Keterampilan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreativitas atau dikenal sebagai 4C kini menjadi kemampuan dasar yang wajib dimiliki siswa.
Tanpa penguasaan keterampilan tersebut, generasi muda dinilai akan kesulitan menghadapi persaingan di tingkat regional hingga internasional.
Kesadaran itu mendorong SMA Negeri 10 Samarinda secara konsisten menggelar penguatan riset kolaboratif. Upaya tersebut kali ini mendapat dukungan langsung dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida).
Kepala Brida Kaltim, Fitriansyah menegaskan kegiatan seminar kolaboratif bertujuan menumbuhkan minat siswa terhadap dunia riset dan inovasi sejak dini.
Menurutnya, penguatan ekosistem riset di tingkat sekolah menjadi fondasi penting bagi lahirnya calon periset unggul di daerah.
“Harapannya, ke depan Kaltim memiliki generasi muda yang mampu berdaya saing dan berkontribusi bagi pembangunan daerah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Brida Kaltim secara rutin memfasilitasi lomba karya tulis riset dan inovasi bagi pelajar SMA se-Kaltim. Karya yang masuk akan diseleksi hingga terpilih peserta terbaik untuk memaparkan hasil risetnya di hadapan dewan juri.
Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi pelajar untuk mengasah kemampuan riset sesuai kapasitasnya, sekaligus memperkenalkan praktik riset yang lebih terstruktur. Program ini difokuskan pada skala daerah, namun membuka jalur pembinaan menuju tingkat nasional dan internasional.
Fitriansyah secara khusus mengapresiasi konsistensi SMA Negeri 10 Samarinda dalam pengembangan riset dan inovasi.
Dukungan Pemprov Kaltim terhadap riset kolaboratif tidak berhenti pada pelajar. Melalui berbagai program, pemerintah mendorong sinergi antara sekolah, perguruan tinggi, dan dunia industri guna membangun ekosistem riset yang berkelanjutan.
Langkah ini diharapkan mampu melahirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan daerah dan memperkuat daya saing sumber daya manusia (SDM) Kaltim di masa depan.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 10 Samarinda, Ni Made Adnyani, menyebut seminar riset kolaboratif merupakan bagian dari program unggulan sekolah yang telah terintegrasi dalam kegiatan intrakurikuler.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin dan terjadwal karena SMA Negeri 10 Samarinda memproyeksikan riset kolaboratif sebagai budaya akademik baru di lingkungan sekolah.
“Kegiatan ini terintegrasi dalam intrakurikuler dan menjadi program unggulan sekolah. Kami membuka ruang seluas-luasnya agar akademisi, peneliti, hingga teknokrat pemerintahan bisa hadir ke sekolah untuk berbagi inspirasi riset,” ujarnya.
Riset kolaboratif juga menjadi salah satu bekal penting bagi siswa yang berencana melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Karena itu, sekolah berupaya menanamkan budaya riset sejak dini melalui pendekatan kolaboratif.
“Ini kami bangun sebagai budaya baru di SMA 10, yakni budaya riset kolaboratif,” katanya.
Program tersebut diikuti seluruh siswa kelas X dengan jumlah sekitar 355 orang. Seluruh siswa dijadwalkan mengikuti kegiatan riset kolaboratif secara rutin setiap pekan.
Ia menambahkan, program ini mulai diterapkan secara penuh pada semester ini dan resmi berjalan sejak Januari 2026. Harapannya, siswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga pengalaman riset yang kuat sebagai bekal menghadapi persaingan global. (adv)
Editor: Erwin