Etwin Fibrianie S, Dita Andansari dan Fitriyani Arifin selaku narasumber yang diikuti peserta dari alumni Deskas Polnes sebanyak 5 orang.
Etwin menerangkan bahwa eceng gondok adalah tanaman air yang banyak ditemukan di perairan dangkal seperti rawa, danau, dan sungai. Pertumbuhannya yang cepat membuat tanaman ini sulit dikendalikan sehingga berpotensi mengganggu ekosistem. Pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku kerajinan dinilai menjadi solusi untuk mengurangi penyebarannya.
“Eceng gondok merupakan tumbuhan air yang sulit dikendalikan dan berpotensi merusak keseimbangan ekosistem perairan. Untuk mengatasi penyebarannya maka dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku produk yang bernilai ekonomi seperti kerajinan, dan produk lainnya,” ujar Etwin.
Menurutnya, produk dari eceng gondok tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, baik secara individu maupun kelompok usaha.
Para peserta mengikuti kegiatan dengan antusias. Mereka berharap pelatihan ini dapat menambah wawasan serta keterampilan dalam memanfaatkan limbah alam, khususnya serat eceng gondok.
“Dalam jangka panjang, keterampilan ini dapat membuka peluang usaha tambahan. Pada kegiatan ini, peserta berhasil membuat produk home decor berupa hiasan dinding,” tambahnya.
Cuaca cerah turut mendukung kelancaran kegiatan. Peserta pun merasa puas dengan karya yang dihasilkan dan berharap pelatihan serupa dapat kembali digelar untuk meningkatkan kemampuan mereka. (Adv)
Editor: Faishal Ays