Politani Samarinda Edukasi Masyarakat Sungai Bawang Soal Pengolahan Singkong Gajah Jadi Tepung Mocaf
3 menit baca0 kali dibaca

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Samarinda sebagai salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Kalimantan Timur berkomitmen agar penerapan inovasi dan teknologi dari perguruan tinggi dapat menyentuh langsung kepada masyarakat.
Komitmen ini diwujudkan melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dengan mengangkat tema “Sinergi BUMDES dan Home Industry dalam Pengolahan Singkong Gajah menjadi Tepung Mocaf: Solusi Inovatif untuk Kemandirian Ekonomi Desa Sungai Bawang”.
Program ini didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI.
Tim pengabdian kepada masyarakat dipimpin oleh Adnan Putra Pratama, dengan anggota Ahmad Zamroni, Andi Lisnawati, dan melibatkan dua orang mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Hasil Perkebunan Politani Samarinda.
Kegiatan pelatihan dan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada Sabtu, 2 Agustus 2025 bertempat di Lamin Adat Desa Sungai Bawang.
Desa Budaya Sungai Bawang adalah salah satu Desa di Kecamatan Muara Badak Kutai Kartanegara dengan kearifan lokal budaya dan sektor pertanian yang sangat potensial.
Pengurus Bumdes Sungai Bawang, Kahang Lawai mengatakan masyarakat di desanya pernah membudidayakan tanaman singkong gajah, namun tak mendapat hasil yang baik.
“Kami pernah membudidayakan, tapi terkendala dalam hal pengolahan hasil dan pemasaran hasil taninya,” ungkap Kahang Lawai yang juga sebagai pengurus Pokdarwis Desa Sungai Bawang.
Ketua Tim PkM, Adnan Putra Pratama, menerangkan permasalahan ini menawarkan ide agar komoditas singkong yang ada di Desa Sungai Bawang dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah salah satunya menjadi Tepung Mocaf (Modified Cassava Flour).
Tepung Mocaf merupakan salah satu tepung bebas gluten berbahan baku singkong yang difermentasi dengan bakteri asam laktat yang memiliki nilai tambah yang tinggi dan bermanfaat bagi kesehatan dibandingkan tepung pada umumnya. Tepung mocaf dapat menjadi pengganti dari tepung terigu sehingga dapat diolah menjadi produk pangan seperti mie, pangsit, produk bakery, cookies, bihun dan lain-lain.
“Konsep ini dapat dikembangkan dengan melibatkan Bumdes dengan produksi skala Home Industry yang juga melibatkan ibu-ibu rumah tangga agar menjadi salah satu peluang ekonomi bagi masyarakat Desa Sungai Bawang,” tutur Adnan.
Pada program ini masyarakat dibekali peralatan yang diserah terimakan kepada mitra mulai dari mesin perajang singkong, cabinet dryer, mesin penepung (disc mill), sealer press serta perlengkapan pendukung lainnya.
Selanjutnya masyarakat dilatih untuk membuat tepung Mocaf mulai dari proses perajangan singkong menjadi chips singkong, proses fermentasidengan bakteri asam laktat menggunakan Bimo cf, proses pengeringan, proses penepungan, sampai pada proses pengemasan. Tidak sampai di situ, masyarakat juga dibekali dengan pengetahuan terkait proses pengurusan NIB (Nomor Induk Berusaha) dan P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga), sertifikasi halal sebagai legalitas dan perizinan.
“Ini untuk menjadi keamanan dari produk yang dihasilkan utamanya pada produk pangan,” ungkapnya.
Dengan pemahaman terkait legalitas, diharapkan masyarakat semakin termotivasi untuk mengembangkan produk tepung Mocaf di Desa Sungai Bawang dan menjadi branding kearifan lokal produk dari Desa Budaya.
Pihaknya berharap agar produk olahan mocaf ke depannya bisa dipamerkan dan dipasarkan pada kegiatan-kegiatan festival budaya yang menjadi agenda rutin di Desa Sungai Bawang sebelum masuk ke pasar yang lebih luas.
Selain itu pengembangan Home industry tepung mocaf ini diharapkan terus berkelanjutan hingga tahap penyempurnaan produk dan siap masuk ke pasar yang lebih luas serta dapat menjadi salah satu unit usaha bagi Bumdes dan menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat Desa Sungai Bawang. (adv)
Editor: Faishal Ays










