Kegiatan lintas mata pelajaran Seni Budaya, Sejarah, dan Bahasa Indonesia ini bertujuan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal sekaligus mengenalkan siswa pada warisan sejarah di Kecamatan Samarinda Seberang.
Dalam kegiatan tersebut, siswa mengunjungi Galangan Kapal Mangkupalas, Kampung Ketupat, Makam Daeng Mangkona, Masjid Shiratal Mustaqim, dan Kampung Tenun.
Mereka diajak berinteraksi langsung dengan masyarakat dan mengamati aktivitas budaya yang masih lestari hingga kini.
Koordinator kegiatan, Etty Wahyunani menjelaskan bahwa pembelajaran di luar kelas memberi ruang bagi siswa untuk memahami konteks kebudayaan secara nyata.
“Pengenalan budaya lokal ini mengasah kemampuan mereka memahami apa yang dikembangkan masyarakat. Melihat langsung di lapangan membuat pembelajaran lebih bermakna dan menjadi pemantik untuk memperluas pengetahuan,” ujar Etty.
Etty menambahkan, kegiatan Outdoor Study ini sempat vakum beberapa tahun dan kini kembali digelar sebagai bagian dari rangkaian Festival Bulan Bahasa dan Sastra.
Setiap peserta diwajibkan membuat artikel hasil observasi dari kunjungan mereka sebagai bentuk laporan pembelajaran.
Salah satu lokasi yang paling menarik perhatian siswa adalah Masjid Shiratal Mustaqim, masjid tertua di Samarinda yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Masjid yang berdiri di Kampung Bugis, Samarinda Seberang ini dibangun pada tahun 1881 oleh Said Abdurachman Assegaf atau Pangeran Bendahara, dengan dukungan Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman.
Bangunan masjid berdiri di atas lahan seluas lebih dari 2.000 meter persegi dan sepenuhnya terbuat dari kayu ulin, termasuk menaranya yang setinggi 21 meter. Desainnya memperlihatkan akulturasi budaya lokal dengan sentuhan Islam yang kuat.
“Akulturasi bisa dilihat dari menara, atap bertingkat, sampai ukiran yang semuanya sarat makna. Ini menarik untuk dipelajari karena menunjukkan perpaduan budaya yang hidup sejak dulu,” kata Etty.
Secara arsitektur, atap masjid terdiri dari empat tingkatan yang melambangkan perjalanan spiritual manusia dari syariat hingga makrifat.
Warna hijau, kuning, dan putih mendominasi interiornya sebagai simbol kemuliaan dan kesucian, sementara bentuk pintu kupu-kupu khas Kalimantan memungkinkan sirkulasi udara alami tanpa pendingin ruangan.
Seluruh elemen bangunan masih terjaga keasliannya hingga kini. Pada 2003, Masjid Shiratal Mustaqim bahkan meraih penghargaan sebagai peserta terbaik kedua dalam Festival Masjid-Masjid Bersejarah se-Indonesia oleh Dewan Masjid Indonesia.
Melalui kunjungan ini, siswa diajak memahami bahwa sejarah dan budaya bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi sumber nilai dan identitas.
Outdoor Study pun diharapkan menjadi pengalaman belajar yang melekat di ingatan siswa SMAN 10 Samarinda, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan kebudayaan Kota Tepian.
“Tujuannya supaya mereka tidak hanya tahu dari buku, tapi juga bisa melihat dan merasakan langsung bagaimana masyarakat menjaga warisan budaya mereka,” tutup Etty. (adv)