Kegiatan tersebut dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional. General Manager BBE-KMIA, Reno Barus, mengatakan Bura Rescue Challenge telah memasuki tahun kedua pelaksanaan. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana untuk mengasah insting, keterampilan teknis, serta kesiapan mental tim ERT dalam menghadapi potensi kecelakaan di area pertambangan.
“Ini kali kedua pelaksanaan Bura Rescue Challenge. Tujuannya memang untuk mengasah kemampuan Emergency Rescue Team, dan memperkuat budaya K3 di perusahaan,” terang Reno.
Dalam kegiatan kali ini, ada 11 perusahaan yang ikut ambil bagian dengan mengirimkan tim terbaiknya untuk beradu kecepatan, ketepatan, dan koordinasi dalam skenario penyelamatan korban kecelakaan kerja.
Reno menerangkan, format kompetisi dipilih agar peserta merasakan tekanan yang mendekati kondisi darurat sebenarnya. Dalam waktu terbatas, tim dituntut mengambil keputusan cepat dan tepat, mulai dari komunikasi awal, pengamanan lokasi kejadian, hingga proses evakuasi korban, dengan tetap mengacu pada prosedur keselamatan.
“Kami buka dalam bentuk kompetisi supaya mereka bisa langsung mempraktikkan tanggap darurat. Dari situ bisa dievaluasi apakah penerapan SOP sudah berjalan dengan baik atau belum,” jelasnya.
Ditambahkannya, kegiatan ini dilakukan juga untuk mempertegas komitmen BBE-KMIA dalam menerapkan manajemen keselamatan dan budaya keselamatan kerja di lingkungan BBE-KMIA. Komitmen tersebut, lanjut Reno, tercermin dari capaian kinerja keselamatan perusahaan dalam lima tahun terakhir. BBE-KMIA mencatatkan hasil positif dengan capaian zero accident dan zero Lost Time Injury (LTI).
“Dalam lima tahun terakhir, kinerja keselamatan BBE cukup baik. Di KMIA zero accident, dan BBE zero LTI tahun lalu. Harapannya, capaian ini bisa terus dipertahankan,” tegasnya.
Di lokasi yang sama, Ketua Panitia Bura Rescue Challenge, Toha Fahrudin, menjelaskan bahwa kompetisi ini terdiri dari tiga jenis tantangan yang disusun berdasarkan risiko kecelakaan yang paling sering terjadi di area pertambangan batu bara.
Dalam setiap tantangan, penilaian tidak hanya berfokus pada kecepatan. Tim juri juga memperhatikan aspek komunikasi, teknik penyelamatan, proses evakuasi, hingga penanganan awal terhadap korban.
“Yang dinilai itu komunikasi, teknik penyelamatan, proses evakuasi, sampai penanganan atau reparasi korban,” tutupnya.