Dorong Zero Waste Community, Tim Pengabdian RisetMu Wujudkan Integrasi Pengelolaan Sampah
2 menit baca0 kali dibaca

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Tim pengabdian masyarakat penerima hibah RisetMu Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKM) meluncurkan program Zero Waste Community sebagai langkah strategis menuju terwujudnya green campus.
Program ini diluncurkan sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi.
Dengan jumlah mahasiswa lebih dari 11.000 orang, aktivitas perkuliahan, terutama di area kantin dan pusat kegiatan mahasiswa, berkontribusi signifikan terhadap peningkatan volume sampah, khususnya sampah organik.
“Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan, kesehatan, serta menurunkan kualitas kenyamanan kampus,” ungkap Ketua Tim, Ratna Yuliawati.
Sejatinya Ratna tidak bergerak sendiri, melainkan dibersamai oleh beberapa anggota lainnya. Ratna selaku Ketua Tin sekaligus membidangi sektor kesehatan lingkungan, kemudian sebagai anggoa, Nur Fithriyanti Imamah di bidang keperawatan, Primadiyanti Arsela bidang pertanian dan Anis Siti Nurrohkayati pada bidang teknik mesin.
Mereka menginisiasi pengelolaan sampah organik ramah lingkungan yang meliputi budidaya magot (larva black soldier fly) sebagai solusi pengolahan sisa makanan, pembuatan kompos dari sampah organik, serta pembuatan lubang biopori untuk meningkatkan daya serap tanah sekaligus mengurangi limbah organik.
Ratna menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pengurangan sampah, tetapi juga pada pembentukan perilaku ramah lingkungan di kalangan sivitas akademika.
“Pengelolaan sampah bukan hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan pola pikir dan kebiasaan. Kampus memiliki peran strategis sebagai pusat edukasi dan teladan dalam praktik keberlanjutan,” ujarnya.
Sebagai terobosan lanjutan, pihaknya juga melakukan sosialisasi pemilahan sampah di lingkungan kampus, dengan fokus utama pada area kantin. Melalui kegiatan ini, pengelola kantin, pedagang, dan mahasiswa diedukasi untuk memilah sampah sejak dari sumbernya menjadi sampah organik dan anorganik.
“Sampah organik kemudian diarahkan untuk diolah menjadi magot dan kompos, sementara sampah anorganik dikelola secara terpisah,” tuturnya.
Program sosialisasi ini mendapat respons positif dari warga kampus. Selain meningkatkan kesadaran lingkungan, kegiatan ini juga membuka peluang ekonomi sirkular, seperti pemanfaatan magot untuk pakan ternak dan kompos untuk penghijauan kampus.
Melalui integrasi edukasi, praktik langsung, dan partisipasi aktif seluruh elemen kampus, program Zero Waste Community diharapkan menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan yang dapat direplikasi di perguruan tinggi lain.
“Ke depan, kami menargetkan kampus tidak hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai agen perubahan dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” tukasnya. (adv)
Editor: Faishal Ays










