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Literasi tidak lagi sekadar dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, menilai kebenarannya, serta menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Dispustakar Kota Balikpapan, Neni Dwi Winahyu, menempatkan perpustakaan sebagai salah satu sarana penting dalam membangun kebiasaan belajar di tengah masyarakat.
Menurutnya, keberadaan perpustakaan tidak hanya berfungsi menyediakan koleksi buku, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperluas wawasan dan mengembangkan kemampuan diri.
“Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi bagaimana seseorang mampu memahami informasi, berpikir kritis, dan mengambil nilai positif dari pengetahuan yang diperoleh. Hal ini penting untuk membentuk karakter generasi muda agar lebih terbuka dan bijak dalam menghadapi perkembangan zaman,” ujarnya, Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan, kebiasaan membaca dapat membuka kesempatan bagi seseorang untuk mengenal berbagai gagasan, pengalaman, dan sudut pandang.
Dari proses tersebut, masyarakat dapat belajar menghargai perbedaan, meningkatkan rasa ingin tahu, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Tantangan literasi semakin besar seiring perkembangan teknologi digital yang memungkinkan informasi tersebar dengan sangat cepat. Kondisi ini menuntut masyarakat agar tidak mudah menerima maupun menyebarkan informasi tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya.
“Di tengah derasnya arus informasi saat ini, masyarakat harus memiliki kemampuan untuk menyaring informasi. Jangan sampai informasi yang belum jelas kebenarannya langsung dipercaya atau disebarluaskan. Karena itu, budaya membaca harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis,” jelasnya.
Neni mengakui, pengembangan budaya literasi tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah maupun perpustakaan. Keluarga memiliki posisi penting sebagai lingkungan pertama dalam memperkenalkan kebiasaan membaca kepada anak sejak usia dini.
“Selain keluarga, sekolah, komunitas, dan lingkungan masyarakat juga perlu mengambil bagian dalam memperluas akses pengetahuan,” katanya.
Ketersediaan bahan bacaan yang beragam, ruang membaca yang nyaman, serta kegiatan literasi yang menarik dapat menjadi faktor pendukung dalam meningkatkan minat baca masyarakat.
Upaya tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan agar membaca tidak hanya menjadi aktivitas ketika dibutuhkan, tetapi tumbuh sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks pembangunan daerah, budaya literasi memiliki peran strategis karena kualitas sumber daya manusia turut menentukan kemampuan masyarakat menghadapi perubahan zaman.
Generasi yang terbiasa membaca dan mengolah informasi diharapkan memiliki kemampuan lebih baik dalam belajar, beradaptasi, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Keberhasilan membangun budaya literasi pun tidak cukup diukur dari jumlah koleksi buku maupun tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan. Lebih penting adalah bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat memengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku seseorang.
“Membaca memang tidak secara instan membentuk karakter. Namun, kebiasaan itu jika dilakukan secara konsisten dan disertai kemauan memahami serta menerapkan nilai-nilai positif dapat menjadi fondasi dalam melahirkan generasi muda yang berpengetahuan, berintegritas, kritis, dan memiliki daya saing,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Literasi tidak lagi sekadar dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, menilai kebenarannya, serta menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Dispustakar Kota Balikpapan, Neni Dwi Winahyu, menempatkan perpustakaan sebagai salah satu sarana penting dalam membangun kebiasaan belajar di tengah masyarakat.
Menurutnya, keberadaan perpustakaan tidak hanya berfungsi menyediakan koleksi buku, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperluas wawasan dan mengembangkan kemampuan diri.
“Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi bagaimana seseorang mampu memahami informasi, berpikir kritis, dan mengambil nilai positif dari pengetahuan yang diperoleh. Hal ini penting untuk membentuk karakter generasi muda agar lebih terbuka dan bijak dalam menghadapi perkembangan zaman,” ujarnya, Jumat (30/10/2026).

Ia menjelaskan, kebiasaan membaca dapat membuka kesempatan bagi seseorang untuk mengenal berbagai gagasan, pengalaman, dan sudut pandang.
Dari proses tersebut, masyarakat dapat belajar menghargai perbedaan, meningkatkan rasa ingin tahu, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Tantangan literasi semakin besar seiring perkembangan teknologi digital yang memungkinkan informasi tersebar dengan sangat cepat. Kondisi ini menuntut masyarakat agar tidak mudah menerima maupun menyebarkan informasi tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya.
“Di tengah derasnya arus informasi saat ini, masyarakat harus memiliki kemampuan untuk menyaring informasi. Jangan sampai informasi yang belum jelas kebenarannya langsung dipercaya atau disebarluaskan. Karena itu, budaya membaca harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis,” jelasnya.

Neni mengakui, pengembangan budaya literasi tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah maupun perpustakaan. Keluarga memiliki posisi penting sebagai lingkungan pertama dalam memperkenalkan kebiasaan membaca kepada anak sejak usia dini.
“Selain keluarga, sekolah, komunitas, dan lingkungan masyarakat juga perlu mengambil bagian dalam memperluas akses pengetahuan,” katanya.
Ketersediaan bahan bacaan yang beragam, ruang membaca yang nyaman, serta kegiatan literasi yang menarik dapat menjadi faktor pendukung dalam meningkatkan minat baca masyarakat.
Upaya tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan agar membaca tidak hanya menjadi aktivitas ketika dibutuhkan, tetapi tumbuh sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.







Dalam konteks pembangunan daerah, budaya literasi memiliki peran strategis karena kualitas sumber daya manusia turut menentukan kemampuan masyarakat menghadapi perubahan zaman.
Generasi yang terbiasa membaca dan mengolah informasi diharapkan memiliki kemampuan lebih baik dalam belajar, beradaptasi, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Keberhasilan membangun budaya literasi pun tidak cukup diukur dari jumlah koleksi buku maupun tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan. Lebih penting adalah bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat memengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku seseorang.
“Membaca memang tidak secara instan membentuk karakter. Namun, kebiasaan itu jika dilakukan secara konsisten dan disertai kemauan memahami serta menerapkan nilai-nilai positif dapat menjadi fondasi dalam melahirkan generasi muda yang berpengetahuan, berintegritas, kritis, dan memiliki daya saing,” pungkasnya.

Editor: Erwin




Pusat gempa berada di darat 7 km barat daya Samosir
30 Okt 2026, 17:29:39 WIB • Kedalaman 3 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG
