Untuk itu, pihaknya masih berupaya berkoordinasi dengan Badan Otoritas IKN terkait kepastian pasokan air bersih dari kawasan IKN untuk warga Kota Balikpapan.
Adi bilang, dari informasi awal yang ia terima, bahwa akan ada sekitar 500 liter per detik pasokan air yang akan dipasok ke wilayah Kota Balikpapan.
Namun dirinya belum mengetahui pasti apakah pasokan tersebut dalam bentuk air bersih atau air baku. “Kita juga kalau jadi belum tahu apakah itu dalam bentuk air baku atau air bersih. Dan kita juga masih proaktif untuk menanyakan ke PUPR seperti apa pasokan air yang akan diberikan tersebut,” ujarnya kepada awak media, di Balai Kota Balikpapan, Rabu (13/7).
Meski ada harapan akan ada penambahan pasokan air dari kawasan IKN, pihaknya tidak menjamin pasokan tersebut akan mencukupi kebutuhan air bersih di Balikpapan untuk jangka panjang.
Karena dengan adanya rencana pemindahan ibu kota negara, maka diperkirakan akan terjadi lonjakan jumlah penduduk di Balikpapan.
“Sekitar 500 liter per detik dari kawasan IKN tersebut itu bisa mengatasi dalam jangka pendek, dengan hitungan tersebut jumlah tersebut dapat mengatasi sekitar 60.000 pelanggan baru. Tapi kalau dengan ada hitungan bahwa kota Balikpapan ini akan ada penambahan jumlah penduduk dari 700 jiwa sampai dengan satu juta jiwa maka tambahan sebentar 500 liter per detik tersebut tidak akan cukup,” ujarnya.
Saat ini, kapasitas yang dimiliki oleh Perumda Tirta Manuntung sebagai operator air bersih hanya sebesar 1.510 liter per detik untuk mengcover 114.000 sambung atau sekitar 78% dari penduduk Balikpapan.
Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi Perumda Tirta Manuntung, dalam memenuhi kebutuhan air bersih di tengah ancaman lonjakan jumlah penduduk.
“Ini tentunya menjadi PR dan tantangan kita ketika terjadi gelombang migrasi penduduk akibat adanya IKN bagaimana nanti solusinya. Karena memang persoalan utama kita adalah ketersediaan air baku,” tandasnya.
Seperti diketahui, Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Balikpapan, jumlah penduduk pada 2022 ini mengalami peningkatan sebanyak 6 ribu jiwa.
Yaitu sebelumnya hanya 704.110 jiwa lebih dan saat ini telah mencapai 710.000 jiwa. Peningkatan jumlah penduduk ini disebutkan akan menjadi salah satu pemicu krisis air bersih di Kota Balikpapan.
Karena dengan jumlah penduduk yang ada saat ini, ketersediaan air bersih yang ada hanya mampu mengcover sekitar 70 persen, ditambah lagi minimnya ketersediaan sumber air baku.
Penulis: */Laeko
Editor: Supiansyah