Jumat, 09/02/2018
Jumat, 09/02/2018
OBJEK vital nasional di Balikpapan.(Foto: HO/MEDIAINDONESIA)
Jumat, 09/02/2018

OBJEK vital nasional di Balikpapan.(Foto: HO/MEDIAINDONESIA)
BALIKPAPAN - Berkurangnya dana perimbangan APBN membuat Pemkot Balikpapan harus mencari solusi lain, untuk menutupi defisit anggaran.
Salah satunya di sektor minyak bumi dan gas (Migas), di mana Balikpapan sebagai daerah pengolah minyak, seharusnya mendapat porsi lebih dibanding daerah penghasil.
“Risikonya daerah pengolah lebih besar, daripada daerah penghasil. Ketika ada kejadian seperti kebakaran itu lebih besar dari pada sumur minyak Karena di daerah pengolahan, kimianya lebih banyak,” kata Anggota Komisi III DPRD Balikpapan Maulidin, Kamis (8/2) pagi.
Oleh sebab itu, Maulidin mendesak Pemkot Balikpapan bersama DPRD untuk bisa melakukan lobi kepada pemerintah pusat, agar ada peningkatan pembagian keuangan sebagai daerah pengolah minyak.
“Seperti yang dilakukan oleh DPRD Bontang dan Wali Kotanya, di mana wilayahnya yang juga sebagai daerah pengolah migas ngotot memperjuangkan di DPR RI. DPRD dan wali Kota Bontang menganggap langsung dan dijanjikan akan diperhatikan porsi daerah pengolahan lebih besar. Saya harap bisa dicontoh yang dilakukan DPRD dan Wali Kota Bontang,” ungkapnya.
Dia mengingatkan, Presiden Joko Widodo menetapkan nahwa Bontang dan Balikpapan masuk dalam proyek strategis nasional, yang dimulai dari pengembangan kilang Pertamina Balikpapan dan peningkatan kilang Bontang.
“Wah di Bontang kontraktornya dari Oman, itu sudah merupakan bukti daerah kita sebagai penyuplai minyak yang ada di Indonesia. Jadi manfaatkan porsi pembagian keuangannya lebih besar,” ujarnya.
Dia meminta dalam waktu dekat harus ada langkah nyata, yang dilakukan Pemkot Balikpapan untuk berkoordinasi dengan pemerintah pusat.
“Wali Kota dan DPRD seharusnya bersama sama menghadap ke Kementerian, karena ada APBD kalau tidak di APBD Murni dan ya perubahan. Selain itu bisa ditanyakan terkait rencana revisi undang-undang tentang daerah pengolahan migas, mudahan revisinya menguntungkan kita semua, karena kita sedang defisit. Kalau penghasil sekira 20 persen dari pendapatan pusat, pengolah pastinya belum tahu cuma lebih tinggi dari pendapatan revisi nanti ini,” tandasnya. (yud)
Jumat, 09/02/2018
OBJEK vital nasional di Balikpapan.(Foto: HO/MEDIAINDONESIA)
TERPOPULER