Kegiatan ini merupakan penugasan dari Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAT) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan UNMUL sebagai penyelenggara wilayah LLDIKTI XI.
Program tersebut menjadi ruang pembelajaran sosial di mana mahasiswa dari daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) serta repatriasi dari luar negeri saling berbagi cerita, nilai, dan pandangan tentang Indonesia.
Rektor UNMUL, Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN Eng., menyebut kegiatan ini sebagai bentuk living classroom, kelas kebangsaan yang nyata, di mana nilai-nilai Pancasila dan semangat persatuan hidup melalui interaksi antarmahasiswa.
“Kita tidak hanya membicarakan nasionalisme, tetapi mengalaminya. Ketika mahasiswa dari Nunukan duduk bersama rekannya dari Tarakan atau Balikpapan, di situlah mereka belajar arti Indonesia sebagai rumah bersama,” ujar Prof. Abdunnur.
Ia menegaskan, pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab melahirkan generasi berilmu sekaligus berkarakter kebangsaan kuat.
“Pendidikan yang berkeadilan sosial seperti Adik ini adalah wajah konkret negara hadir di tengah anak muda dari wilayah terluar,” tambahnya.
Senada, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNMUL, Prof. Dr. H. Moh. Bahzar, M.Si., menjelaskan bahwa pendekatan kegiatan lebih menekankan pembentukan kesadaran sosial dan empati lintas daerah. Mahasiswa tidak hanya mendengar ceramah, tetapi juga berdialog dengan tokoh TNI, berlatih kepemimpinan, dan membangun rasa saling percaya melalui simulasi kebangsaan.
“Kami ingin mereka memahami bahwa Indonesia bukan sekadar batas wilayah, tetapi jejaring kehidupan yang saling terhubung. Dengan mengenal perbedaan, mereka akan lebih siap menjadi jembatan harmoni di masa depan,” terang Prof. Bahzar.
Salah satu peserta, Siti Nurfara Zila, yang merupakan repatriasi dari Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Malaysia, mengaku mendapatkan pengalaman emosional saat mengikuti kegiatan ini.
“Dulu saya hanya mengenal Indonesia lewat buku dan lagu. Sekarang saya bisa merasakannya langsung. Rasanya seperti pulang ke rumah,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Melalui kegiatan ini, UNMUL tidak sekadar menjalankan amanat pemerintah, tetapi memperluas makna pendidikan tinggi sebagai proses membangun karakter dan kebangsaan. Dari Balikpapan, semangat lintas budaya itu tumbuh, membentuk jejaring mahasiswa dari berbagai latar belakang yang siap menjadi pemersatu bangsa. (Adv)
Editor: Erwin